Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi

Berapa Harga Anda Per Jam?

Pagi yang indah. Seperti biasa selalu begitu indah. Harus senantiasa begitu. Tak bijak kita murung dan merasa berat memulai hari, karena Tuhan telah begitu sempurna kasih sayang-Nya. Menghidupkan kita setelah kematian kita.

Saya duduk di beranda ditemani istri dan si pipi chubby, anak saya tercinta. Sambil menikmati kopi kami berbincang. Tiba-tiba istri saya beranjak sebentar masuk kerumah dan kembali lagi dengan membawa sebuah brosur tercetak dikertas yang eksklusif.

“Ini Pak Ferdi, proposal pengajuanku..”, kata istri saya sambil tersenyum jenaka.

Ternyata sebuah brosur penawaran perumahan elit. Lokasinya tak jauh dari rumah kontrakan kami yang biasa. Saya pun ikut tersenyum kecut. Soalnya sungguh tidak memungkinkan bisa memiliki rumah di kompleks elit seperti itu, untuk saat ini. Ketika kemudian saya buka brosur tersebut dan melihat daftar harganya, saya hanya berceletuk,

“What???! Rp. 756.000.000,- cash??!!” .

Kalau mau dicicil pun, uang muka harus Rp. 200 jutaan saudara-saudara!

Saya tertawa. Istri juga tertawa. Kemudian dia menepuk-nepuk pipi saya dengan sayang dan berkata,

“It’s just a dream my love. I feel grateful for everything we have now.”

Ternyata dihari sebelumnya, istri saya pergi membeli beberapa keperluan disebuah pusat perbelanjaan. Disana dia melewati sebuah stand developer perumahan elit. Seorang sales marketing developer perumahan tersebut memberikan brosur penawarannya.

Kami memang berencana membangun rumah. Namun, bukan dengan harga selangit seperti itu. Bagi kami saat ini, cukuplah itu sebagai tempat bernaung yang baik untuk kami dan anak kami. Tapi disisi lain ketika melihat kembali brosur penawaran tersebut, kami sempat berdiskusi kecil.

Saya mencoba berhitung. Semisal saya menginginkan perumahan elit tersebut dalam waktu satu tahun kedepan dan dibayar cash. Maka saya coba bagi harga satu rumah dengan jumlah hari dalam waktu satu tahun. Maka hasil yang saya dapat, saya harus memiliki uang sejumlah Rp. 2.071.232,- per hari. Kemudian saya coba bagi lagi dengan jumlah jam dalam waktu satu hari. Hasil yang saya dapat adalah saya harus mampu menghasilkan Rp. 86.301,- per jam.

Saya dan istri tertawa-tawa kecil kembali. Menemukan sesuatu yang sebenarnya sudah seharusnya diketahui. Karena memang segala sesuatu ada ukuran-ukuran dan keteraturan yang pasti. Tinggal bagaimana caranya kita mampu memenuhi ukuran-ukuran tersebut dengan ikhtiar kuat dan penuh motivasi.

Dengan iseng menghitung-hitung harga rumah tersebut tadi, kami jadi mengerti berapa nilai yang harus disimpan setiap hari. Kami juga menjadi semakin mengerti apa-apa yang dikatakan oleh para penutur kebajikan, para penganjur kesuksesan dan para penuntun pada tujuan, mengenai makna dari afirmasi. Mengenai sebuah tujuan besar yang ingin dicapai. Ada waktu untuk memulai, ada langkah kecil yang harus dibuat ada komitmen yang harus dibangun setiap hari serta perbaikan yang tiada berhenti.

Saya menganggap, harga rumah di kompleks elit yang saya baca tersebut sebagai sebuah inspirasi untuk pencapaian impian. Nilainya adalah harga per jam yang harus dicapai, sebagai langkah kecil atau mungkin batu bata-batu bata yang disusun sedemikian rupa menjadi bangunan rumah yang diimpikan.

Kian hari saya semakin tersadar dengan peristiwa-peristiwa dan bukti-bukti dari Tuhan, bahwa ia benar-benar menjawab apa yang sesungguhnya kita impikan. Kadangkala kita bahkan tidak sadar jika Tuhan telah menjawab doa kita dengan cara yang lain. Tuhan memberikan kesempatan hidup yang luar biasa hari ini. Untuk memperjuangkan doa yang sesungguhnya adalah tuntutan pada diri untuk berbakti dan mendapatkan kepantasan Tuhan.

Berapa harga kita per jam adalah apa yang kita perjuangkan. Hasil dikemudian hari adalah akibat dari yang kita perjuangkan setiap jam.

Jadi saudaraku….berapa harga anda per jam?

Diposting pertama kali oleh Ferdian Adi pada 4 Oktober 2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.