Nampaknya negara kita ini benar-benar diuji kekuatan nasional dan identitas kebangsaannya. Selama satu dasawarsa terakhir ini begitu banyak tantangan yang tak hentinya mengekor setiap jejak langkah Indonesia. Dahulu, 32 tahun dilalui rakyat tanpa ada satu pengganti atas tiran yang berkuasa. Ketika lampu di ruang-ruang demokrasi menyala dan hampir semua mata terbuka, begitu banyak orang mau berebut kuasa.
Selama 10 tahun berikutnya tak ada tiran. Hanya 4 orang yang bergantian duduk di kursi kuasa berlabel RI-1 dan menikmati pelayanan ekstra sebagai pemangku jabatan eksekutif nomer satu. Sampai akhir tahun 2008, harapan-harapan akan kebaikan terus dikumandangkan. Apalagi ketika gegap gempita tahun baru 2009 membahana. Semua berharap dan bercita-cita yang terbaik. Sehingga susul menyusul peristiwa menghiasi headline media massa.
Awal 2009 kembali sekian ratus kursi kuasa di lembaga perwakilan rakyat yang (katanya) terhormat menjadi incaran dan kejaran (kembali) para wakil rakyat. Wajah-wajah baru bermunculan. Setengah mati mereka berusaha mengoptimalkan brand yang mereka punya. Agar masyarakat membeli kepercayaan darinya. Tiba-tiba, sungguh mereka begitu pandai menjalankan konsep marketing..(mereka atau tim suksesnya?).
Wajah-wajah itu tampak menyesaki pusat kota yang sudah sesak hingga ujung desa yang terlalu polos dengan janji-janji. Pohon-pohon penghijauan kota bisa jadi meringis kesakitan ketika tubuh mereka ditancapi paku-paku dan diikat kawat besi untuk mengukuhkan banner kecil wajah calon wakil rakyat atau bendera partai. Saking banyaknya foto mereka bertebaran, bule-bule wisatawan – yang mungkin juga disusupi agen CIA -, mengira di Indonesia ada lomba foto. Betapa tidak? Banyak juga gadis muda dan pria-pria fresh graduate, bergaya bak foto model pada banner kampanyenya.
Untuk segala macam cara mereka berani mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta bahkan sampai 10 milyaran untuk yang mengincar kursi di Pusat. Padahal kalau mau di hitung gaji mereka di DPR Pusat selama 5 tahun “hanya” 4 milyaran. Sehingga mereka juga bersaing untuk mengusahakan ROI (return of investment) weleh..weleh emangnya bisnis?…hehehe (who knows? iya tho?).
Sayang, untuk tingkat kampanye nasional seperti itu mereka kalah dengan Noordin M. Top. Saat ini wajahnya juga sangat populer. Berkali-kali ditayangkan ditelevisi dan banner serta baliho besar dirinya hampir ada disetiap kota. Namun ia sama sekali tidak mengeluarkan biaya kampanye penangkapannya tersebut.
Noordin M. Top yang kontroversial itu awalnya menjadi kandidat paling dicari. Namun sekarang muncul nama-nama dan foto-foto TTM-nya (teman-teman mengebom) yang menjadi Daftar Pencarian Orang Mabes POLRI. Mereka telah mengoyak kembali kedamaian dan kehidupan bernegara pada pertengahan tahun ini. Mereka telah menanggalkan kecerdasan emosi dengan melegalisasi teror sebagai jihad yang kemudian disampaikan sebagai ijtihad (yang egois). Pembenaran kelompok yang kemudian merugikan bangsa ini.
Sejenak hal ini juga meredam gejolak para politisi yang (juga) melakukan teror politik melalui media terhadap lawan-lawannya sesama tim sukses calon presiden. Mulai dari yang begitu tenang dan elegan, hingga yang meledak-ledak emosional seperti hendak menerkam dan menelan lawan debat politiknya bulat-bulat. Semua terdiam untuk sesaat demi menyaksikan aksi sekelompok orang yang salah berjihad di negara damai.
Namun semua berusaha bangkit meneriakkan nasionalisme. Tepat sebulan setelah teror bom itu, kita kemudian memang bersama-sama berteriak..MERDEKA! Sebagai tanda bahwa kita memang (belum) merdeka selama 64 tahun. Ritualitas panjat pinang dan karnaval serta kreativitas baru lomba-lomba antar warga berusaha memeriahkan harapan baru 64 tahun kemerdekaan negara ini.
Kemeriahan nasionalisme ini juga semakin terbakar ketika tetangga kita yang hobi menyiksa para TKW Indonesia kembali berulah. Mereka kembali melakukan pelecehan terhadap hak kepemilikan budaya bangsa Indonesia. Setelah Batik, Lagu Rasa Sayange, dan Reog Ponorogo, kini Tari Pendet memancing permusuhan baru.
Akan tetapi apakah kemeriahan ini juga harus kebablasan dengan penampilan seorang gadis Indonesia di ajang Ratu Kecantikan sejagat? Media bahkan menyebutnya sebagai seorang Srikandi. Apakah Srikandi mau disamakan jati dirinya dalam kontes yang mempertontonkan kemolekan tubuh dengan hanya menggunakan bikini two pieces? Astaghfirulloh…! Ini Bulan Ramadhan Ferdi…! Tetapi memang kenyataannya mengapa kedamaian awal Ramadhan harus dirusak dengan penampilannya. Penampilan yang hanya membodohi dirinya dengan polling numero uno.
Sudahlah, tidak usah menyesali. Mari kita istighfar sebanyak-banyaknya untuk mengisi detik-detik Ramadhan ini. Mari kita bermunajat, semoga Alloh memberikan kemudahan dan kedamaian bagi kita untuk menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan yang mulia ini. Semoga para pemimpin kita tahu apa yang harus dilakukan dan semestinya juga kita menghargai kinerja mereka. Sejatinya adalah kita harus menatap kedepan. Berusaha dan mengusahakan yang terbaik, mulai dari diri sendiri. Semoga Alloh mengurangi beban dan persoalan bangsa. Amiin.
Kemarin sepulang kerja saya menonton berita. Sang penyiar menginformasikan bahwa ditemukan sebuah situs internet milik pihak asing yang menjual 3 pulau Indonesia yang indah diwilayah Kepulauan Mentawai. Paling murah dihargai sekitar Rp. 16 Milyar…..Astaghfirulloh….apa lagi ini..???!!!
Popularity: 1% [?]

Posted in
Tags: 






bangsa ini akan berubah nasibnya jika : penduduknya patuh, pemimpinnya amanah, serta diatur oleh aturannya benar
Apa pun yang di alami oleh negeri ini, inilah negeri yang kita cintai,dengan segudang problema. Dari Identitas kebangsaan, bom dan terakhir berita situs penjualan pulau.Kita berharap problema ini dapat di atasi secara bertahan dan negeri ini tetap kuat dan utuh…
@ Arief: tidak tinggal diam…lah itu..mulai dari diri sendiri. dari yang sederhana, dan mulai saat ini juga…hehe
@ Agung: …” satu lagi hal yang paling sering mengganggu pikiranku yakni, masyarakat sekarang cenderung sok peduli pada hal yang remeh temeh, sok bicara korupsi, padahal sejatinya kita adalah koruptor yang lebih jahat dibandingkan mereka-mereka yang kini mendekam di penjara.”
Semoga tulisan ini tidak berarti demikian. Bukan sok peduli, tetapi memang pengamatan pribadi dan sebagai refleksi, serta aktualisasi atas kapasitas kepenulisan yang sederhana. Akan tetapi komentar panjenengan mengingatkan kita semua untuk tidak banyak berteori, tetapi mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil/sederhana, dan mulai saat ini juga…(kayaknya ada yg suka ngomong gitu ya..hehehe). Terimakasih menambahkan hal yang membuat tulisan lebih bernilai.
Indonesia bisa bangkit, ketika semua manusia penghuninya, memiliki satu pemiikiran yang sama yakni membesarkan negeri ini dengan modal yang ada, satu lagi hal yang paling sering mengganggu pikiranku yakni, masyarakat sekarang cenderung sok peduli pada hal yang remeh temeh, sok bicara korupsi, padahal sejatinya kita adalah koruptor yang lebih jahat dibandingkan mereka-mereka yang kini mendekam di penjara.
kok bisa? tentu bisa, kita terlalu korup untuk berbagi dengan sesama, ada pengemis dihardik bahkan dicaci maki, bagaimana Allah SWT tidak akan murka, kita bisa tidur nyenyak di kasur empuk, sementara ada saudara kita yang orang notabene orang Indonesia, rumah saja tidak punya, mungkin kalimat sederhananya, Indonesia bisa bangkit ketika masyarakatnya saling peduli satu sama lain. semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua khususnya saya.
saat sesi pelatihan wartawan, ada seorang teman bertanya, mas kok bisa cari berita-berita bagus bagaimana caranya, saya lantas mengajaknya berkeliling, mengamati setiap sudut kampusnya, lantas saya bertanya apakah dia sudah dapat ide tulisan, dan dia menjawab belum.
tanpa bermaksud menggurui saya lantas bercerita jika banyak hal yang sebenarnya kita anggap remeh adalah sesuatu yang besar, saya tunjukkan ke dia jika kampusnya begitu kotor, rumputnya tinggi tak terawat, sejumlah lampu rusak tidak diganti,dia langsung terperangah.
itulah gambaran Indonesia kawanku, selama ini pemerintah Indonesia terlalu berpikir yang serba besar, sementara yang kecil kecil dianggap sebagai suatu hal yang tidak penting, semoga Indonesia akan selalu ada dan semakin dewasa, amin.
hm.. surely i didn’t make a puzzel when vote JK-WIN.. hehe..(is forbiden to say like this after pemilu..?)
Memprihatinkan.
mungkin kata itu sudah tidak lagi cocok untuk kia utarakan.
Hampir seluruh wakil rakyat yang ada di negeri ini hanya duduk dan menikmati uang hasil dari perjudian mereka sewaktu “pemilu”.
Hanya sebagian kecil yang benar-benar memperhatikan perkembangan negeri mereka tercinta….
Ketika rakyat negeri ini mengumandangkan genderang perang, para “penggede” negeri ini melakukan negosiasi demi perut mereka sendiri…
entah menjual aset yang ada, atau menjual sebagian pulau yang ada..
bahkan mungkin Lagu kebangsaan kita “INDONESIA RAYA” mungkin akan masuk dalam “daftar jual”
Sebenarnya hanya satu pertanyaan kecil dalam diri saya, sebelum bendera “merah putih” terjual, yaitu apa kita sebagai rakyat hanya akan tinggal diam?