ESENSI HARAPAN DAN OPTIMISME DALAM PENCIPTAAN MANUSIA

thinkSuatu hari Muhammad SAW, sedang berjalan bersama sahabat-sahabatnya. Ketika melewati sebuah tempat mereka bertemu dengan seonggok bangkai binatang yang sudah membusuk. Reaksi manusiawi dan sungguh wajar dari para sahabat adalah menutup hidung mereka dan mengeluhkan pemandangan yang menjijikkan tersebut. Akan tetapi Muhammad SAW tetap tenang dan dengan air muka yang tidak berubah beliau berkata,

“…memang bau sih, tetapi lihat…giginya putih dan masih bagus…”

Kata-kata beliau sungguh sederhana. Namun beliau membuat cara pandang yang berbeda terhadap sebuah hal buruk. Beliau mencari kebaikan yang tersisa.

Kebaikan bukanlah hal yang tersembunyi dan susah untuk dicari. Pada diri manusia Tuhan telah menitahkan dengan jelas, bahwa Dia Yang Maha Kuasa telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S, 95:4). Saya pikir bentuk yang sebaik-baiknya ini bukan hanya bentuk lahir tetapi juga batin.

Meski juga kemudian malaikat mempertanyakan mengapa manusia hendak dijadikan khalifah dimuka bumi, padahal manusia hanya akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Tuhan kemudian berfirman, bahwa Ia Yang Maha Kuasa Mengetahui apa yang tidak hambanya ketahui (Q.S, 3:30). Tuhan telah memberi kita fitrah sebagai seorang khalifah dan mensucikan kelahiran kita.

Pada sebuah kesempatan, Profesor Quraish Shihab melakukan pembacaan lebih dalam terhadap ayat tersebut. Bahwasannya Tuhan telah memberikan harapan dan optimisme dalam penciptaan manusia. Inilah kebaikan yang kemudian memang telah menjadi default dalam diri manusia. Fitrah kebaikan adalah kesejatian dalam diri setiap manusia. Lalu dalam fitrah kebaikan inilah esensi harapan dan optimisme tersemat sebagai kekuatan bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia.

Maka tidak ada alasan bagi manusia untuk kemudian tidak mensyukuri keberadaan dirinya didunia. Ketidaksyukuran ini biasanya tercipta karena ketidakikhlasan menerima kehendak Tuhan. Sebuah hal yang sebenarnya bisa dihindari bila kita mengetahui. Oleh karenanya Tuhan pun dengan kasih telah memberikan kita petunjuk untuk mengetahui;

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan; Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmulah yang MahaMulia; Yang mengajar manusia dengan pena; Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (Q.S, 96:1-5)

Seperti keyakinan kita bahwa apabila malam telah berakhir, maka akan muncul kehidupan baru bersama matahari pagi. Demikian pula semestinya keyakinan kita terhadap esensi harapan dan optimisme dalam penciptaan kita. Maka derajat optimisme adalah bagian dari keimanan kita terhadap Tuhan Alloh SWT Yang Maha Esa. Ketidakoptimisan adalah ketidakyakinan bahwa Tuhan mampu mewujudkan harapan. Disanalah letak gangguan keimanan kita. Optimislah maka kita beriman.

Kekalutan dan kegagalan adalah bagian dari kehidupan. Demikian pula cara Tuhan memberikan kita kesempatan untuk berhenti sejenak. Membaca lebih dalam jiwa kita. Mencari perwujudan Tuhan yang telah ada sejak penciptaan kita, harapan dan optimisme. Alhamdulillah, Ramadhan memberikan kita kesempatan itu.

Ketika masjid-masjid dipenuhi manusia-manusia yang mencari harapan dan optimisme atas rahmat, maghfirah dan pembebasannya dari api neraka. Ketika ayat-ayat Tuhan menjadi lebih merdu dari simphoni apapun dimuka bumi ini. Ketika ilmu tercurah deras seperti hujan dan mengalir laksana sungai-sungai barokah dari mimbar-mimbar dan lingkaran-lingkaran majelis Tuhan. Hingga ketika langit dan bumi bersujud bersama kita.

Ya, Robb…dalam kesujudan kami. Lindungilah kami, agar kami menyempurnakan Ramadhan ini. Dan sempurnakanlah pencarian kami dalam harapan dan optimisme ini. Amin.

9 Ramadhan 1430 H

Popularity: 1% [?]

You can leave a response, or trackback from your own site.

This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.

4 Responses to “ESENSI HARAPAN DAN OPTIMISME DALAM PENCIPTAAN MANUSIA”

  1. Arief says:

    Yah…
    memang mudah mencari kesalahan atau keburukan orang lain…
    tetapi untuk mengakui kebaikan orang lain sangatlah sulit…

    itulah manusia dengan segala salah dan khilaf…
    “kesalahan sebesar butiran pasir akan menghapus segala kebaikan yang ada pada diri seseorang di mata orang lain”
    akan tetapi
    Kebaikan sebanyak apapun jarang sekali bisa membersihkan noda sebesar butiran pasir….

    Semoga kita bisa lebih bijaksana dalam memaknai hidup kita…

  2. Apa kabar Kang Adi?
    Btw! Ada Award International Bloggers Community Award untuk blognya kang adi dari blog Indonesia Menulis. Saya harap kang adi bersedia mengambil dan menyebarkannya.
    Terima kasih! Salam hangat Blogger Indonesia.

  3. Mahendra says:

    semoga hikmah ramadhan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita…

  4. anto020681 says:

    Jika kita menilik lebih jauh, optimisme dan harapan adalah penyemangat, nafas suatu tujuan, walau kita jangan salah menafsirkan tujuan penciptaan kita.

Leave a Reply

Personal Relationships blogs & blog posts BlogRankers.com Blog Directory Small Business Blogs - BlogCatalog Blog Directory Blog Directory & Search engine
Powered by WordPress | Brand New Cheap Sprint Phones for Sale. | Thanks to Palm Pre Blog, MMORPG Wallpapers and Homes For Sale