Sudah tiga hari televisi menyiarkan berita terbaru mengenai dugaan pernyataan pelaku bom pada tanggal 17 Juli kemarin, melalui media blog. Sebuah media komunikasi tertulis yang juga saya gunakan untuk menuliskan pemikiran saya. Terus terang ini menjadi hal yang menarik ketika kemudian ada sebuah media televisi yang kemudian membahasnya dengan mendatangkan seorang ahli digital forensik sampai ahli telematika seperti Roy Suryo pada televisi lainnya yang saya lihat kemarin pagi.
Pembahasannya beragam. Yang menarik adalah sang pembawa acara mempertanyakan mungkin tidakkah sang pelaku meminta seorang blogger misalnya untuk membuat pernyataan tersebut, kira-kira demikian. Untunglah yang ditanya Enda Nasution. Baginya bisa kemudian menuduh bahwa blogger yang melakukannya, meski media blog yang digunakan.
Saya setuju dengan pendapat Enda. Selain itu belum terbukti apakah itu memang pernyataan asli dari Noordin M. Top atau hanya orang iseng yang melakukannya. Lagi pula, membuat blog dengan blogger.com adalah sangat mudah. Bisa jadi ada orang yang hanya memancing di air keruh.
Roy Suryo juga menegaskan beberapa kali supaya hal ini tidak menjadi anggapan buruk terhadap media blog. Jangan-jangan orang takut untuk ngeblog. Wah, ini menjadi teror untuk para blogger dong.
Yang pasti situs blog yang “katanya” pengakuan sang gembong teror tersebut menjadi populer. Terang saja, alamatnya kan telah menjadi pembahasan banyak media besar di Indonesia. Entah sampai berapa traffic pengunjung blog yang berkesan seram dengan memilih template berwarna hitam ini. Hanya saya cek ketika memposting tulisan ini, comment-nya telah mencapai 1887 . Wah, jumlah comment yang mungkin banyak diharapkan oleh para blogger. Hal ini mengingatkan kita pada kasus Antasari Azhar, yang kemudian berimbas pada tingginya tingkat kunjungan ke blognya Rani, wanita yang disebut-sebut dalam kasus ini.
Sayang, kebanyakan comment tersebut adalah makian dan umpatan. Lebih menyakitkan lagi ada comment di urutan ke-17 yang kemudian menghina dan mengumpat pengikut Muhammad. Sebuah kekerasan pada media blog. Sehingga sebaiknya setelah penyelidikan blog tersebut selesai, pihak berwenang mungkin bisa meminta blogger.com menutup blog tersebut. Karena bisa jadi comment dan perdebatan didalamnya semakin keras dan kasar.
Apakah blog tersebut bisa membawa titik terang dalam investigasi kasus pengeboman Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton? Kita semestinya tidak gegabah menyikapinya. Saya yakin pihak-pihak yang berwenang bisa bekerjasama dengan Google selaku pemilik blogger.com. Benar atau tidaknya media massa pun harus berhati-hati agar pemberitaannya tidak timpang dan berlebihan. Karena tulisan dan pemberitaan yang tidak objektif kian lama kadang menyudutkan sebagian kelompok.
Popularity: 1% [?]


Posted in
Tags: 








that’s what happen if there no certain vision in spreading news,just follow the market demand..(market driven)..poor us
Bisa jadi ini hanya ulah orang usil, yang mencoba memperkeruh suasana
apapun bisa dan sangat mungkin disalahgunakan. bahkan botol saja bisa untuk membunuh orang jika dipukulkan ke kepalanya.
ini bukan lagi soal blog…, tapi soal mentalitas orangnya… the man behind the gun…
Memang sulit untuk memastikan apakah pernyataan tersebut benar-benar berasal dari orang yang melakukan pemboman. Adalah sikap yang sangat gegabah bila kita begitu saja percaya bahwa itu dari si pelaku pemboman.
Yang jelas aksi pemboman yang selama ini dilakukan sama sekali tidaklah menguntungkan siapapun dari umat Islam negeri ini. Bahkan umat Islam adalah pihak yang paling dirugikan dengan aksi bom tersebut. Sehingga kalau ada klaim bahwa itu untuk perjuangan Islam maka kalim itu bohong belaka. Islam sendiri tidak pernah mengajarkan untuk memperjuangkan tegaknnya Islam dengan menumpahkan darah. Rasul saw tatkala memperjuangkan Islam hingga beliau mendirikan negara di Madinah sama sekali tidak menggunakan senjata, kendati para sahabat dianiaya (seperti keluarga Yazid) begitu rupa.
Pihak yang selama ini diuntungkan dengan aksi bom justru adalah Amerika dan sekutunya. Mereka jadi memiliki alasan untuk mengintervensi kebijakan negeri ini.