Rasanya satu minggu sangat singkat. Baru kemarin berjibaku dengan segala macam tugas sebagai orang yang hidup dari Senin hingga Sabtu tiba-tiba mengalami hari Minggu dan Senin lagi. Maka sepekan lagi harus kita penuhi dengan antusiasme. Sebuah konsep yang menjadi salah satu syarat kesuksesan. Ya! Memulai hari dengan antusias. Oleh karenanya, harus ada bahan bakar memang untuk terus menyulut kobaran api antusiasme. Hari libur memang salah satunya.
Saya biasa menjadikan momentum untuk bertemu dan bersilaturrahmi dengan keluarga besar di Yogyakarta. Meski memang silaturrahmi harus dijalin setiap waktu, namun kesibukan masing-masing individu, membuat kami setidaknya bertemu sekali di hari Minggu. Ada banyak hal yang bisa kita bagi bersama. Rizki, kerinduan dan cerita. Pada akhirnya ketika pulang dan mengakhiri hari itu kita bisa membawa cahaya baru untuk kembali mencerahkan kekelaman semangat kita.
Seperti halnya semalam saat kami hampir berpisah. Ada cerita yang menggugah dari Paman, orang yang paling kami tuakan dalam keluarga besar ini. Beliau menuturkan kembali sebuah kisah inspiratif yang disampaikan oleh rekannya.
Ada seorang pemilik usaha angkringan* di daerah Sleman, Yogyakarta. Kita sebut saja namanya Pak Wo. Dia sudah cukup lama berjualan makanan dan minuman khas angkringan. Suatu ketika Pak Wo bertemu dengan Pak Dhe. Dalam kesempatan tersebut Pak Wo bercerita kepada Pak Dhe mengenai perkembangan usaha angkringannya. Dari sinilah Pak Dhe mengetahui, ternyata Pak Wo memiliki 5 gerobak lainnya yang ia pakai juga untuk usaha angkringan.
Pada awalnya Pak Wo ingin memberikan kesempatan kepada beberapa pemuda di kampungnya tersebut untuk bisa memiliki pekerjaan. Maka dengan segenap tabungan yang dimilikinya, Pak Wo membuat 5 buah gerobak angkringan baru. Tidak hanya membuat gerobak, Pak Wo mengisi semua gerobak baru tersebut dengan perangkat serta makanan dan minuman matang siap untuk dijual. Ia kemudian berikan 5 gerobak tersebut kepada pemuda-pemuda yang ia pilih.
Dari keuntungan malam pertama para pemuda tersebut berjualan, Pak Wo tidak mengambil hasilnya. Ia meminta para pemuda tersebut untuk berbelanja dan memasak sendiri bahan-bahan keperluan angkringan hari selanjutnya, yang akan mereka jual. Sejak itu Pak Wo hanya meminta mereka menyetor Rp. 10.000,- setiap hari. Ia serahkan sepenuhnya pengelolaan tiap-tiap gerobak kepada para pemuda tersebut.
Rupa-rupanya Pak Dhe terinspirasi cerita Pak Wo tersebut. Ia teringat pada seorang teman yang belum memiliki pekerjaan. Di lain hari ia menemui temannya tersebut. Ia melihat temannya memiliki aset sebuah sepeda. Pak Dhe berinisiatif membelikan perlengkapan tambal ban. Mulai dari pompa angin hingga stok ban dalam yang masih baru, disediakan oleh Pak Dhe. Selanjutnya Pak Dhe menawarkan temannya tersebut untuk bekerja keliling. Jadilah teman Pak Dhe ini seorang tambal ban keliling.
Pak Dhe melarang temannya menggunakan sepeda motor. Karena ia memperhitungkan bahwa itu akan menambah biaya operasional berupa bensin. Temannya menyambut baik dan melaksanakan segenap saran Pak Dhe. Saat ini setidaknya dalam sehari, teman Pak Dhe tersebut mendapati 8 orang membutuhkan jasanya. Apabila sekali menambal ban ia hargai jasanya Rp. 5.000,-, anda bisa hitung sendiri, berapa keuntungan harian dan bulanannya. Dalam hal ini Pak Dhe memutuskan untuk tidak mengambil keuntungan dari temannya tersebut.
“Silahkan kita semua jadikan cerita ini sebagai cermin, adakah Tuhan tidak adil dengan rizkinya?”, demikian Paman saya mengakhiri ceritanya.
Saya bertasbih lirih. Menunduk dalam dan jujur ada keharuan mendalam saat menuliskan kembali cerita ini. Sekali lagi, saya menemukan mutiara dalam kesederhanaan. Sekali lagi Tuhan bicara bukan dari kehebatan seorang pengusaha besar papan atas yang baru dinobatkan menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes, padahal kelalaian sebuah pabriknya telah menghancurkan sejumlah desa.
Saya menengok kembali surat dari Tuhan;
Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:13)
Dan Dia Mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk; Dan Dia Mendapatimu sebagai orang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (QS. 93:7-8)
angkringan*: kedai makan tradisional di sudut-sudut Yogyakarta. Makanan khas yang dijual adalah nasi kucing (sebungkus kecil nasi yang dilengkapi dengan oseng tempe atau teri pedas)
Tags: ANGKRINGAN, cerita inspiratif, inspirasi, KONSEP, majalah Forbes, motivasi, Sleman, Yogyakarta






sudah lama tidak mampir ke sini ternyata masih berkarya menghasilkan tulisan yang bagus..! Tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi pebisnis
sungguh cerita yang menginspirasi, menambah ide baru buat saya.
terimakasih n sukses untuk blog ini.
sungguh cerita yang menginspirasi, menambaj ide baru buat saya.
terimakasih n sukses untuk blog ini.
Wah, jadi pengen SEGO KUCING nih, udah lama gak ke Jogja jadi kangen ama Angkringan.
Subhanallah, berbagi itu bagi orang yang pelit adalah sangat susah sekali, namun rasa berbagi bagi orang yang membutuhkan bagai air yang di minum dari sebuah kendi “adem” , jangan sampai kita menjadi orang-orang yang pelit, kisah ini menginspirasi banget..terus berkarya ya pak ferdi, motivasi kita-kita yang membutuhkan motivasi
dan terima kasih juga telah mengiringin kelahiran blog saya..
salam kenal dr eyang putri,eyang juga nulis dikomentar belajar menulisnya mas Ferdian tolong ditengok ya,cerita angkringan kalau diresapi menjadi pembelajaran diri pribadi utk merenung bisakah kita berbuat begitu seperti pak Wo,pak Dhe tapi itu terserah pd diri masing2 yg membacanya lalu memaknainya,jujur kalau eyang langsung meresap dlm hati krn eyang sdh tua jd cerita itu menyentuh
hati yg paling dlm utk selalu ingat KepadaNya,Allah Pemberi Nikmat
kepada semua makhluknya tanpa minta balasan sedikitpun
di cilacap, angkringan sudah banyak banget Mas;
kalau saya sengaja mampir, ingat Jogja jadinya
Katanya sih Tuhan itu Maha Adil…
Percaya aja ma Yang Diatas…
Lebih baik memberi daripada menerima…
Apalagi tanpa pamrih apapun dibalik tertelungkupnya telapak tangan kita….
Mugo2 wae kita bisa menjadikan cerita inspirasi dari mas ferdy, dan melanjutkan kisah2 orang2 yang ada dalam cerita itu…
Amiiiiiiiin
very inspiring ^_^ tapi saya tidak heran kalo cerita ini muncul dari sebuah kota yang masih banyak orang - orang yang rendah hati ..
Dan ke kota inilah saya selalu rindu untuk berkunjung ..
Salam kenal mas ^_^.
~Jogjaaa ayem komiing hehehe
Semoga cerita Pak Wo dan Pak Dhe bisa memberi inspirasi kepada kita untuk berbagi kepada sesama secara kongkrit. Memberi kail, bukan ikan.
berarti hati dek Danz “halus dan lembut” (opoooo kapaaaasss)….mudah tersentuh…. =))
1 words = GREAT!!!!
may ALLOH with us….
ga tau lg mo komen apa niy mas..
Goresan tangan dalam bentuk kata-kata nya itu sungguh sangat menyentuh dan selalu memberi inspirasi..
Hehehehe.. Keep goin’ Bro.. Always Success y..
anyway, thanks again for the story..