Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi
PALACIO DO GOVERNO

Palacio Do Governo: Day 2 @Timor Leste

Nama depannya Jose dan dia tidak mau sebutkan nama lengkapnya. Dia cuma minta dipanggil Aze. Dia menjadi liaison officer saya dan rekan-rekan dari Jogja, sejak kami sampai di Presidente Nicolau Lobato International Airport kemarin. Saya taksir usianya sekitar 40 tahun. Dia salah satu dari anggota tim GearSpeed Timor Leste. Private company di TimorLeste yang bekerjasama dengan FerdiTraining.Com dan Conversa Indotama Consulting, lembaga yang kami kelola.

Sabtu, 12 April 2014 dia menjemput kami tidak terlalu pagi di Carla Mansion, sebuah guest house di Kota Dili. Dia paham, semalam kami sudah cukup larut tidur setelah dijamu makan malam oleh Direktur GearSpeed, bapak Rui Gusmao serta berbincang panjang lebar mengenai Timor Leste dan program kerjasama pelatihan kami tentunya.

Hari ini kami memang belum memasuki agenda program. Oleh karenanya, Pak Aze –demikian saya memanggilnya- mengajak kami berkeliling Dili. Dia mengusulkan kepada kami untuk berfoto di beberapa lokasi di Dili yang bisa di upload di Facebook katanya. Hahaha, saya tertawa, sesuatu yang pasti akan saya lakukan.

Kami menyempatkan berfoto di depan Palacio do Governo, sebuah gedung pemerintahan populer tempat Xanana Gusmao berkantor sebagai Perdana Menteri. Selanjutnya, Pak Aze menyetir mobilnya menyusuri sepanjang pantai mulai dari Porto de Dili, pelabuhan perdagangan hingga pantai-pantai berpasir putih. Tempat sebagian besar orang asing menikmati matahari duduk-duduk di kursi santai. Sebagian besar warga Dili juga ternyata senang menikmati waktu di pinggir pantai.

Mobil kami terus menyusuri jalanan pinggir pantai tersebut, naik ke bukit-bukit melalui jalanan yang sedang di sempurnakan. Banyak proyek pelebaran dan perbaikan jalan. Akhirnya kami sampai di Praia De Cristo Rei. Sebuah monumen patung Jesus besar setinggi 27 meter yang terkenal menjadi ciri khas Dili. Kami harus menaiki anak tangga yang cukup banyak untuk sampai di puncak Cristo Rei. Namun sangat menyenangkan sembari mendorong fisik berolahraga.

Benar saja, saya berpapasan dan di salip beberapa orang asing yang berwisata, lengkap dengan pakaian olahraga dan sepatu running-nya. Beberapa meter sebelum sampai di puncak terdapat pelataran yang luas. Tidak terlalu banyak yang berkumpul disitu. Pak Mulyanto merasa cukup lelah sehingga memutuskan beristirahat di pelataran tersebut. Saya Pak Nur Hidayat dan Pak Aze, naik kembali hingga bertemu dengan monumen tersebut. Berwarna cokelat dan besar.

Menurut cerita Pak Rui dan Pak Aze, patung yang dibuat pada era Pemerintahan Presiden Soeharto ini sebenarnya bisa lebih besar dan tinggi lagi, seperti di Rio de Janeiro Brazil. Cuma saat itu Timor Timur merupakan provinsi ke-27, sehingga ditetapkan tingginya 27 meter saja. Dia membuka tangannya seperti menyambut siapapun yang hadir di Timor Leste ini. Sebagai muslim saya hanya menganggap ini kunjungan monumen dan bukti saya sampai di Timor Leste..hehehe.

Perjalanan kami lanjutkan dengan agenda survey ke lokasi praktik pelatihan alat berat yang akan dilaksanakan oleh Conversa Indotama dan GearSpeed Timor Leste. Kami kembali melalui bukit dengan melihat pemandangan pantai yang eksotis dan bersih. Pasir putih dan air laut yang biru. Beberapa sudut keindahan di Timor Leste ini sudah menjadi incaran investor asing. Pak Aze menunjukkan kepada kami sebuah wilayah di pinggir pantai yang indah yang disudah dikelilingi tembok untuk pembangunan Hotel atau Resort. Saya melihat potensi wisata yang memang mantap disitu.

Sambil menikmati semilir angin dalam perjalanan ini, saya tiba-tiba teringat suara lembut Rita Effendy bersenandung. Meski ini bukan bulan Januari, bolehlah kiranya kita bernyanyi Januari di Kota Dili,

Biarlah layar terkembang
Ku ingin menyeberang
Melintas pulau dan lautan
Menjemput cintaku
Belahan jiwa yang tertinggal
Di timor loro sae

Menderu ombakmu menabuh pantai
Kala tatap matamu sapa jiwaku
Membiru lautmu memeluk pasir
Kala harum nafasmu sebut namaku

reff.
Dua langit t’lah membaur
Di suatu cakrawala
Dua biduk t’lah berlabuh
Di satu dermaga cinta

Januari di kota dili
Tak terkira cinta bersemi
Januari lekas berganti
Dan terhempas cintaku

Januari di kota dili
Kian hangat dalam ingatan
Nantikanlah aku kembali
Tuk menjemput cintamu

Menguning bulanmu mengetuk malam
Dan mesra jemarimu belai sukmaku
Membias bintangmu menghias nyiur
Dan hangatnya bibirmu kecup kalbuku

Pertama kali di posting pada 12 April 2014 di Dili, Timor Leste

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.