PERJALANAN

Sopir bus yang kutumpangi menjalankan kendaraan besar ini pelan-pelan. Didepan tampak truk merah yang tak kalah besarnya dari bus ini. Aku duduk terpekur memandangi jalanan dan rumah orang-orang. Sebuah kebiasaan yang menyenangkan buatku. Lebih baik dari film bergenre apapun. Aku bisa melihat seribu wajah dengan segenap kehidupan yang digelutinya. Maka aku membayangkan apa yang ada dipikiran mereka.

Mereka tersenyum, tertawa, merengut, serius, dan tergesa-gesa. Pada suatu waktu pun aku menjadi bagian dari mereka. Menjadi aktor dari balik jendela kendaraan yang melintas sesaat disebuah penggalan hari. Melakoni peran yang membumi. Tak sadar saat orang lain menatapnya dari kejauhan. Demikianlah kita seharusnya merangkai sandiwara dan cerita. Jujur dan apa adanya.

Pada babak yang lain aku terpukau oleh keindahan tari-tarian pepohonan. Hijau padi yang bercanda dengan tiup angin yang menggoda. Mereka dijaga rapat dan istimewa oleh batang-batang kelapa yang melambai dalam damai. Rumpun-rumpun yang menyala keemasan semakin merunduk hikmat dan penuh keikhlasan. Memahami bahwa mereka memiliki peran terbaik demi kelangsungan hidup majikannya, para petani yang bersahaja dan manusia dari segenap penjuru dunia.

Sang petani itu mengusap peluh. Sesaat ia berhenti saat desir angin menerpa. Ia menghirup nafas dalam-dalam. Sekejap ia beradu pandang denganku. Tersenyum. Hanya sekejap. Namun ia telah bercerita banyak padaku. Betapa bahagia dia menatap bulir-bulir emas miliknya itu. Setelah dalam hitungan bulan ia akan menikmati hasil perjuangannya. Ia menjaganya seperti menanti anak-anak yang lahir dari rahim waktu. 

Ketika memasuki sebuah sudut kota, bangunan-bangunan tua mengapit pandanganku dikiri dan kanan. Mereka kokoh berdiri menyisakan cerita masa lalu. Sebagian lainnya rapuh dan rubuh digerus musim dan zaman baru. Beberapa lelaki tua duduk berkumpul di warung kopi sederhana. Menikmati semilir sore bersandar pada kursi-kursi bambu. Aaah..senja kulihat disinar mata mereka. Melempar bayangan bapak, kakek, dan orang-orang yang mengukir sejarah keberadaan diriku. 

Sedang aku tak lagi remaja. Namun aku telah menjadi pemuda. Berusaha setengah mati membuat catatan terbaik diri sebagai inspirasi sejarah, bila kelak aku telah mengenakan pakaian senja. Maka saat ini belum ada senja. Aku senantiasa berharap perjalananku secerah matahari pagi yang menggeliat dan berdiri tegak. Ia mencumbui keperjakaan bumi.

Aku menoleh kesamping. Istriku masih terlelap. Sungguh indah menatap dalam tidurnya. Sebuah kesyukuran mendalam telah memilikinya. Ia adalah bagian terbaik dalam perjalanan ini. Genggam erat tangan yang saling menguatkan telah menuntun kami untuk sampai ditempat-tempat yang kami tuju.

Kucium dahinya lembut. Kuusap pipinya dan berkata, “Bangunlah kasih, kita telah sampai.”

ditulis dalam bus Efisiensi Jogja-Cilacap, 15 Agustus 2009, 15.15

Popularity: 1% [?]

You can leave a response, or trackback from your own site.

This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.

2 Responses to “PERJALANAN”

  1. Yuyun Elita says:

    hm.. tell me honestly is this bus touring or love touring..? :) )

  2. masoglek says:

    pertamax aja mas, jangan premium :D

Leave a Reply

Personal Relationships blogs & blog posts BlogRankers.com Blog Directory Small Business Blogs - BlogCatalog Blog Directory Blog Directory & Search engine
Powered by WordPress | Brand New Cheap Sprint Phones for Sale. | Thanks to Palm Pre Blog, MMORPG Wallpapers and Homes For Sale