Akhirnya terungkap sudah, jasad siapa sebenarnya dalam penyergapan Polisi terhadap tersangka teroris di Temanggung, Jawa Tengah. Saya tidak sempat melihatnya melalui pesawat televisi, jadi secara live streaming, saya melihat pengumuman Kepolisian RI tersebut di laman web Metro TV.
Ibrohim, seorang florist di Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton disebutkan sebagai orang yang di kepung oleh Polisi selama 18 jam dan kemudian ditembak mati. 3 mayat lainnya kemudian diumumkan sebagai Dani Dwi Permana, pengebom di Hotel JW. Marriot, kemudian Air Setyawan dan Eko Joko Sarjono yang ditembak mati di Jati Asih, Bekasi.
Pengumuman itu bisa jadi mengakhiri kontroversi mengenai peristiwa yang menyita perhatian sebagian besar warga masyarakat di Indonesia. Lihat saja sejak tanggal 7 Agustus malam televisi dan media cetak berlomba-lomba mempertontonkan berita terkini, headline news dan mengundang pribadi-pribadi yang dianggap ahli untuk menganalisa dalam konteks yang sebenarnya masih hanya kemungkinan belaka.
Terus terang, saya pribadi sangat jenuh dengan segenap berita yang kebanyakan diulang-ulang dan menggumuli asumsi serta pemikiran masyarakat. Belum lagi berita yang dimunculkan akhirnya menjadi simpang siur kebenarannya. Apakah media massa saat ini hanya seperti cerita dongeng belaka? Keinginan untuk memunculkan berita yang eksklusif kemudian dilakukan dengan membahasakan peristiwa dengan cara yang bombastis.
Memang benar, mayoritas dari kita membutuhkan media massa untuk mengakses berita yang aktual. Kita tidak bisa melakukannya sendiri, kecuali ketika kita menggeluti citizen journalism, dan berada pada objek pemberitaan yang tepat. Akan tetapi kita tetap membutuhkan informasi yang seimbang, layak dan akurat. Apabila masih menjadi sebuah kemungkinan, mengapa harus dituliskan menjadi sesuatu yang pasti?
Ketika kemudian kenyataan yang ada tidak sesuai dengan pemberitaan sebelumnya, saya melihat beberapa media justru kemudian beramai-ramai menyudutkan kinerja Kepolisian RI. Sebagian menyebut ketidakjujuran polisi dalam mengungkap peristiwa ini. Bahkan ada beberapa ahli yang menganggap bahwa ini hanyalah sandiwara dengan skenario yang buruk. Kesemuanya kemudian dilansir dan pasti kembali menggiring opini masyarakat.
Belum lagi banyak figur-figur pengamat yang dimunculkan media, secara tendensius opininya mengungkapkan skenario yang sentimen terhadapa Islam. Sebuah anomali menurut saya, memberitakan dan kemudian menyalahkan pihak lainnya.
Anda tentu masih ingat sejak pasca pengeboman, polisi dengan gencar melakukan investigasi dan mendatangi sejumlah pihak yang diduga terkait dengan Jaringan Noordin M. Top. Maka media massa pun kemudian segera mencium kinerja Polisi tersebut dan segera meliput setiap jengkal perjalanan investigasi.
Apabila Polisi melakukan investigasi, selama dalam koridor legalitas yang benar, maka itu merupakan sebuah kewajaran. Namun kemudian media massa juga melakukan investigasi yang agak kebablasan. Lihatlah orang tua beberapa orang yang diduga sebagai jaringan Noordin M. Top kemudian bermunculan di televisi. Mereka diwawancarai langsung secara teleconference dan dihujani pertanyaan-pertanyaan untuk menggali informasi namun berkesan menyudutkan mereka.
Padahal sejatinya mereka dalam kondisi bingung, sedih dan jelas tertekan. Akhirnya mereka pun memilih untuk menutup diri dari media, atau meninggalkan kediamannya untuk sementara.
Benar atau tidakkah tindakan Kepolisian RI, apa alasan-alasan dibalik pengeboman, apa komentar para ahli yang kemudian laris manis muncul ditelevisi, adalah hal-hal yang harus kita sikapi dengan penuh kebijaksanaan apabila kita menyaksikan liputannya. Seperti kata sahabat saya Kang Nawar, yang jelas masyarakat sekarang sudah terkena imbas dari wabah terorisme secara luas.
Sehingga dalam sebuah diskusi publik, Effendi Ghazali pernah berkata bahwa langsung atau tidak media telah berhasil menjadi corong para teroris untuk menyebarkan propagandanya. Sekarang silahkan anda memilih cara untuk menyikapi setiap pemberitaan media. Semoga media kita, opini kita, dan masyarakat kita lebih beretika.
Popularity: 3% [?]


Posted in
Tags: 








Anda tahu orang pertama di bawah noordin yang sekarang most wanted: ya… Baridin, asli Cilacap, hemm…. mertuanya Gembong katanya.
@ Rusa Bawean: Sebagian media menyebut dia florist di kedua hotel tersebut, tapi kalau saya salah, berarti saya tidak teliti menyikapi media …hehehe mohon maaf…terimakasih sudah berkunjung…
@ Yuyun: agreeeeeeee…!
“market driven” that what happen when media has no certain vision take responsibility in society development.. certain vision may guide us to put priority in society development target on whatever we do.. btw u already do it through this blog brotha..BANZAI..!!
Ibrohim florist di Hotel JW. Marriot saja bukan di Ritz Carlton kan???