Baru sepenggal musim rasanya mendekap hasrat cinta pada kata-kata. Jadi tak layak rasanya mereguk rasa puas seketika. Sementara begitu banyak cerita, citra, sekejap inspirasi pada laku manusia, sampai sebait lagu yang mengait jiwa belum tertoreh tinta pada lembar-lembar kelana diri. Kata-kata bahkan lebih luar biasa dibanding slide-slide gambar rekaman sejarah. Maka bangkit dan mengolahnya, seperti para petani bersahaja khidmat menjaga sawah-sawah kita tetap tegak dan menghidupi anak-anak bangsa. Menulis telah menyalakan pelita dalam jiwa. Bergairah untuk menerangi dengan baris-baris kata, laksana matahari yang menghampiri bumi dengan cahaya cintanya. Begitu mencerahkan. Begitu hidup.
Ketika mata terbuka disanalah letak gerbang menuju dunia untuk menghimpun makna. Meresapi setiap perjalanan dan pengalaman membuat kita semakin kaya dengan bahan untuk merangkai kata-kata. Sepanjang diri belajar dan mengajari diri. Kebebasan kita menentukan kemana kita bercerita. Kekuatan menghayati peran pada penulisan menjadi langkah berarti pada penerimaan tulisan untuk orang lain. Aku belajar daripadanya.
Menulis melatih diri untuk tidak sekedar berbicara. Ia membentuk diri menjadi pengamat sejati. Menuangkan kembali pada bentuk gagasan yang diselubungi keindahan kata. Namun hal tersebut bukanlah hal yang utama. Gagasan yang dinikmati dan membangun pembaca menjadi kekuatan yang tidak bisa ditawar. Menulis adalah menjadikan pengalaman batin dan akal bertaut menjadi satu. Menggerakkan sendi-sendi ilmu dan melahirkan cahaya-cahaya baru pemikiran manusia.
Menulis bukan menunjukkan kecerdasan diri. Menulis adalah berbagi kemanfaatan.
Ketika kata demi kata telah tertuang menjadi karya maka nikmatilah kekayaan hati dan keluasan samudera pengetahuan didalamnya. Hasrat menulis yang terpenuhi adalah laksana kesejukan embun pagi pada hijau daun-daun pada di taman rumah kita, yang bersinar lembut ditimpa keindahan pagi. Bahagia seperti seorang anak lelaki kecil menimang mainan baru hadiah dari bapaknya. Terharu layaknya bertemu kekasih hati yang lama tidak berjumpa.
*****
Aku menghela nafas puas dan menutup laptopku. Melihatku demikian, Akmal keponakanku yang masih sekolah di taman bermain bertanya lagi,
“Om Ferdy baru menulis lagi ya?”
“Kenapa Om Ferdy sering menulis?”
Popularity: 1% [?]


Posted in
Tags: 








menulis….satu cara kita melawan lupa!
Satu pertanyaan dari saya, mengapa kang sampeyan sekarang jarang menulis? Blog baru saya menanti kunjungan dan dukungan Anda, Salam hangat dari http://www.indonesiamenulis.com
menulis itu tindakan mengabadikan hidup sebab catatan hidup tidak bisa ditampung hanya dalam ingatan.
Menulis bagi saya adalah menciptakan dunia yang saya impikan. Mengkritisi dunia riil yang tidak sesuai dengan idealita yang saya dambakan. Menulis juga adalah mencurahkan uneg-uneg dan pikiran agar tidak jadi beban jiwa. Berbagi sesuatu yang saya harapkan berguna bagi sidang pembaca.
Sorry nih mas, baru sempet berkunjung ke sini.
Menulis bagi saya pada mulanya sebatas sarana aktualisasi diri dan sekaligus wujud ekspresi diri. Pada perkembangannya, menulis sudah menjadi sarana untuk berbagi. Dan akhirnya, sarana untuk melayani pembaca/pengunjung. Itu tingkatan tertinggi menurut saya.
om ferdy,, heheheh
om ferdy pandai menulis yah. kalau saya menulis itu agar google ngeliat saya, sekaligus ngasah kemampuan, dan curhat.. saya tidak pandai dalam berbicara. tetapi paling tidak jari saya ini lincah dalam menekan huruf pada keyboard.. hehe
Bagi saya menulis adahal hal yang sangat menyenangkan. Oia kang! ada Award buat sampeyan, silahkan diambil.