Saat saya mendiskusikan tulisan kemarin tentang menjual ide, kakak ipar saya -mas Untoro Wahyu Prasetyo- kemudian bercerita tentang seorang pengusaha ikan gurami. Dia ini sudah 11 tahun menjadi pengusaha ikan gurami, namun banyak terbentur dengan persoalan modal. Suatu ketika ia bergabung dengan Entrepreneur University milik Purdi Chandra, seorang pengusaha lembaga pendidikan yang sukses. Ketika bertemu Purdi Chandra, ia kemudian hanya di sentil dengan kalimat sederhana, “Mengapa kamu tidak jual saja ilmu usaha gurami itu?”, ujar Purdi Chandra.
Singkat cerita, mulailah ia mewujudkan ide tersebut untuk mengadakan pelatihan usaha perikanan gurami dan perdagangan gurami. Saat ini ia justru mampu mengembangkan usaha guraminya jauh lebih luas dan lebih besar. Peserta pelatihannya terus bertambah dan dari berbagai macam latar belakang. Tentunya para peserta yang belajar padanya akan mencari segala kebutuhan untuk berbisnis gurami kepadanya. Pengusaha gurami tersebut menemukan faktor kali disini. Pertumbuhan bisnis guraminya semakin besar dan luas di Jawa dan Kalimantan. Dahulu mungkin dia tidak pernah berusaha membayangkan bahwa berjualan gurami ada hubungannya dengan pelatihan. Sampai akhirnya dia mendapatkan inspirasi tersebut dari seorang pengusaha yang sukses yang pastinya telah menjadi seorang ahli untuk menghubungkan satu ide dengan ide lainnya.
Saat menulis posting ini saya kemudian teringat dengan sebuah buku bagus tentang ide dan kreativitas berjudul Head First karya Tony Buzan. Dalam bukunya dia mengajarkan permainan “segala sesuatu saling berhubungan”. Ini adalah bagian dari kreativitas. Contohnya adalah bagaimana kita mampu menuliskan ide sebanyak-banyaknya dari apa yang kita pikirkan terhadap sebuah penjepit kertas! Seperti diatas, si pengusaha gurami tersebut berhasil menghubungkan antara usaha penjualan gurami dan konsep pelatihan.
Anda mungkin telah membaca posting saya tentang Asep, seorang penjual burjo dan mie instan. Saya jadi berpikir, meski Asep termasuk orang yang progresif karena mampu membuka cabang burjonya sampai 4 warung, bisa jadi dia akan lebih hebat dengan menjual ide suksesnya berjualan burjo …hehehehe. Who knows??? Iya kan?
Hal lain yang saya hikmati dari Asep adalah meski dia tidak pernah membaca buku-buku karya trainer terkenal atau ikut pelatihannya Tung Desem Waringin, dia berusaha mengembangkan apa yang dia miliki dari warung burjonya sebaik-baiknya. Sehingga dia tidak terjebak pada rutinitas yang tidak menguntungkannya. Kerja keras dan hematnya membuat dia setahap demi setahap membangun mimpinya. Bayangkan kalau Asep cuman pasrah berjualan di sebuah warung kotrakan begitu-begitu saja.
Nah, siapa tahu ada banyak hal yang belum kita pikirkan dan kita gali dari lingkungan sekitar kita. Siapa yang akan tahu kalau kita akan sukses kalau bukan kita sendiri. Wahai saudara-saudara pembaca…siapa tahu kita bisa kerjasama…..karena kita saling berhubungan..! ^_^
Popularity: 3% [?]


Posted in
Tags: 








[...] segala sesuatu saling berhubungan, kita pun membutuhkan orang lain. Menuntut diri kita untuk bersikap sebaik-baiknya dengan orang [...]
@ Indonesia Menulis: Mari-mari kita saling bekerjasama.
Berjualan gurami ada hubungannya dengan konsep pelatihan, membaca tulisan anda saya tambah menyadari memang segala sesuatu ada hubungannya, seperti mata rantai. Namun kadang setiap orang dibutakan akan keterkaitan ini, semoga saja kita bisa menjalin kerjasama yang baik. Karena kita saling berhubungan.
@ itempoeti: siap Pak, saya setuju dengan comment panjenengan..:-)
@ aprillins: ya gitu dong bro, ilmumu akan sangat bermanfaat..
@ iskandaria: ya begitu Mas.
Intinya emang harus kreatif yach mas buat nyari celah atau peluang. Sip deh. Thx buat tulisan inspiratifnya.
wah.. satu lagi posting yang inspiratif… di sini saya jadi merasa tersindir juga.. hahahhaha, benar juga yah.. saya banyak pengetahuan tentang web programming, kenapa saya ga tulis jadi buku aja ya… sip sip!
Setuju…
Di dunia ini tidak ada yang independen. Semua saling interdependensi.
Karena semua berada di satu kesatuan ruang, waktu dan energi yang sama. Tidak berada di ruang hampa yang steril dan bebas nilai.
@ Racheedus: Sepakat Pak…!
@ DV-Donny Verdian: iya ya, nama kita mirip…hehehe. Sukses selalu untuk anda juga.
@ WAHYU: Ah..sang sahabat berbincang, sumber tulisan ini comment..!hehe..terimakasih Pak, hmm jadi Buku ya…we will see…
Mas Ferdian (nama kita kok hampir sama ya hehehe),
saya suka nafas cerita ini! Betul, semua yang dimanfaatkan dari “apa yang ada” itu sangat bagus, menarik, alami dan kesannya tak kan pernah habis!
Sukses selalu!
siip.tulisan udah kubaca pak. semoga semakin produktif dan pencerahan ke semuanya melalui banyak tulisan yang jenengan hasilkan. Jangan lupa, kapan target tulisan2 tersebut dibukukan dan menjadi kumpulan cerita cerdas, inspiratif dan motivasional. Kan jadi lebih produktif…….
Pantes. Lagi gandrung dengan ide, to? Tapi, memang betul. Kehidupan ini saling kait-mengait. Bahkan tubuh kita sendiri adalah hasil kerjasama amat rumit dari jutaan bahkan miiyaran sel.
@ Pak Ersis: that is deep….
@ Yuyun : waduh..jangan ditantang pembacaku..ntar terjadi pertempuran…tapi bagus ding..
“segala seluatu berhubungan”..bingo..tulisan ini pun berhubungan dengan pengalaman saya (kl enggak, asimsikan saja begitu..hehe..). pernah saya ditanya seorang teman:
“apa beda pintar dan cerdas?”
“hm..pintar itu banyak tau, kalo cerdas mampu menghasikan sesuatu dari pengetahuannya”
“caranya?”
“ya menghubung – hubungkan pengetahuannya, menjadi sesuatu”
agap lah pendapat saya ini benar dan selanjutnya sekarang saya tantang para pembaca yang merasa cerdas untuk membuktikan pendapat saya ini..!!! saya pun akan membuktikan.
Seperti air … akan menyatu dan jadi dahsyat bila saling bertaut …