Sekitar sebulan yang lalu saya mendapatkan sebuah komentar pada photo profile saya di akun facebook.com. Komentar tersebut ternyata dari seorang guru sewaktu saya masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Cilacap, Jawa Tengah. Beliau adalah ibu Teti Suswarti. Kalau tidak salah, beliau mengampu kelas Antropologi. Betul tidak ya bu? Hehehe. Ibu Teti juga menjadi sahabat yang sangat baik diluar kelas-kelasnya. Sungguh membahagiakan buat saya, ketika bisa bersilaturrahim kembali dengan guru yang pernah ikut membimbing kemaslahatan intelektual kita.
Ibu Teti kemudian juga menyarankan saya untuk bisa berkomunikasi kembali dengan salah satu guru lainnya. Beliau adalah Ibu Chatarina Purwa, seorang English Teacher, seorang trainer juga buat saya, dan salah seorang yang juga ikut bertanggungjawab dengan kapasitas Bahasa Inggris saya saat ini. Hehehe lagi. Tenang Ibu, bukan bertanggungjawab yang tidak-tidak. Tetapi tanpa bermaksud pilih kasih dengan jasa guru-guru lainnya dalam hidup saya, guru-guru Bahasa Inggris senantiasa memberi kesan yang mendalam. Bisa jadi karena Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran yang paling saya sukai.
Sekali lagi sungguh membahagiakan buat saya berkomunikasi dan bertukar pikiran kembali dengan mereka meskipun secara online. Sejujurnya saya juga merasa agak sedih. Ingatan saya terlontar kembali pada Hari Raya Idul Fitri, bulan September 2009 yang lalu. Itu adalah kali pertama saya berlebaran dirumah ibu mertua saya. Ibu mertua saya adalah seorang guru dan pendidik sejati.
Saya mendengarnya langsung dari murid-murid dan mantan murid-muridnya, ketika mereka bersilaturrahmi pada Syawwal 1430 Hijriah kemarin. Saya juga menyaksikan betapa cinta murid-muridnya begitu besar kepadanya. Mereka mengungkapkannya dengan banyak hal. Bahkan ada mantan muridnya belasan tahun yang lalu, senantiasa mengunjunginya saat Idul Fitri atau mengirimkan kabar melalui surat dan telepon.
Saya merasa sedih, karena ternyata selama sekian tahun saya meninggalkan sekolah dahulu, saya hampir tidak pernah mengunjungi guru-guru saya. Saya pernah bertemu, tetapi dalam sebuah acara lain. Sungguh menyesakkan dada menyadari betapa saya jauh dari rasa berbakti pada mereka demi alasan-alasan pribadi. Rasanya tertampar-tampar oleh sejarah.
Ibu..bapak..Guruku..perkenankan lewat baris-baris tulisan yang saya bacakan pada dunia ini, saya memohon maaf sedalam-dalamnya. Atas putusnya silaturrahmi. Atas ketidakpedulian saya atas peran sejarah intelektual Bapak dan Ibu Guru yang begitu besar pada diri saya ini. Saya tuliskan dengan segenap cinta dan kerinduan yang mendalam. Maaf..maaf, bila kesibukan ketika saya harus semakin bertanggungjawab dengan kedewasaan, menjadi sebuah alasan.
Maka kini kunjungan kepada Guru harus menjadi menu wajib ketika ada kesempatan ke kota tempat saya menuntut ilmu sebelum hijrah untuk kuliah. Semoga.
“Mantan Guru?”
Sampai saat ini, saya tidak bisa menyebut Bapak dan Ibu Guru dengan sebutan “mantan guru” SD, SMP atau SMA. Jujur, seperti saya ungkapkan diatas, aura peranan intelektual mereka telah begitu menegaskan kekuatan intelektual saya dan anda juga pastinya. Mereka adalah guru kita selamanya. Layaknya ibunda kita yang telah menjadi madrasah pertama kita, tempat belajar kita, jasa mereka tidak ternilai dan tidak terbatas ruang dan waktu.
Saat ini saya bekerja pada bidang yang juga sangat dekat dengan profesi Bapak dan Ibu Guru. Mengelola Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris, membuat saya menyaksikan dan kadang mengalami langsung bagaimana peran dan nilai seorang guru, baik dalam lembaga atau ketika saya dan lembaga diundang ke sekolah-sekolah yang ada di Yogyakarta ini dalam konteks training pengembangan kualitas Bahasa Inggris guru-guru mereka. Seringkali juga guru-guru sekolah tersebut merasa begitu semakin diburu segala tuntutan kesempurnaan kualitas, ditengah setumpuk tugas.
Dengan setumpuk pengabdiannya juga, tak heran profesi guru menjadi salah satu profesi yang paling terhormat dan bernilai. Versi siapa? Terserah versi siapa, saya rasa bila anda mencintai guru anda, maka anda tidak perlu membantahnya. Tak heran juga, seorang Andrea Hirata menjadi seorang top chart Indonesian writer, ketika pada awalnya “hanya” ingin menulis sebuah catatan setebal 600 halaman tentang Ibu Gurunya, Ibu Muslimah yang legendaris. Saya rasa Andrea setuju, tidak ada “mantan guru”. Mereka adalah guru kita selamanya.
KEPADA SELURUH BAPAK DAN IBU GURU DI INDONESIA. SELAMAT HARI GURU. SEMOGA DENGAN SEGENAP KEIKHLASAN DALAM PENGABDIAN, ANDA MENJADI PRIBADI-PRIBADI YANG BEGITU BERNILAI DIMUKA BUMI INI, DAN DISEMPURNAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. ALLOH TA’ALA.
Popularity: 1% [?]


Posted in
Tags: 







