Seperti Belajar Berjalan

Semalam Muti, keponakan saya yang lucu berusia hampir satu tahun mulai belajar berjalan. Kami sekeluarga besar berkumpul mengelilinginya. Berganti-ganti Muti berusaha melangkah kecil menuju Ayahnya, Ibunya, Kakek dan Neneknya, Tante dan saya Om-nya yang baik hati ^_^. Segera saya ambil kamera digital untuk mengabadikan kebahagiaan bersama itu. Semua orang menyemangati, semua orang mendorongnya untuk mencoba terus berjalan, semua selalu mengangkatnya kembali ketika ia terjatuh. Meski kadang merengek dan menangis kecil, ia akan mencobanya lagi dan lagi. Semuanya merasa bahagia.

Saya rasa setiap dari kita pernah melakukan hal yang sama. Belajar berjalan. Hanya saja kita sudah lupa. Ingatan itu sudah lupa tertutup kesibukan kita bermain ditahun-tahun selanjutnya. Kemudian menghilang karena tuntutan kedewasaan yang membuat kita sibuk dengan label kedewasaan tersebut. Kita lupa dahulu pernah belajar berjalan dan membutuhkan dukungan dan semangat orang-orang di sekeliling kita. Kita lupa saat itu kita diajarkan untuk saling mendorong dan memberikan semangat, ketika ingin mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan.

Mencoba sesuatu yang baru adalah sebuah awal keberanian bagi seseorang. Tentunya berani yang bertanggungjawab. Demikian halnya ide yang bagus. Ide yang muncul dari seseorang merupakan sesuatu yang baru bagi seseorang. Biasanya kemudian ide tersebut akan dikomunikasikan dengan orang lain. Reaksi orang lain terhadap ide tersebut akan beragam. Mereka akan tertarik dan kemudian terlibat diskusi mendalam mengenai ide yang bersangkutan. Namun bisa jadi kemudian reaksi yang muncul adalah datar-datar saja dan tidak tertarik pada ide yang disampaikan. Lebih buruk lagi bila kemudian orang lain menertawakan, tidak mengacuhkan dan meremehkan ide tersebut. Bahkan yang lebih parah, ide itu dicuri. Saya pernah mengalaminya.

Karena mungkin kita tidak bisa merealisasikan ide itu sendirian maka kita akan membicarakannya dengan orang lain. Kerap kali reaksi orang terhadap ide yang kita miliki, seperti saya ungkapkan diatas, akan mempengaruhi proses merealisasikan ide.  Bagi yang berjiwa tangguh maka ia akan gigih memperjuangkan ide yang dia anggap bisa menjadi langkah awal kesuksesan. Sehingga kelak dia bisa menikmati buah manis atas perjuangannya itu. Namun banyak juga yang kemudian melempem ketika orang lain menyepelekan idenya. Akhirnya ide briliannya akan lenyap bersama angin lalu.

Mengolah ide tentang apapun adalah seperti belajar berjalan. Ia membutuhkan dorongan dan dukungan semangat dari orang lain. Ia juga memerlukan koreksi dan masukan untuk membuatnya sempurna. Oleh karenanya saya pernah menuliskan bahwa kita harus berhati-hati ketika mengkomunikasikan ide kita. Kita harus memilih partner yang tepat untuk membicarakan ide bagus yang kita miliki. Siapapun mereka.

Benar kita memang bukan bayi seperti Muti. Kita tidak selalu membutuhkan semangat dari orang lain. Para motivator pun selalu menekankan agar kita selalu fokus dan konsisten meskipun orang lain sama sekali tidak mendukung ide kita yang hebat. Namun alangkah lebih kuatnya kita ketika memiliki orang-orang menyemangati kita, mendukung kita dan mengkoreksi kita dengan cara yang bijaksana. Coba jujur, siapa sih yang suka dikritik? Meski bilang kritiklah saya, tetapi saat dikritik pasti ada rasa kecewa, sekecil apapun. Lalu menyadari bahwa kritik itu membangun, maka orang akan segera mengambil hikmahnya. Begitu.

Karena segala sesuatu saling berhubungan, kita pun membutuhkan orang lain. Menuntut diri kita untuk bersikap sebaik-baiknya dengan orang lain. Mendengarkan lebih banyak akan melatih kita bersikap bijak ketika bereaksi terhadap ide dan pendapat orang lain. Sesungguhnya kehidupan akan penuh dengan warna dengan ide-ide baru dan penuh kesegaran. Seperti belajar berjalan mari kita saling menyemangati.

Pertama kali di terbitkan di FerdianAdi.com : 11 Mei 2009

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *