Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi

Menyoal Jogja Kurang Kreatif?

Sambil makan siang di sebuah warung makan, saya pinjam dan baca koran disitu. Rasanya nikmat makan sambil membaca..hehe. Mata saya terhenti pada sebuah judul artikel. Meski di kolom bawahnya ada profil seorang gadis cantik, saya tidak tertarik. Artikel yang saya maksud jauh lebih menarik. Semenarik rasa ingin menuliskannya kembali dalam blog saya ini. Artikel ini ada di Tribun Jogja, tertanggal 17 Februari 2015, halaman 13 dengan judul : PEMBINAAN INDUSTRI KREATIF KURANG.

Saya ambil gambar artikel tersebut seperti ini:

Setiba kembali di kantor saya coba menjelajah berita tersebut dan saya menemukan liputan serupa di KRJOGJA.COM. Herannya, saya menemukan ada redaksi yang berbeda. Di Koran Tribun Jogja dinyatakan “dari 14 jenis industri kreatif, hanya satu jenis yang mendapatkan pembinaan intensif.”. Sedangkan di KRJOGJA.COM, pada paragraph pertama dituliskan “dari 15 sub sektor industri kreatif yang ditetapkan pemerintah, ternyata baru satu sub sektor saja yang disentuh.” Halo? colek jurnalis KR dan Tribun.

Masalahnya adalah di Yogyakarta yang katanya buanyak orang kreatif ini (mungkin pendapat Flo berbeda..hihihi), ternyata perhatian pemerintah masih sungguh kurang kreatif. Coba anda simak pada paragraph 5 dan 6, Menurut orang nomor satu di Disperindagkoptan tersebut, keterbatasan mereka melakukan pembinaan ke industri kreatif lainnya adalah karena “keterbatasan”, seperti misalnya materi pembinaan. Beliau menyatakan kemampuan mereka hanya memberikan materi dasar, ketika peserta minta materi lanjutan, pernyataan selanjutnya adalah “mau tidak mau juga tidak bisa dilanjutkan”

Sekali lagi, jurnalis KR menuliskannya sedikit berbeda, bahwa “pihaknya sempat ingin menjangkau sektor lain. Namun kewenangan instansinya cukup terbatas, sehingga hanya fashion yang baru dikembangkan Disperindagkoptan.”

Saya geleng-geleng kepala sendiri dengan statement-statement ini. Lagi-lagi menurut saya ini pernyataan yang sungguh “kurang kreatif” di paragraph 7 kalimat terakhir adalah “Selain itu, Disperindagkoptan Kota Yogyakarta juga masih kesulitan untuk membedakan mana industri biasa dan mana industri kreatif.”

Sebentar, saya nggak akan membahas persoalan redaksional dimasing-masing media tersebut. Cuma ada hal-hal yang menjadi banyak bahan pertanyaan mengenai kinerja “mendukung” dan “membina” industri kreatif ini. Keterbatasan-keterbatasan semacam apa yang mendasar sebenarnya? Karena jika itu masalah materi pembinaan, ya ampun..Jogja ini gudangnya pakar, banyak lembaga pengembangan SDM dan konsultan, termasuk saya juga pelaku di bidang pelatihan dan pengembangan SDM.

Apakah tidak ada eksplorasi dari Disperindagkoptan terhadap sumber daya ahli di Yogyakarta? Tidakkah bapak-bapak berusaha berkomunikasi dan berkonsultasi dengan banyak pakar dan pelaku pengembangan usaha yang sudah mencapai puncak di Jogja? Sehingga pernyataan “mau tidak mau juga tidak bisa dilanjutkan” bahkan “tidak bisa membedakan industri kreatif dan industri biasa itu sesuatu yang sungguh naif menurut saya.

Jika memang Pemerintah Kota Jogja khususnya Disperindagkoptan memiliki “keterbatasan kreatifitas” untuk mengembangkan “industri kreatif”, maka sudah semestinya ada undangan keterlibatan masyarakat yang memiliki kompetensi. Karena selama ini pun kreatifitas untuk berperan mengembangkan industri kreatif di Jogja oleh masyarakat Jogja sendiri bisa jadi sudah terjadi secara mandiri. Jika memang demikian loh ya? Nggak ada “persoalan sengaja membatasi sendiri” …#hehehe, if you understand what I mean.

Maka benar jika Rifki Listianto dari DPRD meminta pemanfaatan dana untuk dikaji ulang. Saya pikir Rp. 638 Juta untuk pembinaan wirausaha dan Rp. 800 Juta untuk pengadaan alat kerja harus bisa seefektif dan seefisien mungkin. Ini pun menjadi kesempatan bagus bagi kita di Kota Yogyakarta yang hendak melakukan pengembangan usaha kreatif. Kita berhak untuk menuntut bahwa usaha pembinaan industri kreatif ini tidak setengah hati.

Jadi, siapa yang kurang kreatif?

Note:

  • Pertama kali di posting pada 17 Februari 2015
  • Image Resources: kurniahartawinata.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.