thesecretlogoRasanya telat banget ya, membahas masalah ini.  Tetapi tidak apa-apalah. Toh, ini pengalaman baru saya. Sekitar setahun yang lalu saya mendapatkan versi PDF dari sebuah buku yang terkenal berjudul The Secret. Dulu banyak orang merekomendasikan untuk membacanya. Namun, meski saya telah mendapatkan versi PDF-nya ternyata file itu pun hanya teronggok pada salah satu sudut folder dalam harddisk laptop. Saya hanya membacanya sekilas. Tidak terlalu tertarik. Penuh dengan kalimat memotivasi. Tetapi memang saya belum mendapatkan momentum kepahaman terhadap pesan yang dibawa buku tersebut.

Baru sekitar beberapa hari yang lalu, sekelompok teman mengajak bergabung dalam sebuah forum diskusi pengembangan diri. Sang pembicara utama ternyata tidak mau banyak berceramah, ia hanya menempatkan diri sebagai fasilitator diskusi. Bahkan diawal ia meminta kita untuk menonton film terlebih dahulu. Guess what?? Ternyata ia meminta kita menonton film The Secret.

Meski banyak pro dan kontra mengenai buku ini, saya rasa kita bisa menyikapinya dengan arif. Jujur saya terpesona dengan hasil visualisasi Buku The Secret tersebut. Ia bukan hanya membuat saya menyadari, betapa ruginya saya tidak menemukan nilai dan pemahaman dari buku tersebut sejak dulu. Namun ia juga memberikan saya sebuah momentum yang sangat kuat untuk melakukan pencapaian terbaik pada tahun yang baru ini.

Ya, film tersebut mampu menerjemahkan keelokan nilai yang berselubung kata dalam lembar-lembar karya Rhonda Byrne. Saya yakin ia pun telah menerapkan apa yang ia tuliskan kembali dengan kuat. Ia telah mencapai momentum dan menginspirasi begitu banyak manusia.

Akan tetapi saat saya menonton film tersebut begitu banyak ingatan yang berloncatan. Saya pernah menerima nasihat-nasihat yang sederhana dari teman-teman dahulu. Nasihat-nasihat yang tidak dibungkus hardcover menarik ataupun dalam sebuah film yang menampilkan 33 pakar yang berbicara kepada kita dan membakar semangat kita. Ternyata sesungguhnya nasihat-nasihat teman-teman itu telah menjadi “The Secret” saya beberapa tahun yang lampau.

Bagi anda yang telah menyimak buku dan menonton Film The Secret, pasti telah memahami, bagaimana The Secret bekerja. Mulai dari kita harus Meminta, bahkan dengan jelas menyebutkan apa yang kita minta. Setelah itu kita sebenarnya tidak tahu darimana datangnya dan bagaimana caranya yang kita Minta kepada Alloh SWT tersebut datang, tapi yang pasti ia akan terwujud kelak. Tentu dengan tingkat keikhlasan yang disadari masing-masing individu setelah ia meminta.

Demikian juga teman saya dahulu bertutur. Saat itu hari yang sangat panas, teman saya memulai ceritanya. Adiknya yang masih kelas 4  sekolah dasar mengeluh dengan rasa panas yang ada dan berandai-andai apabila keluarga mereka memiliki lemari es/kulkas. Pasti ia bisa minum air dingin sepuasnya. Teman saya yang baik tersebut kemudian meminta adiknya untuk sering berdoa kepada Alloh SWT. Ia juga mengajari adiknya tersebut untuk benar-benar menyebutkan bahwa ia meminta lemari es/kulkas dalam doanya.

Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Doa yang aneh, demikian pikir saya waktu itu. Tetapi ternyata apa yang dilakukan teman saya dan adiknya tersebut memang menjadi sebuah manifestasi. Menjadi langkah keyakinan untuk mereka bisa mendapatkan lemari es. Benar kiranya, beberapa waktu kemudian.teman saya tersebut mendapatkan rizki dan mampu membelikan sebuah lemari es yang bagus untuk keluarga besarnya.

Dilain hari seorang teman lain dan saya mengomentari sebuah mobil mewah. Kami sama-sama menginginkan sebuah mobil. Saya katakan padanya, kapan kiranya saya bisa memiliki sebuah mobil. Teman saya hanya tersenyum dan berkata, bisa jadi kita harus mencoba belajar mengendalikan mobil dan merasakan duduk dibelakang setir.  Teman saya tersebut melakukannya. Ia mengambil sebuah kursus setir mobil. Tak lama kemudian ia juga telah mengendarai sebuah mobil. Meski belum menjadi miliknya pribadi, ia memiliki hak penuh untuk menggunakannya.

Saya juga lupa pernah menerapkan hal ini. Dahulu seringkali teman-teman mendesak saya untuk segera menikah. Saya selalu mengatakan, saya akan menikah kalau saya sudah siap. Padahal saya tidak pernah tahu kapan saya siap, saya tidak merencanakannya dengan baik. Ketika seorang teman bercerita bagaimana dia bisa menikah, saya terinspirasi.

Teman saya tersebut bercerita, bahwa sudah lama dia berkeinginan untuk menikah. Namun, ada saja hal yang menghalanginya. Saat ia akhirnya dia mendapatkan kesempatan itu, ia baru sadar. Dulu ia pernah menulis dalam jurnal hariannya. Bahwa ia akan menikah di usia 27. Ia melupakan hal itu. Sehingga sejak usia 25 ia memaksakan dirinya untuk segera menikah, tetapi tidak pernah terwujud. Beberapa saat sebelum ia menikah di usia 27, ia buka kembali jurnalnya. Ia membaca tulisannya 5 tahun sebelumnya. Ia telah “memintanya”.

Segera saya melakukan hal yang sama. Saya harus merencanakan pernikahan saya. Saya menuliskan dalam jurnal saya bahwa saya berniat untuk menikah pada usia 28 tahun. Ternyata Tuhan tidak menjawabnya di usia saya yang 28. Tetapi Tuhan memberikan kesempatan yang sungguh jauh lebih baik. Saya menikah di usia 27. Subhanalloh.

Saya menunduk. Semua ini adalah tentang kesyukuran dan keikhlasan. Dan ayat-ayat Ar Rahmaan kembali berdentam-dentam dikepala dan hati ini.

Suka dengan artikel ini?Silahkan Bagikan Lewat:
  • Facebook
  • email
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogosphere News
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • LinkedIn

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>