Wirobrajan, Yogyakarta: 15.53
Setelah suhu panas setiap hari. Sore ini turun hujan deras lagi di Yogyakarta. Setelah beberapa hari cuaca nampaknya sama, setiap orang yang berkendara motor atau sepeda sepertinya sudah siap dengan perlengkapan perlindungan hujannya. Saat mendung menggantung semua orang segera bergegas menyelesaikan aktifitasnya diluar rumah atau kantornya. Sayangnya kadang mereka kurang memperhatikan diri dan lingkungannya. Semua nampak terburu-buru, tergesa-gesa dan ceroboh. Sehingga membahayakan sesama saat berkendara.
Sebaiknya bila hujan telah turun meyapa bumi. Bila tidak mau basah terkena hujan, sebaiknya menepi sesaat. Menunggu. Tak usah tergesa. Akhirnya lebih arif kita melakukan perjalanan setiap harinya. Benar kiranya pepatah sedia payung sebelum hujan. Bukan payung atau mungkin juga jas hujan dalam bentuk fisik saja. Pikir dan hati kita pun seharusnya lebih siap dengan musim yang berganti.
Ya, musim telah berganti. Saya rasa setiap orang pun mengalaminya sejak ia kecil hingga ia dewasa. Hanya saja tidak semua orang mampu menyikapinya dengan bijaksana. Saat panas menguras peluh, banyak wajah menjadi keruh. Ketika hujan tiba-tiba dengan semangat menyergap, banyak yang mengeluh bahwa pakaian yang mereka cuci tidak segera mengering dan berbau tidak enak.
Untunglah Tuhan mengajarkan kata Alhamdulillah. Sebagai tingkat kesyukuran atas segala nikmat yang tergambar dalam nikmat musim yang berganti. Sehingga banyak orang bisa lega dan berbahagia dengan apa yang ada. Serta tetap menghadapi setiap musim dengan segenap kemampuan yang ada untuk mampu bertahan didalamnya.
Demikian hidup kita. Bukankah segala macam kejadian dalam hidup kita ini juga layaknya musim yang berganti? Sesuatu yang juga harus kita hadapi. Hanya yang membedakan setiap orang adalah bagaimana cara menghadapinya.
Musim yang berganti dalam kehidupan kita bisa kita lihat sebagai gambaran atas masalah-masalah yang kita hadapi dalam kehidupan. Entah bagaimana anda membahasakan “masalah”, tetapi ada banyak pribadi yang menyebut “masalah” sebagai sebuah “tantangan”. Sehingga seperti adanya dorongan untuk menjawab “tantangan” tersebut. Walhasil, aroma optimisme positiflah yang di tebarkan.
Maka sejatinya kita akan senantiasa dihadapkan dengan “pergantian musim”. Dimana kita harus senantiasa siaga dan mencari cara terbaik untuk menghadapinya. Ketika kita telah menyelesaikan sebuah tantangan. Maka akan muncul tantangan lainnya.
Itulah mengapa dalam Tuhan menitahkan bahwa apabila kita telah selesai dari suatu urusan, maka kita harus tetap bekerja keras untuk menyelesaikan urusan lainnya (AL QUR’AN, 94:7). Sebelumnya Tuhan pun telah meneguhkan kita dengan kalimat yang diulang hingga dua kali bahwa sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (AL QUR’AN, 94:5-6).
Tantangan kita semakin hari semakin besar. Semakin tumbuh kita maka selayaknya kita harus mampu lebih dewasa menghadapi setiap “pergantian musim”. Bukan hanya dewasa dari segi fisik dan intelektual kita. Tetapi kedewasaan dalam cara kita ber-Ketuhanan merupakan faktor penting dan paling utama untuk menjawab segala tantangan yang ada.
Ketika kita jujur pada nurani, maka naluri dasar kita yang ber-Tuhan akan mengakui bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak-Nya. Demikian halnya tidak ada masalah yang bisa diselesaikan tanpa kehendak-Nya. Maka kedewasaan kita ber-Tuhan akan menuntun kita pada kepasrahan dan keikhlasan menjalankan kehidupan sesuai aturan-Nya.
Apakah kedewasaan ber-Ketuhanan ini juga menjadi tolok ukur utama bagi para pemimpin bangsa kita yang sedang berada dalam “musim badai”?
Popularity: 2% [?]


Posted in
Tags: 







