the-nanny-diaries

Calon Karyawan Pecundang

Dengan tergesa-gesa Annie keluar dari subway, disalah satu sudut Manhattan. Dia merasa terlambat untuk menghadiri sebuah wawancara kerja. Dia setengah berlari menuju tempat wawancara tersebut. Meski terburu untungnya dia tidak terlambat. Dia kemudian berusaha duduk tenang dihadapan pewawancara. Segera si pewawancara bertanya,

OK, now tell me, who is Annie?”

“What?!..ehm, hehe, that’s easy…”, ujarnya sedikit meremehkan karena dia berpikir pertanyaannya akan sulit. Dengan percaya diri dia melanjutkan,

OK, I am………………I…..uhm…….I..I…, air mukanya seketika berubah.

Dia berusaha keras untuk menjawab siapa sebenarnya dia. Tiba-tiba dia merasa sangat kesulitan. Pada akhirnya dia hanya berkata,

“…I am sorry!”, sembari kemudian pergi meninggalkan ruangan tanpa berkata apapun lagi. Adegan selanjutnya dia hanya bisa termangu dan bertanya pada dirinya, siapa aku?

Adegan di atas bisa anda temui dalam Film The Nanny Diaries. Sebuah film keluarga yang bercerita tentang seorang Annie (diperankan oleh Scarlett Johansson) yang tiba-tiba terjebak didunia “nanny” atau pengasuh anak. Saya tidak akan bercerita banyak mengenai film tersebut. Hanya adegan tersebut membangkitkan ingatan dan pemikiran saya akan orang-orang yang pernah saya wawancarai. Juga teman-teman dan klien yang saya bantu saat mengajar English for Job Hunting.

Lihatlah Annie, bayangkan bila anda ada pada posisi Annie. Annie adalah seorang fresh graduate, yang seharusnya siap menghadapi real world, yaitu dunia kerja. Namun sungguh fatal, satu buah pertanyaan telah membuyarkan seluruh prestasi yang seharusnya bisa dipaparkannya. Seperti dahulu Mike Tyson menghajar lawan-lawannya, pertanyaan tersebut seperti pukulan KO, pada detik pertama dan dironde pertama. Annie bahkan belum mampu untuk mendefinisikan siapa dia sesungguhnya.

Saya seringkali miris ketika menerima surat lamaran kerja yang masuk ke kantor kecil saya. Ternyata masih banyak sekali orang diluar sana belum bisa merepresentasikan dirinya dengan resume dan surat lamaran kerja yang pantas. Padahal mereka telah bergelar S-1. Lebih menyedihkan lagi, dia tidak mampu membawa dirinya secara profesional saat interview.

Saya hanya berpikir, apakah mereka ini tidak sempat belajar untuk menghadapi job interview barang 1 atau 2 jam di hari sebelumya. Atau setidaknya mencari tahu bagaimana menulis surat lamaran dan menyusun CV/resume dengan baik. Tidak ada alasan untuk tidak tahu atau tidak mau tahu. Karena sumber informasi untuk menghadapi dunia kerja jumlahnya sangat banyak, Om Google akan senang hati membantu anda bila anda sekedar mengetik “panduan wawancara kerja” atau “menulis resume”.

Apa yang terjadi pada Annie, bisa jadi merupakan pengalaman pribadi juga bagi sebagian orang. Mengapa sampai Annie tidak mampu menjawab pertanyaan yang pun dianggap oleh Annie sangat mudah? Permasalahannya adalah apa yang telah anda persiapkan bertahun-tahun sebelumnya. Mendefinisikan diri kita pada saat interview bukan bercerita secara pribadi tanggal lahir kita atau hobi atau kita ini anaknya siapa. Namun fokus pada nilai-nilai pribadi dan profesional kita.

Meskipun kita telah berusaha menjabarkan latar belakang studi kita dan pengalaman terakhir bekerja, tetap saja kita harus membuat kesan bahwa kita memang unik, berbeda dan jelas lebih baik dengan yang lain. Hal yang tidak mungkin hanya kita dapat dalam waktu satu malam. Semua hal tersebut didapat melalui latihan yang cukup lama di sekolah dan organisasi atau tempat kerja sebelumya. Ini yang membuat seorang calon karyawan tidak menjadi pecundang. Dia akan mampu menghadirkan pribadi yang sesuai dengan yang diharapkan organisasi profit ataupun non-profit yang akan merekrutnya.

Jadi pertanyaan saya kali ini untuk anda …” who are you?”

 

 

Pertama kali di terbitkan di FerdianAdi.com : 3 April 2009

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *