MENGAPA JADI KARYAWAN?

mengapa-jadi-karyawanKalau di posting saya yang terakhir kemarin adalah mengenai calon karyawan, kali ini saya ingin berbicara mengenai seorang pengusaha yang ingin menjadi karyawan. Nah lho? Seperti anda pikirkan, pada awalnya pun saya heran. Biasanya seorang karyawan berjuang untuk dapat membebaskan kehidupan rutin seharian menjadi seorang bawahan untuk bisa menjadi pengusaha. Namun rekan saya yang pengusaha ini malah memutuskan untuk menjadi karyawan. Bagaimana? Baik mari kita lihat ceritanya.

Awalnya teman saya ini – kita sebut Pak X – meminta saya untuk bisa membimbing menghadapi wawancara kerja. Saya heran, karena beliau ini seorang yang menyandang reputasi pekerjaan nggak main-main pada masa karirnya. Artinya mudah saja untuk dia mengahadapi wawancara kerja. Namun ternyata saat ini Pak X mengajukan lamaran kerja pada 2 kantor International level Non-Governmental Organization (NGO). Posisi yang di incar pun bagi saya tinggi, yakni seorang manajer wilayah. Karena jelas wawancara akan dilakukan dengan Bahasa Inggris, maka Pak X membutuhkan sedikit bantuan saya. Saya bilang sedikit, karena kenyataannya Pak X ini orang hebat dengan data resume yang kuat dan penuh dengan prestasi. Kita hanya punya waktu satu minggu training. Maka dengan intensif dan segenap usaha saya berusaha membantu Pak X sebaik-baiknya agar mampu mempresentasikan diri dan prestasinya in English of course.

Selama satu minggu saya sebenarnya memiliki satu pertanyaan yang hendak saya tanyakan pada hari terakhir training. Tepat pada hari terakhir, ternyata saya tidak perlu bertanya. Pak X justru menyampaikannya. Pak X menyampaikan kemungkinan sebuah pertanyaan pada saat interview mengenai posisinya yang telah memiliki sebuah usaha pribadi tepatnya sebuah perusahaan event organizer miliknya. Hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya ia telah memasuki kuadran seorang wirausahawan. Saya pun menyampaikan bahwa hal tersebutlah yang juga sangat ingin saya tanyakan kepada Pak X. Mengapa Pak X yang sudah menjadi pengusaha justru ingin membuka karir sebagai “karyawan” disebuah NGO?

Ini yang menarik. Jawaban Pak X membuat saya melihat sebuah contoh sebagai seseorang yang tidak selalu berada di comfort zone-nya. Bagi Pak X melangkah sebagai seorang pengusaha tetap menjadi pilihan besar hidupnya. Namun, prestasi, potensi diri dan motivasi tinggi dibidang community development dan livelihood program sebelum Pak X menjadi pengusaha mendorongnya untuk kembali ke dunia NGO. Minat tersebut telah membuatnya mengambil keputusan untuk menjadi “karyawan” disebuah NGO. Baginya, menjadi seorang pengusaha bukan menjadi akhir bagi seseorang mengaktualisasikan dirinya. “Lagi pula saya masih bisa kok memiliki perusahaan tersebut dan saya bisa mendelegasikan kepada orang lain untuk menjalankan perusahaan tersebut”, ujarnya.

Kebebasan finansial saya rasa menjadi cita-cita sebagian besar pengusaha. Besar ataupun kecil. Orang yang mengambil jalan wirausaha memiliki kebebasan untuk menentukan kapan dan bagaimana dia bekerja. Namun, menurut Ahman Sutardi, seorang pengusaha yang takut untuk melakukan ekspansi usahanya adalah pengusaha yang menciptakan zona nyamannya. Dia tidak akan berkembang. Demikian halnya karyawan, bila ia hanya merasa nyaman dengan pekerjaannya sekarang dan takut untuk memulai usaha atau meningkatkan kualitas karirnya, maka ia telah menciptakan zona nyamannya.(Ingin Cepat Sukses? Gunakan Formula Sukses Thomas Alva Edison, April 2008). Pak X memutuskan untuk mendalami kembali dunia community development dengan cita-cita besar untuk profesional dibidang tersebut dan kelak membangun NGO miliknya sendiri. Selain memuaskan hasrat keilmuannya di bidang tersebut, Pak X juga terus menerus untuk menggali potensi dirinya dan tetap pada obsesinya sebagai wirausahawan.

Terus terang, sebagai orang yang jauh lebih muda saya sangat terkesan dan termotivasi oleh semangat Pak X tersebut. Justru dalam waktu satu minggu tersebut saya banyak belajar dari Pak X. Belajar untuk tidak menciptakan zona nyaman. Zona yang merasa sudah cukup melakukan sesuatu. Zona tempat seseorang merasa tidak perlu mencari jalan lain memaksimalkan dirinya. Menjadi karyawan atau menjadi pengusaha adalah pilihan bagi setiap orang. Tidak ada yang salah. Hanya ketika memilih, menentukan langkah-langkah terbaik selanjutnya menjadi sebuah bab wajib yang harus ditulis oleh seseorang dalam lembar-lembar catatan prestasi kehidupannya.

SUKSES UNTUK KITA SEMUA!!!

Popularity: 2% [?]

You can leave a response, or trackback from your own site.

This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.

8 Responses to “MENGAPA JADI KARYAWAN?”

  1. [...] dunia usaha telah saya geluti beberapa tahun ini. Namun bukan berarti saya tidak menjadi karyawan. Saya menjadi karyawan bagi diri sendiri. Maka wajib bagi saya untuk menentukan langkah-langkah terba…. Saya pernah menulis, bahwa untuk bergelut didunia usaha seseorang harus memiliki banyak ide. Ide [...]

  2. aprillins says:

    Belajar untuk tidak menciptakan zona nyaman. Zona yang merasa sudah cukup melakukan sesuatu .. ini saya suka,,
    artikel yang bagus,,! ga sadar ada artikel ini hehehe.. keren juga si Pak X.. hebat.. huuhh, kalo saya sendiri kemampuan terbatas.. ga tau caranya untuk berkembang… sedihnya.. :(

  3. Anton says:

    Mneurut saya jadi pengusaha lebih enak … loh karena saya selama ini jadi karyawan terus … belum pernah merasakan jadi pengusaha !

  4. Basyarah says:

    Tulisan dan kejadian unik dan hebat dari seorang pengusaha.

  5. HowlingSpirit says:

    wah….baru mengikuti tp kayaknya…artikel2 ini bisa menjadikan “insight” bagi orang2 yang akan memasuki dunia kerja….

    sukses selalu!!

  6. ferdy says:

    @ Bet: iya, itu terserah pilihan profesional seseorang kok, makanya saya juga menulis dibaris-baris terakhir…terimakasih kunjungannya.

    @ Taktiku:..wah berarti anda pengusaha ya?..hehe..terimakasih commentnya.

  7. Bet says:

    kalau karyawan kan enak tidak ada teken kontrak berapa bulan paling PHK. . . . tapi sekarang pada menggunkan sistim kontrak

  8. Taktiku says:

    Kalau di Indonesia sepertinya kurang cocok untuk jadi karyawan, tapi kalau di luar sih bisa karena gajinya lumayan besar :D

Leave a Reply

Personal Relationships blogs & blog posts BlogRankers.com Blog Directory Small Business Blogs - BlogCatalog Blog Directory Blog Directory & Search engine
Powered by WordPress | Brand New Cheap Sprint Phones for Sale. | Thanks to Palm Pre Blog, MMORPG Wallpapers and Homes For Sale