Hampir tiga tahun saya tidak berjumpa dengan sepupu jauh itu. Dulu, terakhir kita bertemu, dia meminta saran saya untuk menentukan pilihan hendak kuliah dimana dan studi apa yang seharusnya dia tekuni. Sebagai saudara tentu saya memberikan saran-saran terbaik yang mungkin bisa membantunya menentukan pilihan itu. Ia gadis kecil yang masih amat polos, dari sebuah desa yang jauh dari keramaian.
Saat ini dia sudah berbeda, manis dan tampak modis. Bisa jadi pergaulannya dengan banyak teman membuatnya lebih tahu bagaimana berpenampilan yang lebih baik. Namun tidak hanya itu harapan saya bertemu dengannya. Saya harap dia lebih memahami eksistensi dia sebagai pribadi intelektual yang saat ini menjabat sebagai mahasiswi. Dua tahun lebih dia sudah mengecap rasa pendidikan tinggi, saya berbincang untuk mengetahuinya.
Seperti dahulu ia meminta saran saya. Saat ini dia bertanya kepada saya mengenai prospek karier dengan bidang studi yang digelutinya. Saya justru balik bertanya, tentang apa yang ia pelajari selama ini dan untuk apa ilmu tersebut dipelajari. Ternyata ia belum mampu untuk memberikan jawaban dengan yakin. Padahal dua tahun sudah ia mempelajarinya. Kadang orang bisa bilang, kan baru dua tahun kuliah. Tetapi kenyataan ini juga banyak saya temukan dalam diri mereka yang telah menyelesaikan kuliah.
Saya mengerti, bahwa banyak orang akhirnya bekerja tidak sesuai dengan studi yang digelutinya semasa kuliah. Namun, ketidakyakinan untuk menjawab pertanyaan tentang studinya inilah, awal dari inferioritas dan ketidakpercayaan diri untuk bisa lebih baik dan menjawab tantangan masa depan.
Maka benar, pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dia selanjutnya adalah apakah ia mampu bersaing dengan lulusan lainnya kelak? “Kan sulit mas, besok untuk jadi PNS?” “Apa bisa aku kerja dibidang lain?” “Tapi bidang itu juga ketat persaingannya mas.”…bla..bla..bla sederet keluhan dan ketidakpercayaan diri ia ceritakan. Hal yang selalu mengkhawatirkan buat saya, melihat pribadi-pribadi seperti ini. Apalagi saudara saya sendiri.
Saya sampaikan padanya untuk membuat fase baru, pilihan dalam hidupnya. Saat ini baginya adalah bukan pilihan hendak bekerja dimana atau hendak menjadi apa. Akan tetapi pilihan untuk melakukan perubahan atau tetap stagnan dengan rutinitas studi tanpa ada peningkatan kapasitas diri. Perubahan itu lebih pada mindset untuk merubah keyakinan lama, motivasi, dan memaksimalkan segenap potensi dirinya.
Saya jadi merenung. Kadang saya merasa tidak pantas untuk memberikan saran semacam itu. Saya sendiri kadang membatasi keyakinan diri. Namun, dengan begitu saya juga menemukan kembali jawaban-jawaban terbaik untuk menjadi solusi atas segenap tantangan yang harus dihadapi. Saya jadi teringat dengan kata-kata Mario Teguh pada dinding facebook-nya kemarin Minggu.
Anda tidak boleh bernegosiasi
dengan impian Anda. Bernegosiasilah dengan apa yang harus
Anda lakukan untuk mencapainya. Maka, jangan tawar impian Anda.
Jangan kurangi yang mungkin Anda capai.
Apa pun yang Anda impikan, biarkanlah ia besar dan tinggi.
Lalu, besarkanlah harapan Anda, tuluskanlah doa Anda, ikhlaskanlah kelebihan pelayanan Anda,
dan utuhkanlah keberserahan Anda.
Jangan kalahkan hak Anda untuk berhasil.
Popularity: 1% [?]


Posted in
Tags: 








waduh belum diupdate ya.. ditunggu updatenya ya
yang ptg halal dan barokah
kalau saya…. hmmmmmmmmm… selalu mau berusaha yang paling baik untuk mengejar target saya misalnya sebelum template selesai saya tidak akan tidur! ya seperti itu..
ah.. merasa tersindir.. sindiran yang seharusnya sering didendangkan agar diri ini tidak lupa (tepatnya tidak punya alasan untuk pura – pura lupa)^^