Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi
jamaah sungguh terlalu

Jamaah Sungguh Terlalu

Akhir-akhir ini saya sering memperhatikan pola perilaku orang-orang saat menunaikan ibadah berjamaah. Sebenarnya sudah lama sih, perilaku tersebut saya lihat. Cuma, karena intensitas ibadah Romadhon yang tinggi, membuat saya sering menemukan fenomena tersebut. Saya pun bukan dalam koridor untuk mengoreksi, karena bisa jadi masih banyak perilaku ibadah saya harus di koreksi juga. Namun hal ini bisa jadi menarik buat anda juga sebagai pelaku ibadah.

Begitu masifnya produksi dan pasar handphone di Indonesia apalagi berkategori smartphone, membuat hampir semua orang memilikinya. Namanya perilaku konsumen pasti beragam. Termasuk konsumen yang dia juga jamaah di masjid. Sering sekali diantara kita tidak ketinggalan membawa handphonenya ke masjid. Namun banyak diantara kita yang masih tidak menggunakan etika saat membawanya kedalam masjid ataupun saat menunaikan ibadah bersama.

Beberapa kali saya menemukan ketika sedang mendengarkan Khutbah Jum’at ada jamaah baik di kiri atau kanan saya yang membawa handphonenya. Tidak cuma membawanya, mereka justru menggunakannya saat Khatib sedang membacakan khutbahnya. Apalagi dengan fitur chat messenger yang saat ini hampir ada di semua perangkat handphone. Kebanyakan anak-anak muda yang mereka begitu aktif menggunakannya, terlalunya mereka menggunakannya untuk berbalas pesan saat seharusnya duduk hikmat mendengarkan nasihat dalam khutbah.

Peringatan yang banyak ditulis untuk mematikan handphone ataupun membuatnya menjadi mode silent nampaknya tidak dipedulikan. Padahal juga seringkali sebelum khutbah dimulai petugas masjid sudah mengingatkannya juga secara lisan. Bagi saya seharusnya peringatan tersebut benar-benar untuk mematikan handphonenya. Karena kenyataannya, meski di buat mode silent, sinyal dan notifikasi handphone saat ada pesan ataupun panggilan masuk sering mengakibatkan gangguan suara cukup keras pada sound system yang ada di masjid. Bahkan sangat disayangkan, ada beberapa imam yang lalai dengan hal ini juga. Sehingga sangat mengganggu kekhusyukan ibadah.

Saya pribadi hampir tidak pernah membawa perangkat handphone ataupun gadget apapun ke dalam masjid. Semisal sholat Juma’t di dekat tempat bekerja, saya memilih meninggalkan handphone tersebut di tempat kerja. Jika sholat berjamaah di masjid dekat rumah, lebih-lebih lagi, saya merasa tidak penting untuk membawanya. Bahkan saat sholat tarawih sepanjang Ramadhan kemarin saya melihat ada seorang tetangga yang senantiasa membawa handphonenya dan meletakkannya di depan tempat ia bersujud. Padahal saya tahu, pekerjaannya pun tidak menuntutnya sedemikian rupa untuk menerima panggilan. Saya heran, seberapa penting sebenarnya ia menganggap sebuah panggilan ataupun pesan dari sesama manusia, ketika ia sejatinya sedang berusaha menangkap pesan ilahiyah dalam sholat, dzikir dan doanya?

Tidak hanya pada saat sholat atau mendengarkan khutbah saja, mengendalikan diri untuk tidak menggunakan perangkat handphone ini juga seharusnya kita lakukan ketika memang berniat untuk mengikuti tausiyah atau nasihat yang disampaikan dalam pengajian. Sehingga affirmasi dan kebaikan dari setiap tutur kata sang pemberi nasihat benar-benar mampu kita resapi.

Ketika Sholat Idul Fitri kemarin saya semakin merasa heran dengan perilaku jamaah. Ketika saya memutuskan mendengar khutbah berdiri sambil menggendong anak saya yang rewel, saya bisa melihat jamaah yang duduk disekitar saya. Seperti halnya saya duga, banyak diantaranya asyik dengan handphonenya. Lebih parahnya lagi, tanpa sengaja jamaah yang duduk disebelah saya justru melihat photo-photo display picture wajah beberapa wanita yang ada di koneksi chat messengernya. Saya semakin menggeleng-gelengkan kepala.

Lebih terlalunya lagi, saya mencium asap rokok dan menyaksikan beberapa jamaah yang duduk sedemikian nikmatnya sambil menghisap rokok. Padahal khatib masih berkhutbah. Bahkan, ada salah satu jamaah yang anaknya mengibas-ngibaskan tangannya dengan ekspresi kesal karena asap rokok bapaknya yang mengenai wajah dan mengganggu nafasnya. Saya beristighfar. Seorang bapak yang seharusnya menjauhkan rokok dari anaknya sejauh-jauhnya dalam hal apapun, justru ini mencontohkannya dengan cara yang sangat buruk, bahkan saaat melaksanakan ibadah.

Hal-hal yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang saat ini seharusnya menjadi perhatian bagi masing-masing pribadi. Nilai ibadah menjadi tak bermakna ketika kita tidak mulai memperbaikinya dari hal-hal yang sederhana. Mulai dari diri kita sendiri. Mulai saat ini juga.

Pertama kali di posting pada 30 Juli 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.