Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi
inspirasi marketing

7 Inspirasi Marketing dari Sayuti

Sayuti namanya, dia anggota baru di training provider yang saya kelola. Seorang bapak muda dengan satu anak yang masih belum setahun usianya. Meski anggota baru,tetapi sudah beberapa waktu mengenalnya. Sebelumnya dia lebih banyak menjadi freelance support kami.

Pas kemarin sore sebelum pulang, karena perut seperti tidak bisa diajak kompromi, saya memutuskan untuk memesan semangkuk mie di sebelah kantor. Ternyata ada Sayuti disana yang juga memutuskan hal sama. Jadilah kami duduk berdua, makan dan berbincang-bincang kecil.

Saya mulai dengan menyinggung soal bisnis jual beli burung yang ditekuninya. Saya telah mendengar Sayuti bisnis burung, tapi belum pernah dengar ceritanya secara langsung. Namun, kemarin sore itu saya mendengarkan ceritanya dengan asyik. Meski mungkin bisa jadi bagi orang lain sederhana, bagi saya apa yang dilakukannya sangat menarik.

Sayuti bercerita bahwa ia baru menjalankan bisnis jual beli burungnya ini selama 3 bulan. Dia memulainya hanya dengan membeli burung seharga Rp. 25.000. Iseng-iseng ia tawarkan melalui media internet dan laku Rp. 55.000. Ia simpan keuntungan tersebut, ia beli kembali burung lainnya,lalu untung Rp. 45.000. Ia lalu membeli sepasang dan terus demikian. Ia bisa mengantungi keuntungan bersih Rp. 1.000.000 hingga Rp. 1.300.000 per bulan.

Saya banyak tersenyum karena inspirasi yang mengalir. Ada beberapa poin yang saya catat. Sangat menarik ketika mengetahui bahwa ia melakukan segala sesuatunya dengan otodidak.

Sayuti berusaha mengembangkan pengetahuannya mengenai burung-burung yang ia pelihara dan bagaimana meningkatkan kualitasnya, juga dengan media internet. Ia praktekkan apa yang dipelajari dan berhasil meningkatkan kualitas burung-burungnya. Walhasil, appraisal terhadap burung-burungnya juga meningkat. Keuntungan lebih besar yang juga ia dapatkan.

Inspirasi pertama, nothing is impossible as long as you have courage to learn.

Sebagai penjual, Sayuti berkomunikasi dengan lead prospect calon kliennya sangat baik. Ketika si calon klien berkomunikasi di awal, Sayuti berusaha memaparkan komoditas yang dijualnya selengkap mungkin. Dengan media Blackberry Messenger, WhatsApp ataupun WeChat, Sayuti selalu mengirimkan photo-photo burung yang dijualnya secara detail dari berbagai sisi. Dia ingin calon pembelinya mampu menilai produknya bahkan sebelum melihatnya langsung. Calon pembeli burung biasanya memantau beberapa waktu untuk mengetahui bahwa komoditas tersebut sesuai yang dikehendakinya. Ketika mereka melanjutkan proses dengan melihat langsung dan diakhiri dengan transaksi pembelian, artinya jelas mereka puas dengan presentasi Sayuti.

Inspirasi kedua adalah transparansi dan costumer experience satisfaction.

Meski masih baru ketika menekuni dunia jual beli burung ini, Sayuti menyatakan bahwa relasinya sudah cukup banyak. Bahkan salah satu pejabat di DPRD Kulonprogo menjadi pelanggan dia. Bagi dia itu credit point. Karena dia yakin, pelanggan berpengaruh akan menjadi media promosi yang sangat baik.

Inspirasi ketiga, find buzzer and influencer.

Relasi bukan hanya konsumen. Sayuti akhirnya banyak berkawan dengan sesama pedagang atau peternak burung. Mereka pun heran, karena Sayuti mampu melakukan penjualan setiap burung yang dimilikinya dengan cepat. Bahkan seringkali ketika para peternak dan pedagang burung ini putus asa tak mampu melakukan penjualan, mereka memutuskan untuk join venture dengan Sayuti. Mereka menitipkan produknya ke Sayuti dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ia bisa menjualnya. Lagi-lagi Sayuti mengatakan kepada saya, “Alhamdulillah Pak Ferdi, saya bisa meyakinkan konsumen-konsumen saya.”

Inspirasi keempat adalah conversion competency.

Sayuti memiliki kemampuan baik untuk mengkonversi lead prospect menjadi buyer sesuai core-nya dan ciri khas pribadi.

Setelah membeli, biasanya para konsumen ini kemudian juga menghubungi Sayuti kembali. Terutama berkonsultasi mengenai kualitas burung yang dibelinya dan bagaimana cara meningkatkan kualitas burung tersebut. Dengan senang hati Sayuti menjelaskan setiap tahap dan tips agar konsumennya tersebut mampu memelihara burung yang dibelinya dengan baik bahkan meningkatkan kualitasnya. Sayuti menyatakan apa yang disampaikannya sesuai apa yang dilakukannya, yang ia pelajari dengan otodidak.

“Jadi tidak hanya teori Pak, karena saya mempraktekannya dan berhasil,” ungkapnya gamblang.

“Saya juga berusaha melayani mereka setulus hati”, lanjutnya.

Inspirasi kelima, maximum after sales service.

Berbisnis bukan tanpa tantangan. Ketika cukup optimal memasarkan burung-burungnya secara online, ternyata ada persaingan yang tidak sehat. Ada orang-orang yang mencantumkan nomor telepon Sayuti dalam penjualan online, namun dengan harga yang dijatuhkan dan tidak rasional. Hal ini tentu merusak pasar online Sayuti dan bisa jadi merusak online credibility-nya.

Hal ini tetap disikapi positif oleh Sayuti.

“Saya tidak khawatir Pak, saya selalu mencatat setiap penanya dan pembeli saya. Saya selalu menginformasikan stok terbaru yang saya miliki. Saya punya sekumpulan pelanggan yang selalu siap menunggu dan menanyakan stok terbaru saya. Saya berusaha membangun komunikasi yang berlanjut.”

Inspirasi keenam, seperti kata Seth Godin: create your own tribe.

Membangun suku anda sendiri. Membangun komunitas yang akan mendengar dan mengikuti apa yang anda lakukan. Komunitas yang bisa jadi tidak hanya closing pada persoalan jual beli. Tetapi berbagi ide dan nilai. Menurut saya itu yang Sayuti lakukan di pelajaran kelima dan keenam ini.

Namun bagi Sayuti, dari semua proses jual dan beli itu, masih keinginannya yang belum terpenuhi.

“Apa itu Yut?”, tanya saya.

“Membeli Kenari Yorkshire, itu target saya. Cita-cita saya itu Pak…,itu Kenari dengan harga Rp. 7 Jutaan…”

Meski sepertinya itu menjadi bagian dari kesenangan Sayuti, bagi saya, itu Inspirasi ketujuh, DREAMS. Impian, keinginan dan cita-cita pada akhirnya menjadi alasan pemuncak bagi kita untuk terus bertumbuh.

Saya jadi semakin tersenyum-senyum membuat tulisan ini. Bisa jadi bahkan Sayuti melakukan proses apa yang disebut Hermawan Kartajaya sebagai New Wave Marketing, dalam konteks ter-Connect dan meng-Connect. Walau secara optimal belum seutuhnya, namun dengan content dan true information dalam materi promosinya, ia memahami bahwa pemasaran sudahlah horizontal. Konsumen mampu melakukan penilaian secara objektif dan cepat. Apalagi communitization bisa menjadi hasil ketika ia bisa menjadi rujukan valid dalam dunia perburungan kelak.

Buat Sayuti, tulisan ini tetap tentang jualan burung kok…cuma dengan sedikit marketing exploration versi saya hehehe, kita cuma ngobrol 15 menit mungkin ya..but it is enough for me to dig deeper on the land of inspiration. Maturnuwun.

***

Tulisan ini untuk saudara-saudara saya Marketing Hebat di Centragama, Centrasafety, Jogja Training and Career Center, Bexcellent Consultant, Conversa Indotama, Evioplus Consultant, Dago Consultant, PerformaPlus Consultant, Primasindo Consultant, Conversa Indo Consult, Bexpert IndoConsult dan Neo Talenta. Best Generation!

Pertama kali diposting pada 7 Januari 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *