sawang sinawang

Melihat Orang Lain – Sawang Sinawang

Sesulit apapun kita masih hidup. Sesulit apapun, kesuksesan itu ada di depan mata kita. Kita tinggal memejamkan mata sesaat, dan kemudian bukalah lebar-lebar dan lihat lebih dalam. Maka kemudian kita akan melihat. Betapa sukses itu begitu dekat dan hendak memeluk kita.

Kalimat-kalimat diatas saya buat untuk memberi keteguhan dalam jiwa. Saya rasa saya harus memilikinya. Mungkin biasa ya, bagi sebagian besar dari anda. Namun, hal tersebut sangat berarti untuk saya, demi menyusuri hari-hari yang penuh tantangan. Meski kalimat-kalimat tersebut senantiasa saya sematkan setiap hari, kelelahan kadang menciptakan keluhan. Meski tidak muncul dalam kata-kata. Sehingga menulis menjadi media yang ampuh untuk mencurahkannya.

Sering juga saya menemukan jawaban yang menjadi nilai baru, memperkuat semangat dan mantera dalam kalimat yang senantiasa saya tanamkan dalam diri. Lewat bicara dengan sahabat dan melihat lebih dekat untuk memahami, seperti sebuah lagu Sherina pada masa kecilnya. Belajar pada siapapun. Menggali makna-makna terdalam dari setiap peristiwa.

Seperti beberapa hari ini saya mengamati sahabat-sahabat saya yang juga bergelut dengan dunia usaha. Meski mereka hanya menjalankan roda usaha kecil, namun mereka sarat dengan kepuasan batin. Pak Arifin adalah orang yang rumahnya terdekat dengan saya. Ia dan istrinya “hanya” membuka sebuah warung kelontong biasa di depan rumahnya. Tidak cuma itu, Pak Arifin menyediakan tabung gas, bensin dan juga tambal ban. Warungnya kecil namun laris luar biasa. Belum lagi Pak Arifin juga terampil membuat tas-tas pesanan perusahaan ekspedisi dan sales marketing. Setiap bulan ada pesanan cukup banyak untuknya. Dengan low profile Pak Arifin menyebut dirinya orang desa biasa.

Ada satu lagi sahabat, Ahmad namanya, ia “hanya” seorang penjaga malam di sebuah tempat usaha. Dia pemuda yang lugu dan apa adanya. Di siang hari dia akan menjaga sebuah tempat penyewaan alat game Playstation dan berjualan pulsa. Secara sederhana ia juga memulai berjualan handphone second hand. Sedikit demi sedikit, ia mengumpulkan cukup banyak uang setiap bulannya. Ia menikmatinya.

Saya menggunakan kata “hanya” diatas bukan merendahkan mereka namun adalah karena cara mereka sederhana dalam berprofesi namun menghikmati dan menikmatinya. Hari ini saya ajak Ahmad berbincang sejenak di pagi hari. Saya ungkapkan kekaguman saya kepadanya, juga bercerita tentang Pak Arifin. Dari usaha kecil mereka, tampaknya menghasilkan sesuatu yang luarbiasa minimal untuk diri mereka dan keluarganya. Sekali lagi cara mereka sederhana. Sementara saya yang beruntung mendapat modal cukup besar dan memulai usaha menengah, seringkali terseok-seok menghadapi persaingan bisnis, belum lagi dihajar dengan komplikasi birokrasi pemerintah daerah.

Ahmad nampaknya menangkap “nada” keluhan saya. Ia dengan sangat bijaknya menyentuh dalam hati saya. Kalimatnya hanya sederhana dalam Bahasa Jawa yang sopan,

Mas, sedoyo tiyang nggih sawang sinawang, mboten mesti lan mboten wonten ingkang sami.” (Mas, setiap orang itu “sawang sinawang”, tidak pasti dan tidak ada yang sama) Sebuah kalimat sama seringkali dituturkan ibu saya bertahun-tahun yang lalu.

Saya menunduk dan kehabisan kata-kata.

SAWANG SINAWANG

Seorang Ahmad memiliki nasihat yang hebat dalam satu kalimat.

Ahmad menggugat kesadaran saya. Dude…wake up!, hehehe, demikian mungkin kalimatnya kalau dia anak gaul. Saya belum mampu mendefinisikan sawang sinawang dengan kata-kata yang tepat. Tetapi kira-kira, “lihat-lihat orangnya laah”, demikian. Kata sawang sendiri berarti melihat.

Saya melihat kehidupan Pak Arifin dan Ahmad dan saya berpikir mereka jauh lebih beruntung dari saya. Bisa jadi mereka lebih bahagia. Saat itu saya lupa tentang betapa beruntungnya saya dengan apa yang saya miliki saat ini.

Selamanya kita tidak akan pernah puas dengan apa yang telah kita capai. Selayaknya kita berteman dengan obsesi dan gairah untuk mencapai puncak kesuksesan pribadi. Memaksakan diri kita untuk sesuatu yang belum saatnya kita capai, hanya akan membawa ketertekanan jiwa karena ambisi.

Kita bisa menyaksikan setiap hari media mengunggah peristiwa yang melibatkan public figure. Sebenarnya mereka orang-orang yang saat ini berada di puncak karir, hampir memiliki segalanya bahkan kesempatan untuk jauh lebih baik lagi dalam kehidupannya. Namun kenyataannya justru mereka jatuh pada kenyataan terburuk dalam kehidupan. Terlibat dalam lubang hitam kriminalitas, mengkhianati kepercayaan rakyat dengan korupsi dan memilih cara yang buruk untuk mati. Ternyata puncak itu dibangun dengan cara yang keliru.

Sekali lagi benar adanya, ternyata setiap pribadi itu sawang sinawang.

Tidak pasti apa yang kita pandang pada diri seseorang sesuai dengan kenyatannya. Sawang sinawang membawa kita untuk mendapati diri dalam kesyukuran. Bahwa kita ditempatkan Tuhan pada wadah kita. Sesuai kadarnya.

Notes:

  • Pertama kali di terbitkan di FerdianAdi.com : 30 Juni 2009
  • Image Resources: pexels.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *