Beberapa malam yang lalu saya mengendarai motor di Jogja dengan sedikit was-was. Peristiwa pengeboman Hotel J.W Marriot dan Ritz Carlton Jakarta menimbulkan kesiagaan aparat keamanan hampir di semua wilayah Indonesia, termasuk Jogjakarta. Polisi nampak dimana-mana. Meski demikian saya berusaha tetap tenang. Sambil bersenandung saya pulang kerumah dari Jalan Solo ke Wirobrajan.
Saya memang senang karena baru mendapatkan sejumlah uang hasil berbisnis bersama teman. Saya sudah membayangkan bisa membeli beberapa barang kebutuhan dan menyisihkan sebagaian lainnya untuk tabungan. Baru saja terlintas pikiran seperti itu, telepon genggam saya bergetar menerima sebuah pesan. Saya hentikan motor sebentar. Ternyata dari seorang sahabat lama, Dahlia Ilinda. Sudah 4 tahun saya tidak berjumpa dengannya.
Isi SMS-nya memberikan saya informasi bahwa saat ini ia berada di sebuah Pesantren di Jalan Kaliurang, Jogjakarta. Singkat cerita ia juga menyampaikan bahwa ada sejumlah adik santri di Pesantrennya hendak masuk SMA, namun terbentur masalah biaya untuk menebus uang seragam yang wajib dari pihak sekolahnya. Sehingga ia meminta saya bisa membantu.
Saya tertegun sesaat dan kemudian bertasbih. Subhanalloh….
Alloh SWT ternyata menghendaki saya untuk menyampaikan rizki untuk saudara lainnya. Ya, saat itu saya memang sedang memegang uang hasil keringat dari usaha saya pribadi. Seketika saya merubah rencana untuk menggunakan uang tersebut. Sebagian besar saya shodaqohkan untuk mereka. Dalam hati saya sangat bersyukur, diingatkan oleh Alloh Ta’ala untuk membersihkan rizki yang Alloh SWT karuniakan. Bukan jumlah yang besar memang. Namun cara Alloh Ta’ala mengingatkan saya untuk bershodaqoh tetap menjadi pengalaman batin yang sangat berharga.
Saya jadi ingat, dahulu ibunda saya sering menceritakan pengalaman yang sama. Apabila Bapak sedang mendapatkan rizki yang lebih dari tempat bekerjanya, maka akan ada saja orang yang datang dan membutuhkan bantuan materiil. Meski saat itu ibu saya sedang menginginkan sesuatu untuk dibeli, Alhamdulillah, ibu saya lebih memilih membantu saudara atau tetangga yang membutuhkan bantuannya. Demikian halnya Bapak.
Kadang ibu bertanya – tanpa bermaksud tidak ikhlas -, mengapa ada saja orang yang membutuhkan bantuan saat kita mendapatkan rizki berlebih. Saya tersenyum dan hanya menjawab, mungkin demikianlah cara Alloh SWT menginginkan ibu sebagai perantara rizki-NYA. Toh, pada kenyataannya kita tidak pernah kekurangan. Ibu saya mengiyakan dengan bahagia.
Saat itu saya belum mengalaminya secara pribadi. Kini saya benar-benar memahami arti dari ucapan saya sendiri. Beberapa kali saya mengalami apa yang pernah ibunda saya rasakan. Saya berdoa, semoga kesadaran semacam ini, bisa terus tumbuh dalam diri. Baik dalam keadaan lapang ataupun sempit. Karena benar adanya, bahwa hidup adalah saling berbagi.
Popularity: 1% [?]


Posted in
Tags: 








ada bagian orang lain dari setiap rejeki yang kita peroleh…
@ Arief: bukan terharu Rief, tapi miris, prihatin dan sedih melihat kondisi tersebut. Tapi mungkin kita bisa memulai dari hal kecil yg sederhana.
Mas,
Terharu dengan krisis mental yang melanda negeri kita ga?
Milikmu adalah milikku..dan milikku adalah milikku…
dan banyak perampasan hak…korupsi…pencurian…dan kejahatan lain yang semacamnya.
Andai semua orang bisa menyadari akan hal itu (yang di tulis mas ferdian) tidak akan ada kejahatan yang terjadi..yang ada hanya rasa saling berbagi…
I like this!!