Ya, semua juga tahu kalau ini hari minggu. Biasanya saya hanya ada dirumah atau mengunjungi keluarga terdekat. Tetapi hari ini, saya bersama beberapa sahabat dari ELDATA berangkat menuju Hutan Wisata Kaliurang, sekitar 25 kilometer sebelah utara Jogjakarta. Tujuan kami bukan untuk bersenang-senang. Meski terus terang saya sangat senang bisa kesana, karena kesejukan tempat dan lingkungan yang jauh dari polusi.
Kami hendak melaksanakan survey lapangan guna persiapan project outbound training, yang rencananya akan dilaksanakan satu minggu lagi. Outbound training tersebut akan diikuti 74 mahasiswa dari Eropa dan Amerika serta beberapa negara lain yang sedang mengikuti Summer School di Jogjakarta. Jadi persiapan kami harus matang.
Setelah melewati kepadatan lalu lintas menuju Hutan Wisata Kaliurang, akhirnya kami sampai dan segera menuju jalur lintas menembus hutan menuju lokasi yang menjadi tempat utama pelaksanaan outbound training tersebut. Perjalanan menembus hutan ini sangat saya sukai. Rasanya segar sekali mengisi aliran darah dan otak dengan oksigen baru yang segar.
Ternyata sudah lama saya tidak berkunjung kesini. Tidak banyak yang berubah dari Hutan Wisata Kaliurang ini. Hanya saya merasa agak sedih dengan perilaku sebagian pengunjung yang tidak berubah dari tahun ke tahun. Mereka yang menikmati keindahan hutan dan membawa banyak bekal tidak memperdulikan kalau sampah dari bekalnya bertebaran dimana-mana. Bungkus-bungkus makanan kecil dan plastik membuat pemandangan tidak nyaman. Seperti biasa sembari berjalan kami membersihkan sampah-sampah tersebut.
Saya masih ingat sekali, saat menangani outbound training yang sama tahun kemarin, seorang mahasiswa asing mengkritik kondisi hutan Kaliurang yang banyak dengan sampah bertebaran. Sampai dia bertanya mengapa kalian membiarkan orang membuang sampah sembarangan. Saya malu menjawabnya, karena orang-orang yang membuang sampah itu adalah saudara saya orang Indonesia juga. Mereka menangkap citra kebiasaan yang buruk dari orang Indonesia. Huuf..sayang sekali.
Sampai di wilayah Kalikuning, kami memetakan tempat yang akan digunakan untuk rappelling, flying fox dan beberapa game kecil. Sambil kemudian beristirahat di pinggir sungai kecil, Rian, seorang sahabat juga bertutur perubahan pada sungai tersebut. Tidak jauh dari kami terdapat bendungan air berukuran sedang. Dahulu menurut Rian, bendungan tersebut seperti sebuah danau. Hendra, kemudian juga menimpali kalau dahulu ia bisa berenang di sungai kecil disebelah kami. Saat ini sungai tersebut hanya sebatas tulang kering kaki kami.
Debit air yang sangat jauh berkurang tersebut adalah karena pipa besar perusahaan air minum yang kemudian menghegemoni penggunaan air sungai tersebut. Bisa jadi memang karena itu menjadi sebuah kebutuhan mendasar, namun sayang sekali penggunaannya jelas telah merubah habitat asli yang ada. Tidak tahu nanti bagaimana akibat selanjutnya dengan semakin mengeringnya sungai tersebut.
Saya merenung dan belajar dari perjalanan singkat di alam hari ini. Kita bisa jadi sangat tidak adil terhadap alam. Padahal alam telah memberi kita begitu banyak hal. Mungkin dari hal-hal sederhana kita bisa memulai menghormati alam. Seperti trend yang populer akhir-akhir ini, tidak perlu kita berteriak-teriak mengenai masalah global warming atau hal-hal yang berbau “green” dan “eco-…”, kalau kita tidak berusaha memulai dari hal yang sederhana dari lingkungan sekitar kita. Sampah misalnya.
Mari bersahabat dengan alam.
Tags: alam, amerika, Eropa, flying fox, game, global warming, hutan Kaliurang, Hutan Wisata Kaliurang, Indonesia, Jogjakarta, outbound training, project, rappelling, Summer School, survey






seperti apa yaahhhh Kaliuranghari ini?
dulu pernah ngumpul bareng anak-anak mahasiswa asal cilacap di sana; kangen juga dengan penjual pisang emas yang kuning2.
masalahnya begitu sulit menemukan tempat sampat di hutan kaliurang n tidak semua orang rela untuk membawa menyimpan sementara di tas dan membawa kembali sampah yang mereka hasilkan
yah, gitulah mas… bukan indonesia kalo ga punya sampah yang bertebaran dimana-mana.. bukan juga indonesia kalo punya kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan..
dan bukan orang indonesia kalo ga sayang sama air, kayu, dan macem-macem yang bisa habis…
berdoa saja, semoga efek global warming lama bisa sampai ke Indonesia..
ya.. begitulah.. menyedihkan juga.. tetapi tentang hal ini sudah saya tuturkan di posting bulan april lalu hehehe ini dia
http://aprillins.com/2009/04/0.....ikan-bumi/
oh iya terakhir saya berwisata ke kaliurang, saya diusir sama 1 monyet yang sepertinya dia adalah raja di situ..
dari pada saya dicaakar mending saya pergi..hehuheuhe