Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi
personal boundaries

Ora Jor-Joran: Protection Of Personal Boundaries

Kali ini saya ingin memuat sebuah artikel yang saya baca didalam penerbangan Sriwijaya Air. Inflight Magazine biasanya menawarkan artikel-artikel travelling mengasyikan, namun kadang saya lebih menikmati rubrik inspirasi didalamnya. Atas ijin dari penulisnya, saya diperbolehkan menuliskannya kembali di blog saya ini dan sedikit menambahkan pemikiran saya. Berikut tulisannya;

————————

Energi Negatif vs Personal Boundaries

Oleh: Erwin Yap

Pernahkah bertemu seseorang dengan karakter yang cukup tidak menyenangkan? Saya harap itu bukan anda atau orang-orang disekitar anda. Semoga saat membaca tulisan ini anda sedang tidak mengalaminya dan orang tersebut duduk disebelah anda.

Sebenarnya pemikiran ini berawal dari pertanyaan salah satu peserta kepada saya selaku pembicara di sebuah acara. Peserta itu seorang ibu yang menanyakan cara untuk melawan energi negatif. Sebuah pertanyaan yang bagus dan menjadi korelasi antara pertanyaan saya sebelumnya tentang karakter seseorang. Belakangan ini saya bertemu beberapa orang dengan karakter yang menyebarkan energi negatif. Orang seperti ini cenderung sebagai orang yang memiliki ego tinggi, mau dipuji dan hanya senang untuk didengarkan. Terdengar seperti orang yang tidak baik bukan?

Tunggu, jangan tangkap pernyataan saya tadi. Orang dengan karakter seperti yang saya sampaikan diatas bukan berarti orang yang tidak baik. Justru bisa jadi orang yang suka menolong.

Dalam sebuah proses percakapan, energi negatif yang dipancarkan seseorang berkarakter seperti itu, seperti menghunuskan pedang yang siap mencacah pemikiran lawan bicaranya sehingga kehilangan fokus. Solusinya hanya satu, yakni sebisa mungkin hindari kondisi seperti itu. Jangan berusaha menyerap segala sesuatu yang dilemparkan kepada kita sebagai lawan bicara dan biarkan saja berlalu bagai angin.

Energi negatif yang ditularkan sebagian orang bisa jadi sebuah pelanggaran personal boundaries (batasan pribadi) hingga timbul energi agresif yang membuat kita merasa tidak nyaman saat berada berdekatan dengan orang tersebut. Personal boundaries seseorang adalah sejauh rentangan tangan kanan dan kiri mengelilingi tubuh. Semakin pendek jarak antara individu dengan individu lainnya dari rentangan tangan berarti telah terjadi hubungan yang jauh lebih dekat hingga jarak nyaman menjadi lebih kecil. Menghormati personal boundaries seseorang berarti menghormati harga diri setiap manusia. Kita wajib menjaga personal boundaries yang kuat agar orang-orang yang tidak kita kehendaki memanfaatkan kita secara salah.

Seperti kita ketahui, manusia adalah makhluk sosial. Namun setiap manusia juga perlu ruang pribadi agar merasa nyaman. Namun ketahuilah, tidak hanya perilaku negatif yang mengintimidasi seseorang. Perilaku positif yang berlebihan juga bisa membuat rasa tidak nyaman. Memang sulit untuk bisa memaklumi karakter setiap orang. Tidak mudah juga untuk bisa menghadapi semua jenis karakter manusia. Semoga lewat tulisan ini, kita aware, lebih arif dan bijaksana dalam berinteraksi dengan orang-orang disekitar kita.

—————————

Diposting ulang di FerdianAdi.com pada 13 Agustus 2014 atas izin dari:

Erwin Yap
Edukator dan Konsultan Metafisika Tiongkok, Traveler, Pemerhati Seni dan Budaya
HP: 08999099889
Twitter: @erwinyap123
www.erwinyap.com
Dalam Sriwijaya In-flight Magazine Edisi 42/Agustus 2014
—————————

Bagi saya tulisan ini sangat menarik, karena bagi seseorang yang juga mengelola SDM di sebuah organisasi komersial, hubungan personal boundaries dan energi negatif juga menjadi persoalan yang seringkali muncul. Sesuatu yang kadang setengah mati saya berusaha untuk benar-benar objektif ketika membuat penilaian pada orang perorang.

Dalam kenyataannya kehidupan kita setiap hari memang tidak lepas dari intensitas hubungan antar manusia. Seperti tertulis diatas, ada banyak karakter manusia yang terhubung dengan kita sebagai pribadi yang juga memiliki personal boundaries. Saya tertarik untuk mengkaji lebih dalam dengan membaca artikel lain mengenai hal ini.

Dari beberapa literatur yang saya baca saya menyimpulkan bahwa sebagian dari kita tidak sadar dengan adanya personal boundaries atau batas-batas pribadi ini. Pengaruh energi negatif yang muncul adalah akibat ketidaksadaran kita akan personal boundaries. Apalagi ketika kita termasuk tipe pribadi yang “soft” seperti disebutkan Nina Brown, sebagai salah satu dari empat tipe psychological boundary. Tipe pribadi yang “soft” akan sangat mudah dipengaruhi dan menjadi korban “psychological manipulation”. Tindakan yang dimaksudkan untuk merubah persepsi atau tingkah laku orang lain. Jika maksud tindakan ini dengan tujuan positif hasilnya akan baik. Namun jika yang melakukan psychological manipulation sejatinya memiliki tendensi dan energi negatif maka akibat yang ditimbulkannya akan sangat buruk.

Orang baik yang dipengaruhinya pun bisa berubah dari karena mispersepsi terhadap sebuah hal. Apalagi pribadi-pribadi yang masih labil. Hal ini karena pribadi “soft” terlalu mudah terlibat secara emosional dengan pribadi lainnya. Ataupun juga pribadi “spongy” yang asal serap saja seperti spons/busa. Dia bahkan tidak paham, mana yang harus diambil ataupun mana yang harus dibuang ketika berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain.

Bisa jadi ini yang menimbulkan sebagian dari kita tidak dewasa ketika menyikapi dinamika apapun yang terjadi di sekeliling kita. Anda bisa lihat betapa morat-maritnya batas-batas pribadi atau personal boundaries banyak orang ketika ia tidak mampu mengelola persepsinya dalam urusan politik yang baru-baru saja terjadi. Hampir mirip dengan urusan persengketaan fans klub sepakbola yang satu dan yang lainnya. Walhasil, anda bisa melihat betapa dinding social media anda dipenuhi carut marut persepsi.

Sebegitu mudahnya seseorang kemudian melontarkan seburuk-buruknya makian hingga baris-baris kalimat destruktif yang saya sebut menjadi dosa sosial. Bahkan menjadi dosa yang viral dan dosa networking ketika anda kemudian melakukan aktivitas social engagement dengan “share” sesuatu yang bisa jadi anda tidak yakin dengan kebenarannya.

Adalah kita yang bisa memilih agar “personal boundaries” yang kita miliki tidak mudah terjajah. Menjadi pribadi bertipe “flexible” bisa menjadi pilihan proses ketika harus berinteraksi dengan pribadi yang lain. Pribadi “flexible” tahu mana yang harus diambil, mana yang harus ditinggalkan dan mana yang harus dijauhi ketika berinteraksi dengan pribadi yang lain. Maka yang terjadi adalah dia akan lebih berhati-hati ketika berkomunikasi dengan orang lain, dia akan lebih selektif memilih kalimat tanpa kemudian dianggap jaga image atau pencitraan, dia pun lebih mampu mengelola konten di akun social media manapun yang saat ini sedemikian rupa mendekatkan personal boundaries dan public lives. Istilah Jawanya, “Ora jor-joran”.

Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin.

Referensi untuk eksplorasi tulisan ini:

Erwin Yap dan Wikipedia

Pertama kali di posting pada 13 Agustus 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.