Bagaimana anda memulai hari tadi pagi? Apa yang anda rasakan?
Nah lho, belum-belum, saya sudah memulai dengan pertanyaan. Tetapi mengawali hari adalah sesuatu yang sangat menarik. Biasanya, secangkir kopi buatan istri dan menyimak tulisan-tulisan dari koran terbaru menjadi kenikmatan pagi dan inspirasi buat saya. Apapun yang terjadi hari ini dan hari-hari yang lain, setidaknya saya berusaha menghapus segala kekhawatiran. Seringkali kekhawatiran akan beban setiap hari membuat pribadi kita kurang menyenangkan.
Sehingga pilihannya saya senantiasa berlatih. Setiap bertemu orang, saya berusaha tetap menjaga senyum, antusiasme dan sikap santun. Itu membuat saya lebih nyaman dan saya yakin, juga membuat orang lain lebih nyaman.
Meski demikian, tidak setiap waktu saya menemukan respon yang sama dari setiap pribadi yang saya temui. Contohnya pagi ini. Ketika saya memasuki sebuah institusi pendidikan tinggi, saya menanyakan lokasi sebuah ruang kepada beberapa orang disana. Tentunya saya berusaha santun dengan senyum, salam dan bersemangat. Akan tetapi semua orang yang saya tanya hanya menjawab pendek, dengan wajah seperti memiliki setumpuk hutang serta sakit sariawan berkepanjangan.
Sebenarnya hal tersebut bukanlah yang pertama saya temui pada tempat-tempat yang berkaitan dengan pelayanan publik. Untungnya pula tempat-tempat tersebut memang dibutuhkan oleh publik. Seperti tidak ada pilihan lain memang. Sehingga para personil didalamnya tidak terlalu perduli dengan salah satu hukum utama menarik konsumen atau klien yaitu service excellent. Bahkan seulas senyum pun begitu berat mereka melukisnya.
Pergantian musim yang saya tuliskan kemarin memang kadang tidak mudah untuk menghadapinya. Apalagi berkaitan dengan ritme kehidupan seseorang. Namun dengan latihan setiap hari, setiap pribadi akan siap menghadapi segala situasi. Latihan itu sebenarnya lebih erat dengan tantangan kecerdasan emosi dan spiritual.
Harold Abbot dan Lelaki Tanpa Kaki
Saya teringat sebuah cerita inspiratif dalam buku klasik karya Dale Carnegie, How To Stop Worrying and Start Living. Carnegie bercerita tentang Harold Abbot, seorang koleganya. Carnegie pernah bertanya pada Abbot, bagaimana seorang Abbot menjaga dirinya untuk hidup tanpa kekhawatiran.
Abbot bertutur, bahwa sesungguhnya ia dahulu adalah seseorang yang senantiasa hidup dalam kekhawatiran dan pesimisme. Namun sebuah peristiwa sepuluh detik telah mengubah dirinya untuk hidup lebih baik daripada sepuluh tahun sebelumnya.
Dahulu Abbot berusaha berwiraswasta dengan membuka sebuah toko. Namun selama dua tahun berjalan, tokonya mengalami kebangkrutan. Ia tidak hanya kehilangan seluruh tabungannya, tetapi ia juga memiliki hutang yang membutuhkan waktu 7 tahun untuk membayarnya. Ketika itu ia berusaha meminjam uang ke bank agar bisa dipergunakannya untuk mencari kerja di Kansas City.
Abbot berjalan dengan lunglai, kehilangan daya juang dan keyakinannya. Sesaat kemudian tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki tanpa kaki menyeberang jalan. Lelaki cacat itu hanya menggunakan selembar papan kayu yang dilengkapi dengan roda-roda sepatu roda. Ia mendorang dirinya dengan sebatang kayu pada masing-masing tangannya. Lelaki itu juga memindah dirinya sendiri keatas trotoar.
Saat sampai diatas trotoar itu, ia dan Abbot bertatapan. Dengan wajah dan senyum yang cerah dan ceria ia menyapa Abbot,
“Selamat Pagi Pak! Wah, ini adalah sebuah pagi yang indah, iya kan?”, ujarnya penuh semangat.
Abbot tertegun. Kemudian ia sadar, betapa kayanya dia saat itu. Ia memiliki dua kaki yang sempurna dan dia bisa berjalan. Dia merasa sangat malu telah mengasihani dirinya dan sedih dengan masalah-masalah yang ada. Ia berkata ada dirinya sendiri, jika laki-laki cacat itu bisa bahagia, ceria dan percaya diri tanpa kaki, tentu ia yang bertubuh sempurna juga bisa. Ia merasa seluruh beban hilang dari dadanya.
Pada awalnya Abbot hendak meminjam seratus dollar ke bank. Namun, saat ini dengan berani ia meminjam duaratus dollar. Ia tidak mengatakan “akan mencoba mencari pekerjaan” di Kansas City. Tetapi ia berkata “pergi ke Kansas City untuk mendapatkan pekerjaan”. Dan Ia mendapatkannya!
Sepuluh detik pertemuannya dengan lelaki cacat itu sungguh bermakna. Senyum sang lelaki cacat itu bisa jadi lebih menawan daripada gadis manapun, karena ia telah merubah hidup Abbot bertahun-tahun kemudian. Nah, bagaimana dengan kita?
Tags: Dale Carnegie, inspirasi, institusi, Kansas City, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, klien, konsumen, koran, pendidikan tinggi, Senyum, Service Excellent





