Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi
benarkah mudik

Benarkah Mudik?

Akhirnya saya menjadi bagian dari rombongan migrasi sementara yang mungkin jika dibuat lukisan statistik dan grafis diatas peta hasilnya akan menjadi garis bersilangan, berpotongan dan bersinggungan satu dan yang lain. Akan tetapi semuanya akan bertemu pada satu titik, Keluarga. Itulah yang kita sebut sebagai mudik.

Tidak peduli besar atau kecilnya jumlah keluarga tempat anda kembali, ada suasana dan rasa yang gegap gempita dalam hati ketika melakukan aktifitas tahunan ini yang umumnya terjadi di penghujung Ramadhan mulia. Demikian pula seharusnya, tidak peduli besar atau kecil jumlah uang yang anda bawa saat pulang mudik, kebahagiaannya tetap bersemayam di sanubari kita masing-masing.

Terlebih lagi, esensi Ramadhan yang disebut-sebut sebagai bulan tarbiyah atau pendidikan telah menghantarkan kita menghikmati perkara-perkara transenden-ilahiyah yang bisa jadi banyak tertutupi urusan bumi yang menyita selama 11 bulan sebelumnya. Hikmat tersebut telah memantik kesadaran kita. Sadar untuk sujud lebih dalam. Sadar untuk berbagi lebih banyak. Sadar untuk menahan diri. Sadar untuk mengukuhkan hati saat godaan mendera. Sadar untuk tidak menyakiti. Sadar untuk berdoa yang lebih bermakna. Doa yang terpanjat bukan hanya untuk diri kita pribadi. Namun juga doa untuk orang-orang yang kita cintai.

Bisa jadi ikatan doa itulah yang membuat perjalanan mudik kita terasa lebih berharga. Apalagi anda yang harus terpaut jauh secara ruang dan waktu dengan keluarga anda. Annual moment semacam ini menjadi catatan kebahagiaan yang tak terperi. Anda bisa jadi tidak peduli beratus-ratus kilometer harus anda tempuh dibelakang setir mobil ataupun setang motor anda. Anda juga mungkin tidak peduli berjam-jam anda harus antri demi selembar tiket yang menjadi kartu sakti anda untuk bisa menaiki salah satu moda transportasi publik yang akan mengantarkan anda. Seperti halnya anda ingin mengantarkan doa anda langsung kepada orang-orang yang selama ini hanya bisa anda sebut dalam doa anda. Inilah manifestasi.

Entah bagaimana anda mengungkapkan perasaan anda saat mudik, saya yakin ada nuansa yang sama dihati. Alhamdulillah, tahun ini kita diberikan kesempatan untuk mudik. Saya mengajak anda yang juga bisa pulang mudik untuk bisa benar-benar mensyukurinya. Anda masih bisa melihat senyum orang-orang yang anda cintai saat ini. Anda masih bisa berbagi kehangatan dan cinta dengan mereka. Anda pun masih bisa mengekalkan tali silaturahmi dan saling memaafkan jika ada yang masih mengganjal dihati.

Sebuah kemestian untuk mensyukurinya. Karena ada derajat mudik yang lebih dahsyat yang kita tidak pernah tahu kapan akan melakukannya. Anda mudik ke kampung halaman bisa jadi karena anda sangat menginginkannya ataupun ada keluarga anda yang meminta anda pulang.

Bagaimana jika Alloh SWT menghendaki kita melakukan perjalanan mudik yang sesungguhnya? Mudik ke hadirat-Nya. Maka dalam kondisi ini sesungguhnya Alloh SWT yang sangat menghendaki kepulangan mudik kita. Secara manusiawi bisa jadi batin ini akan menjawab belum menginginkannya. Akan tetapi, perjalanan mudik kembali ke Hadirat Alloh SWT ini tidak pernah bisa kita tolak. Seberapapun cerdasnya anda berdebat dan berdialektika untuk mempertahankan sebuah pendapat, mudik ke Hadirat Alloh SWT adalah sesuatu yang tidak bisa anda perdebatkan dan dijadikan polemik.

Maka, saran saya, hindarkan polemik dan perdebatan apapun saat mudik ke kampung halaman anda. –If you understand what I mean- …hehehe-.

Mending anda isi suasana Idul Fitri anda dengan silaturahmi, kesadaran dan persiapan akan “mudik” yang sesungguhnya. Inilah implementasi. Dan jika kita masih menjumpai Syawal hingga Ramadhan yang akan datang, dengan demikian Alloh SWT, masih memberikan kesempatan kita mematangkan rencana kita dan persiapan kita untuk “mudik” ke Hadirat-Nya lebih baik lagi.

***

Alhamdulillah, saya telah sampai di Kota Kudus. Kota kelahiran istri saya. Kami pun sangat mensyukuri masih bisa berjumpa dan menatap telaga damai di mata ayahanda kami. Karena ibunda kami telah mendahului kami pulang kembali ke Rahmatullah setahun yang lampau. Kami bersyukur masih bisa berbagi kebahagiaan disini. Untuk keluarga di Cilacap, doa yang dalam saya panjatkan untuk ayahanda dan ibunda disana serta adik-adik dan saudara sekalian meski tak berjumpa langsung. Saya mencoba menggugah kesadaran diri atas “mudik” yang sesungguhnya.

Bagi anda yang membaca tulisan saya, pada akhir Ramadhan 1435 H ini izinkanlah saya, Ferdian Adi Prasetyo memohon maaf lahir dan batin dari lubuk hati terdalam. Sebagai insan yang tak lepas dari kesalahan dan dosa. Saya sungguh berharap kita bisa saling memaafkan dan membangun silaturahmi baru. Semoga Alloh SWT mengampuni dosa-dosa kita dan mengizinkan kita untuk bisa benar-benar mempersiapkan diri sebelum tiba giliran kita “mudik” ke Hadirat-Nya. Aamiin.

Note:

Maturnuwun Pak Bambang Wahyu Nugroho, atas inspirasi ceramah 3 Aspek Ketakwaan Manusia: Kesadaran, Manifestasi dan Implementasi, di Amarta Multi Corporation, Kamis 27 Ramadhan 1435 H.

Pertama kali diposting pada 27 Juli 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.