Pagi ini loper koran langganan saya telat lagi. Jadi jadwal membaca pagi agak bergeser. Tapi tak masalah meski telat rasanya tetap nikmat, apalagi dengan secangkir kopi yang menemani. Kebiasaan menikmati pagi dengan lembar-lembar koran dan secangkir kopi kadang menyebabkan sahabat-sahabat saya yang bekerja di Jakarta menjadi iri. Karena bisa jadi mereka pada jam-jam itu sedang sibuk dan tergesa-gesa berangkat kekantor. Sehingga saat mereka berlibur ke Jogja dan tinggal ditempat saya, mereka heran dengan santainya saya. Maklumlah, saya kan usaha sendiri, kata saya kepada mereka. Toh, penghasilan sahabat-sahabat saya ini juga banyak yang jauh lebih tinggi dari saya yang masih jadi usahawan kecil ini. Jadi sebanding lah dengan semangat mereka dipagi hari untuk berlari dengan waktu.
Bekerja memang membutuhkan semangat. Semangat pun dibentuk atas dasar kecintaan terhadap apa yang dikerjakan. Seperti ketika seseorang yang jatuh cinta pada kekasihnya, maka dia akan melakukan apapun untuk membahagiakan kekasihnya, meski hujan badai, melewati gunung dan lembah, badan meriang apapun deh pokoknya.. “lebay (berlebihan) banget sih Om kata-katanya“, ujar keponakan saya. Hehehe, lebay atau tidak demikianlah kenyataannya. Ketika kita mencintai pekerjaan kita maka dengan sendirinya semangat bekerja akan muncul.
Meski demikian, mungkin kita akan dihadapkan pada kenyataan dan tantangan dalam pekerjaan. Hal-hal yang bisa jadi menurunkan semangat kerja kita. Sehingga suka tidak suka, mau tidak mau kadang kita harus tetap bekerja dengan kondisi yang tidak kita sukai. Banyak faktor yang mempengaruhi, kondisi kesehatan, lingkungan, dan biasanya yang paling berpengaruh adalah rekan kerja. Apalagi ketika harus banyak berhubungan dengan banyak orang berbeda dan berbagai macam karakter. Apapun kerja kita, bekerja untuk orang lain ataupun berbisnis sendiri.
Saya sendiri mengalami pasang surutnya semangat untuk berkarya dan bekerja. Namun ada satu kalimat menarik yang saya baca di novel The Adventures of Sherlock Holmes koleksi lama saya, yang membuat saya senantiasa berpikir dua kali untuk menyerah pada menurunnya semangat kerja.
MANUSIA ITU TAK BERARTI APA-APA,
PEKERJAANNYA ITULAH YANG MEMBUAT HIDUPNYA BERARTI
Demikian kalimatnya. Singkat saja, namun menyadarkan kita betapa berharganya nilai kehidupan kita dengan apa yang kita kerjakan. Kenyataannya memang betapa berartinya kita dengan kerja-kerja dan karya-karya kita. Apalagi kerja dan karya kita bermanfaat untuk orang lain. Sekali lagi mengingat posting saya lalu tentang Bung Enda, BAHWA KITA BERHARGA DAN BERNILAI. Mari kita hargai diri kita dan buat hidup kita lebih berarti. Semangat!!!
Popularity: 1% [?]


Posted in
Tags: 








Hi
Salam Kenal dari kejauhan …. Setuju betapa pentingnya bila membuat hidup ini berarti bagi diri sendiri dan bagi orang laen… Silakan mampir di pondok ku yang jauh di kawasan timur Indonesia….. sukses buat Anda..
@ bukan kyai: betul..betul
@ aprillins: OK deh…sepakat untukmu.
hmm menurut saya sih.. tidak hanya pekerjaan yang membuat hidup ini berarti, tetapi juga cinta dari orang tua, saudara, istri, anak, dan masyarakat. Jika semuanya bersinergi akan terciptalah kedinamisan, entah itu berupa konflik atau kebahagiaan, di situ manusia belajar menjadi berarti
Ini selaras dengan bahasa yg ada d dlm ajaran agama :
“sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan kemanfaatan kepada sesamanya”
@ itempoeti: Terimakasih..mari berkarya
@ wempi: hmm..kuat juga maknanya
nilai manusia = zakat fitrah.
Salah satu kunci kesuksesan adalah ketika kita mencintai apa yang kita kerjakan…
Kualitas kemanusiaan seseorang ditentukan oleh karyanya…
Keep on the track Broo…