Menjelang tidur semalam, saat mata sudah hampir terpejam karena kelelahan seharian, saya buka SMS yang masuk menyapa.. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, bapak kita tercinta, Harwanto Dahlan”…demikian baris-baris SMS tersebut mengejutkan saya dari kantuk yang mendera. Bapak meninggal pada pukul 19.50 WIB, hari Kamis (30/04/2009) di Jogja International Hospital. Berlanjut kemudian beberapa SMS dari teman-teman kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dahulu, masuk satu persatu. Akhirnya semua teman yang masih berada di Yogyakarta saling bertukar informasi dan saling janji untuk bersama-sama takziah esok hari. Sejujurnya beberapa hari yang lampau, saya telah mendengar kabar bahwa beliau sedang dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta, akibat usus buntu. Maksud hati ingin menengok, namun saya malah mendapat kabar duka. Sungguh menyesal saya menunda menengok Bapak.
Bapak Drs. Harwanto Dahlan, MA. Adalah salah seorang dosen senior di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Beliau terkenal mengajar beberapa mata kuliah penting yang wajib diambil oleh mahasiswa di Jurusan Hubungan Internasional. Beliau mengajar setiap mata kuliah dengan gaya yang sangat menyenangkan, full humor, tanpa meninggalkan nilai-nilai intelektualitas. Tak heran, seingat saya, setiap kelas beliau tidak pernah sepi dari mahasiswa. Selalu saja kursi kuliah menjadi penuh setiap kelasnya. Karena kami memang menikmati setiap perkuliahan yang diberikan oleh lulusan Universitas Gajah Mada dan North Eastern University, Boston, Massachusetss, USA ini.
Diluar ruang-ruang perkuliahan, beliau kerap saya temui sedang berbincang-bincang dengan mahasiswanya. Perbincangan seputar perkuliahan, diskusi keilmuan yang kemudian selalu dibumbui humor plesetan segar yang menjadi ciri khasnya. Tanpa menunjukkan superioritasnya sebagai seorang dosen, beliau selalu hangat dengan mahasiswa. Sehingga teman-teman kuliah saya yang putri senang menyebut beliau dengan sebutan “bapak” saja.
Selain mengajar di UMY, beliau juga terkenal sebagai moderator ulung dan pembicara di seminar-seminar dan talkshow. Mungkin karena kocak dan cerdasnya itu ya. Wajahnya pun kerap muncul di TVRI Yogyakarta, pada acara komedi situasi bergaya budaya Jawa, bertajuk pangkur jenggleng. Walhasil dia juga menyebut dirinya seorang entertainer. Kalangan jama’ah majelis taklim dan pengajian-pengajian di Yogyakarta pun banyak yang mengenal beliau, sebagai pembicara. Terakhir kali saya dengar beliau juga serius berkolaborasi bersama Emha Ainun Najib dalam acara-acara dakwahnya.
Mungkin saya tidak begitu banyak mengenal beliau. Namun saya pernah dekat dengan beliau. Antara tahun 2000 hingga 2002, saya pernah bekerja bersama-sama beliau di beberapa konferensi internasional. Beliau seorang pekerja keras seingat saya, sebagai orang yang menjabat posisi penting di beberapa acara tersebut. Beberapa kali beliau memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi liaison officer di acara-acara internasional tersebut. Acara-acara yang memang pada dasarnya menjadi pengalaman praktis penting untuk saya yang belajar di Imu Hubungan Internasional. Kecerdasan, semangat dan humornya senantiasa mewarnai seluruh komponen panitia di acara-acara tersebut. Sayang, beberapa tahun kemudian saya sibuk dengan pengembangan diri lainnya. Sehingga lama tidak lagi bersilaturahmi dengan beliau.
Hari ini saya merasa kehilangan seorang “guru”. Seseorang yang pernah menjadi teman baik saya dan banyak sahabat-sahabat lain yang pernah menjadi “muridnya”. Hari ini banyak juga warga Jogja yang turut berduka. Namun semoga kedukaan ini pun menjadi hikmah yang mendalam. Hikmah bahwa segala sesuatu kembali kepada Alloh SWT.
Bapak Harwanto Dahlan…Selamat Jalan. “Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu”
Popularity: 1% [?]



Posted in
Tags: 








[...] juga mengingat seorang “guru” kami yang hebat, almarhum Bapak Harwanto Dahlan, ia juga [...]
wah turut berduka cita mas
semoga amal perbuatannya diterima di sisi Allah SWT amin.. . 3x dan buat keluarga yang ditinggalkan semoga mendapat ketabahan.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa2nya dan menerima amal ibadahnya…
Semoga jalan Beliau dimudahkan oleh Allah SWT, Amiiin ..
hmm.. wah dosen muda yang cerdas tersebut sudah dipanggil olehNya ya.. apa boleh buat. Tetapi yang jelas beliau sudah melakukan kewajibannya sebagai dosen yang baik, yaitu membimbing anak didiknya. Salah satunya mas adi ini, kalau dosen tersebut tidak baik mana mungkin mas adi menceritakannya di sini.
eh.. ada hanni..
kunjungan balik dan perdana. strangers kata si bule lho, sohib kaget (alias baru ketemu) kata orang kita,heheheh. salam kenal juga
.