tidak menulis itu dosa

Tidak Menulis Itu Dosa

Perkara tulis menulis bukan hal yang mudah bagi setiap orang. Apalagi menghadirkan tulisan yang berkualitas atau karya tulis. Namun menulis menjadi hak bagi setiap orang. Secara sederhana, menulis di buku harian atau diari pun menjadi kegiatan menulis bagi seseorang dengan berbagai alasan. Pada era teknologi yang semakin canggih ini pun akhirnya jurnal harian bisa dibaca oleh orang di seluruh dunia. Blogging telah menjadi sebuah wadah baru bagi seseorang yang ingin menyalurkan keinginannya menulis. Namun memang tidak semuanya bisa di sebut karya tulis. Saya sendiri membayangkan, apakah kelak tulisan saya bisa disebut karya tulis? Karena keinginan menulis yang kuat ini belum sepenuhnya diimbangi dengan ilmu menulis yang baik.

Namun hal itu tidak menjadi hambatan utama. Karena, belajar dari para penulis sukses terdahulu, menulis itu tidak dibayangkan saja. Tetapi harus dimulai. Mulai untuk menulis. Sudah banyak artikel dan buku tentang menulis. Seperti halnya hari ini saya membaca sebuah buku tentang menulis. Judulnya MENYINGKAP RAHASIA JADI PENULIS. Buku ini ditulis oleh Wisnu Arya Wardhana dan Ardi Suryo Ardianto. Buku ini menarik, bagi saya yang sedang belajar menulis. Pada bagian pembuka mereka menuliskan hal yang saya – dan mungkin juga anda – rasakan. Bahwa kebanyakan orang lebih menyukai kegiatan membaca daripada menulis. Padahal menulis dan membaca adalah kegiatan berbahasa dan berkomunikasi yang diperlukan masyarakat yang ingin maju. Benar tidak?

Kenyataannya memang kegiatan menulis tidak semudah membaca. Karena sepanjang pengetahuan saya membaca adalah kegiatan pasif menikmati sebuah tulisan. Sedangkan menulis adalah mengungkapkan kembali pengetahuan yang didapat dengan pendapat pribadi dan kata-kata sendiri. Penulis bisa menambahkan nilai sehingga muncul pengetahuan baru sebagai sebuah ilmu atau merevisi pengetahuan sebelumnya. Nah, hambatan untuk menulis adalah kegiatan membaca yang minim dan kurangnya kemampuan berbahasa. Setidaknya itu yang saya evaluasi dari diri saya ketika membaca buku diatas.

Kemudian penulis buku diatas melanjutkan dengan perlunya motivasi untuk mulai menulis. Bagi penulis motivasi utama menulis – karena kita bangsa yang religius – adalah menyebarkan ilmu pengetahuan dan itu bernilai ibadah. Sebaliknya apabila kita tidak menulis – bahkan dengan niat untuk menyembunyikan ilmu – maka itu adalah perbuatan dosa. Malas menulis pun identik dengan menyembunyikan ilmu. Meski penulis juga menyatakan, tentunya hal itu tidak berlaku untuk orang-orang yang tidak tahu menulis dan memang tidak berniat menyembunyikan ilmunya. Ini yang menggelitik pemikiran saya dan membuat saya tertawa kecil. Akhirnya terbersitlah ide untuk menulis posting ini. Tidak menulis itu dosa :D. Tentu itu hanya sekedar pemisalan. Nah, supaya tidak dosa, mari kita menulis saja..hehehe.

 

Pertama kali di terbitkan di FerdianAdi.com : 31 Maret 2009

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *