Berbicara masalah ngobrol, saya ngobrol semalam dengan beberapa sahabat. Dua diantaranya Fian dan Arif. Mereka ini orang-orang yang cukup unik dan kreatif ketika melemparkan ide-ide atau gagasan. Meski unik dan kreatif, mereka kadang juga iseng mengeluarkan gagasan yang nyeleneh atau ngawur tapi berisi. Pernah suatu ketika mereka berdiskusi dengan topik apakah Amerika itu ada? Mereka menyimpulkan dengan gaya mereka sendiri. Mereka tidak percaya kalau Amerika itu ada. Nah lho? Saya bertanya-tanya, juga teman-teman yang lain. Mengapa Amerika tidak ada? Mereka beralasan bahwa Amerika ada karena hanya cerita di televisi saja. Atau dari tulisan-tulisan di lembaran koran harian disertai foto-foto (yang katanya juga “..katanya saja jepretan wartawan..!”). ???
Tanpa dijelaskan pun saya paham dan tertawa kecil atas keisengan cara berpikir mereka. Tentu saja dua sahabat saya tersebut tidak sebodoh itu menganggap Amerika tidak ada. Seperti waktu Arief berkata bahwa Sumatera tidak ada, dia kemudian mengklarifikasi bahwa Sumatera itu ada setelah dia melakukan perjalanan suci guna melamar kekasihnya untuk dijadikan istri di sebuah kota di Jambi.
“Sekarang aku percaya, kalo Sumatera itu ada. Aku sudah kesana”, ujarnya. Hahaha, lagi-lagi saya tertawa kecil.
Meski iseng, sebenarnya cara berpikir seperti ini bisa menjadi bahan pemikiran untuk kita. Mereka sebenarnya mewacanakan secara sederhana bahwa segala sesuatu yang kita dapat dari media massa perlu pembuktian. Buktinya pun harus dirasakan dengan segenap panca indera. Tidak hanya sekedar dari cerita. Apalagi cerita tersebut pun tidak pasti selalu benar. Bahkan seringkali dibesar-besarkan supaya laku beritanya.
Lalu siapakah yang bercerita dan mengabarkan berita? Tentu saja yang terdekat dengan kita sehari-hari adalah media massa. Media massa telah menjadi kebutuhan kita sehari-hari. Begitu dekat, bahkan kadang lebih dekat daripada anak-anak kita atau orang tua kita. Media massa banyak bercerita dengan jutaan kata hal setiap hari. Ceritanya pun sangat berpengaruh. Hampir segenap sendi kehidupan dipengaruhi olehnya.
Dalam Ilmu Komunikasi, ada teori klasik yang bernama teori jarum suntik (hypodermic needle theory). Teori ini mengatakan bahwa efek dari media massa kepada masyarakat adalah bersifat langsung. Begitu terkena berita atau tayangannya, masyarakat langsung terkena pengaruhnya. Persis seperti jarum suntik yang ditusukkan dokter kepada pasien: langsung menembus kulit, lalu segera menyebarkan cairan obatnya ke seluruh bagian tubuh. Meski teori ini dikritisi, karena menganggap masyarakat sebagai pihak pasif dan tidak punya daya tolak, tetapi fakta di masyarakat kita banyak menunjukkan kebenaran teori itu (Hidayatullah edisi Januari 2005, hal 19). Mereka banyak terpengaruh cerita yang menjadi berita.
Seringkali pula tanpa sadar alam pikiran masyarakat mengunyah berita sehari-hari dengan nikmatnya. Seperti dinamika politik yang terjadi beberapa bulan terakhir ini menjadi cerita yang sangat menarik dan produk media massa yang ampuh untuk selalu up to date. Padahal konon kabarnya berita dalam sebuah media massa bisa menjadi kendaraan sebuah partai politik untuk membangun opini publik. Namun saya tidak menuduh setiap jurnalis tidak objektif dan membohongi publik. Hanya sejak menjadi pendengar dan bersahabat dengan seorang senior di Aliansi Jurnalis Independen, pikiran saya menjadi sedikit lebih terbuka dengan cerita dan fakta-fakta.
Lebih parah lagi ketika sebuah media massa yang suka bercerita menganut aliran scandalous newspaper yang membeberkan “kaleng rombeng”, tak peduli skandal itu menyangkut ihwal yang terlalu pribadi. Keamanan pribadi, privacy yang tadinya dihormati kini diinjak-injak batang lehernya. (Mahbub Djunaidi, Asal Usul, Penerbit Kompas,1996). Newspaper diatas bermakna luas sekarang, karena gaya tersebut diadopsi televisi. Lihat saja, mengapa infotainment yang (KATANYA) diharamkan oleh MUI, masih laris manis dan tinggi rating siarannya. Padahal benarkah isi beritanya? Atau perlukah kebenaran skandal yang sangat pribadi dan menjadi ghibah terlarang, di suarakan keseluruh penjuru negeri? Perlukah anak-anak kita atau kita sendiri dicekoki cerita sinetron yang penuh intrik, kebencian dan pengkhianatan sebagai tayangan sebuah media yang selalu suka bercerita?
Jangan-jangan anda juga tidak percaya cerita saya ini.
![]()
Popularity: 1% [?]


Posted in
Tags: 








Aku ga bisa bilang apa2, setuju aje dech. Wah joss gandhos tenan, saluut…
wew.. kalo saya suka banget tuh sama sinetron apa lagi cinta fitri, infotainment juga eheehhehe.. ga da salahnya sih nonton sinetron, semuanya tergantung orangnya ajah. Kalo orang intelek ya, sebagai hiburan aja daripada suntuk baca buku terus. Masalah benar atau tidak itu belakangan, kalau serius ya silakan dibuktikan.. tetapi membuktikan itu menghabiskan waktu aja… jadi mending saya sih diambil senengnya, kalo dah seneng tinggalin jauh2 deh.. hehehe
Soal infotainment, memang sudah terlalu dominan unsur gosipnya ketimbang fakta. Tapi saya tetep suka kok nonton infotainment, terutama untuk mengikuti perkembangan dunia entertain Indonesia. Maklum, saya kan pemerhati dunia entertain tanah air. Kalo ga ada infotainment, susah juga kita dapet informasi seputar artis. Tapi saya juga kurang suka dengan materi infotainment yang terlalu menyentil kehidupan pribadi artis yang sebenernya kurang layak untuk dikupas dan diekspos.
Soal sinetron, emang sih, saat ini lebih dominan unsur intrik liciknya ketimbang edukasi atau hal-hal yang lebih positif. Mungkin itu karena para penulis skenario kita mau nyari enaknya aja. Soalnya ratting sinetron model begituan biasanya malah tinggi. Sedangkan sinetron yang lebih natural, wajar, dan nggak berlebihan biasanya malah kurang peminat (rattingnya rendah).
Jadi itu mungkin cerminan selera sebagian pemirsa yang masih suka dengan tontonan begituan kali yach
woow infotaiment wah gan saya ini paling nggak suka denga yang namanya gosi/(nggelendengi ) he he he
Memang tayangan infotainment di TV kian hari kian banyak saja begitu juga dengan penggemarnya, padahal tayangan itu ga mustu sama sekali
@ RACHEEDUS: Wah…si bapak benar-benar mantabh dan serius nih. Maturnuwun Pak, telah menegaskan cerita saya diatas.
@ annosmile: hehehe…saya juga ANTI INFOTAINMENT DAN ANTI SINETRON….
Pengetahuan kita tentang sesuatu memang bertingkat. Dalam diskursus tasawuf, ada ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, dan haqqul yaqin. Saat si Arif sudah memasuki Sumatera, menelusuri jalan-jalannya, bertemu langsung dengan orang-orang Sumatera di sana, makan dan minum di sana, maka Arif sudah berada di tingkat haqqul yaqin. Pada tingkat itulah, pengetahuan dan keyakinannya tentang keberadaan Sumatera sudah tak bisa diganggu gugat, meski dunia runtuh.
wew..gag suka infotainment
wkwkwkwk