Setiap hari kita memainkan peran yang berbeda-beda dalam kehidupan. Sebagai seorang pribadi, suami atau istri, orang tua, karyawan atau pimpinan. Tergantung waktu dan tempat kita berada. Untuk menghasilkan penampilan terbaik maka kita dituntut untuk menghayati peran tersebut sebaik-baiknya. Demikian pengatur peran terbaik yang menguasai jagat raya beserta isinya, yang kita sebut TUHAN, menitahkannya. Kenyataannya penghayatan peran tersebut membutuhkan latihan yang cukup lama dan harus dimulai kapanpun juga, untuk mencapai hasil yang terbaik. Dalam prosesnya, setiap peran akan memiliki tantangan dan persoalan masing-masing. Tentunya hal tersebut membutuhkan suplemen tambahan bernama kesabaran.
Karena bukan hanya kita yang memiliki peran didunia ini, maka kita akan bertemu dengan peran-peran yang lain. Ada yang memiliki peran yang sama, ada juga yang berbeda. Hal yang kemudian dianggap menjadi sebuah persoalan adalah ketika seseorang menganggap peran dirinya adalah yang terbaik. Lalu dia menganggap peran orang lain tidaklah penting atau tidak sebaik dirinya. Kacamata kebijaksanaan perlu dipakai untuk menghadapinya.
Kita misalkan ada dua peran disini, yaitu Peran A dan Peran B. Ada dua hal yang harus menjadi bahan pemikiran kita. Yang pertama, bahwa Peran A yang menganggap dirinya terbaik dan menganggap Peran B tidaklah penting adalah sebagai sebuah virus dan menjadi penyakit yang kemudian menjangkiti Peran A, bernama kesombongan. Kejadian yang sebenarnya banyak terjadi disekitar kita kan? Mungkin hal tersebut biasa terjadi, namun kesombongan telah membawa setan sebagai makhluk tercela ketika menganggap dirinya lebih mulia dari Adam dihadapan Tuhan.
Pera semacam ini tidak pantas untuk menghuni jabatan pemimpin sebuah kelompok yang sejatinya tidak akan mampu mencapai kesuksesan kolektif bila tidak ada kerjasama yang baik antar peran dalam kelompok tersebut. Sebuah kelompok tidak hanya terdiri dari sebuah peran bernama pemimpin. Karena ia membutuhkan peran lain bernama anggota kelompok. Sekali lagi kesuksesan yang didapatkan adalah kesuksesan kolektif, bukan hanya milik pimpinan. Seorang pimpinan tidak akan sukses tanpa ada yang mendukungnya. Peran pemimpin akan mati bila ia tidak memiliki seorangpun anggota. Maka keduanya harus bersinergi bersama.
Kedua, mengkaji hal diatas maka jelas relevansi antara peran dan pendapat. Peran A telah berpendapat bahwa Peran B tidak penting dan tidak baik. Meski hal tersebut adalah sebuah kesombongan, Peran B harus mampu melakukan evaluasi terhadap peran yang dilakukannya. Sudahkah ia memenuhi standar penghayatan peran terbaik? Sudahkah Peran B bekerja keras untuk memenuhinya. Walaupun menyakitkan, Peran B telah mengizinkan Peran A berpendapat negatif tentang dirinya. Maka sudah saatnya Peran B menstimulus dirinya untuk melakukan hal positif dan melompat lebih tinggi. Jangan membuat orang lain tetap berpendapat negatif tentang kita.
Untuk saat ini dan seterusnya dimasa yang akan datang, lakukanlah sekecil apapun peran kita dengan kesungguhan sebesar-besarnya lalu perhatikan apa yang terjadi.
* Sebuah catatan sederhana setelah menonton sebuah “Peran” Mario Teguh dalam Golden Ways, Minggu, 3 Mei 2009
Popularity: 1% [?]


Posted in
Tags: 








@ all: terimakasih commentnya..memang benar, berbagi peran…
siip..berbagi..berbagi..n terus berbagi..karena kita belum memiliki apa – apa sebelum kita bisa berbagi..ditunggu tulisan selanjutnya bro.
Intinya adalah kerjasama antar peran. Saling melengkapi untuk menjadi lebih baik
Saya pilih lagu Goodbless … Panggung Sandiwara
Yang paling penting kita harus tahu apa peran kita sesungguhnya. Jangan sampai kita salah peran…
tak pikir wekekekekekekeke ngakak diriku malahan
@ suwung: contoh kang..contoh gitu loh..hehehe
weh peranan s alias soewoeng apa ya? kok a dan b ajah?