IRONI KOMPETENSI

Setelah memenangkan 60% suara, Mas SBY saat ini bisa jadi sedang khusyuk menjalankan istikharah. Istikharah ini bukan dalam rangka memilih calon pendampingnya sebagai Wakil Presiden. Jelas Kang Boediono sudah memastikan dirinya sebagai RI-2 setelah polemik antara Partai Demokrat dan koalisinya dulu. Istilah istikharah ternyata bermakna ganda ketika dulu salah satu petinggi Partai Demokrat menyebut proses pemilihan Cawapres SBY itu juga melalui istikharah politik. Jadi maksudnya bukan hanya sholat istikharah yang jelas memohon petunjuk dari Alloh SWT atas pilihan-pilihan yang ada. La, terus istikharah politik itu bagaimana ya?

Bila bukan untuk Cawapres, maka SBY sedang berpikir keras untuk menentukan komandan-komandan terbaik yang akan memimpin departemen-departemen pelaksana kinerja Pemerintahan 2009-2014. Banyak pihak kembali bersuara masalah orang-orang yang paling tepat untuk menduduki jabatan menteri tersebut. Sebagian menyerukan bahwa pribadi-pribadi profesional dan sesuai dengan kompetensinya yang seharusnya menduduki jabatan tersebut. Pengamat politik CSIS, J. Kristiadi menyampaikan bahwa akomodasi partai politik diperlukan bila pertimbangannya adalah kestabilan politik. Namun, Parpol juga harus mengirimkan kadernya yang profesional dan sesuai bidang kementeriannya.

Saya sepakat dengan hal tersebut. Terang saja, ini adalah masalah hajat hidup orang banyak. 200 sekian juta rakyat Indonesia yang menjadi tanggungjawab dalam bidang-bidang mereka. Nggak lucu kalau akhirnya seorang berlatar belakang ilmu sosial menangani masalah riset dan teknologi. Atau ahli hukum mengurus masalah transportasi, bisa-bisa tingkat kecelakaan makin tinggi. Yang jelas-jelas banyak kesalahan kinerjanya hanya dipindahkan menjabat di departemen yang lain, tanpa ada kelegowoan diri untuk mundur. Hanya karena akomodasi Parpol.

Bicara masalah kompetensi, ada sahabat saya yang sedang kecewa. Ceritanya ia mengikuti seleksi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta yang notabene adalah juga almamaternya. Sejak awal dia merasa yakin dengan kompetensinya. Saya dan beberapa sahabat lain juga yakin dengan kualitas dia sebagai seorang akademisi. Apalagi dia ini juga sudah mengampu tutorial class di kampus tersebut selama hampir 4 tahun. Sebuah pengabdian yang ia berikan untuk meningkatkan kualitas adik-adik almamaternya dalam sistem formal perkuliahan. Jelas pihak kampus sudah mengetahui kapasitasnya.

Setelah melalui proses seleksi hingga 5 tahap yang cukup memakan waktu dan tenaganya, ia harus mendapati kenyataan tidak lolos dalam seleksi tersebut. Kecewa? Pasti. Namun bukan berarti ia tidak bisa menerima kekalahan, hanya saja begitu banyak kejanggalan yang akhirnya ia temui selama proses seleksi hingga hasil akhirnya. Memang dahulu ia pernah saya ingatkan, karena sistem komunal yang dibangun kampus itu begitu kental.

Berdiri sebagai salah satu aset pendidikan sebuah ormas terkenal maka kampus ini begitu ketat menyeleksi calon-calon dosennya. Bila tidak tercatat dalam membership ormasnya, maka jangan harap bisa menembus dan masuk dalam jajaran pengajar di kampus tersebut. Secerdas apapun calon dosen tersebut. Maka tingkat kompetensi tidak menjadi parameter.

Lucunya saat menunggu proses interview, sahabat saya ini bertemu salah seorang mahasiswa yang membawa jadwal kuliah terbaru. Dalam jadwal tersebut, nama salah seorang kandidat seleksi telah tercantum. Bayangkan, seleksi belum selesai, namun nama telah tercantum formal sebagai bagian tim pengajar. Ternyata sang kandidat tersebut adalah pengurus utama di salah satu cabang ormas tersebut. Jelas, identitas dan ke-ormasannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Ia telah recommended untuk menjadi dosen di kampus tersebut. Masalah kompetensi? Dia sendiri bercerita kepada sahabat saya bahwa 4 tahun terakhir ia tidak menggeluti bidang akademik apalagi mengajar perkuliahan.

Sahabat saya kecewa dengan absurditas sistem seleksi, ia tidak kecewa dengan hasil. Karena hasil memang ditangan Alloh Ta’ala. Bila memang sudah ada calon di rekomendasikan dan memang terpilih, tidak seharusnya kampus membuat “seleksi dagelan”. Saya bilang ke sahabat saya bahwa ia menjadi tumbal sebuah sistem komunal.

Anda mungkin bisa melihat kejadian ini tidak saja terjadi terhadap sahabat saya. Bisa jadi hal semacam ini terjadi di banyak tempat. Ketika esensi dan kompetensi tidak menjadi pertimbangan utama, maka tunggulah masa kehancurannya.

Popularity: 1% [?]

You can leave a response, or trackback from your own site.

This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.

4 Responses to “IRONI KOMPETENSI”

  1. Sari says:

    Hai Fer, akhirnya kutemukan blog-mu…
    Piye kabare?

  2. Salam Akhi,

    Terkadang tak cukup hanya kompetensi dan integritas, Akh.. Tapi juga cara pandang diri sendiri dan cara pandang kita terhadap orang lain.

    Rezeki walau telah sedekat appaun, jikalau bukan milik kita, akan terlepas secepat mungkin, tapi jikalau memang itu adalah hak kita dengan jalan apapun Allah akan memberikannya..

  3. Arief says:

    antara mimpi dan realita…
    antara harapan dan kenyataan…
    Semoga orang2 yang berbuat curang selalu dalam lindungan Allah SWT
    dan semoga orang2 yang memakan hak orang lain akan selalu diberikan rizki yang berlimpah oleh Allah SWT

  4. yunis helmy says:

    membenarkan yg biasa terkadang lebih mudah drpd membiasakan yg benar…

Leave a Reply

Personal Relationships blogs & blog posts BlogRankers.com Blog Directory Small Business Blogs - BlogCatalog Blog Directory Blog Directory & Search engine
Powered by WordPress | Brand New Cheap Sprint Phones for Sale. | Thanks to Palm Pre Blog, MMORPG Wallpapers and Homes For Sale