Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi
pergantian pimpinan

Pergantian Pemimpin: Kemajuan Atau Kemunduran?

Sebuah sekolah yang meminta National English Centre – lembaga training Bahasa Inggris milik saya – untuk menjadi konsultan Pendidikan Bilingual, sedang resah dan merasa dilanda masalah. Bahkan tercetus sebuah ide untuk mengadakan demonstrasi. Entah demonstrasi kemana, saya juga belum tahu. Setelah sedikit saya mencari informasi, ternyata mereka tidak menghendaki adanya pemimpin baru disekolah mereka. Artinya mereka memang sudah terlanjur mencintai Kepala Sekolah – kita sebut Bapak X – yang sekarang memimpin sekolah tersebut. Eh, tiba-tiba saja Dinas Pendidikan mengeluarkan keputusan untuk menarik Kepala Sekolah tersebut kedalam jajaran Pengawas Sekolah, yang notabene merupakan posisi diatas Kepala Sekolah.

Bagi sebagian besar guru yang peduli dengan kemajuan sekolah mereka, program-program yang dicanangkan dan dijalankan oleh Bapak X sangat bermanfaat. Mereka merasakan bahwa Bapak X telah benar-benar membangun dan memajukan sekolah mereka ini meski baru satu tahun. Hal tersebut membuat mereka tanpa sadar membentuk opini bahwa Kepala Sekolah penggantinya tidak mampu melanjutkan kemajuan tersebut, bahkan ekstrimnya menciptakan kemunduran di sekolah mereka.

Secara pribadi saya berusaha untuk memberikan masukan dengan logika organisasi kepada beberapa guru yang merasa pesimis dengan calon kepala sekolah baru mereka. Sebenarnya dalam sebuah organisasi kemajuan didalamnya tidak saja bergantung pada kualitas pemimpin saja. Namun, secara keseluruhan organisasi harus merupakan satu kesatuan kinerja pimpinan dan anggotanya. Meski pimpinan memiliki visi yang bagus dan rencana-rencana besar, tetapi anggotanya lembek, dia tidak akan bisa menerapkannya dengan baik. Akhirnya dia tidak bisa menjadi pemimpin yang baik bila ia tidak mampu merubah kondisi anggotanya. Sebaliknya anggota sebuah organisasi yang dipenuhi pribadi-pribadi hebat namun sang pemimpin tidak mampu mengkondisikan dan menampung aspirasi mereka, maka organisasi tersebut akan dengan mudah ditinggalkan anggotanya atau sulit mencapai perkembangan.

Mungkin banyak dari kita merasakan hal yang sama bila seseorang yang sudah sangat baik memimpin kita hendak diganti oleh orang baru yang belum ketahuan kinerjanya. Kadang kita tidak mau hal baik yang sudah dibangun kemudian hilang begitu saja. Namun bukankah sikap optimisme harus senantiasa dibangun dalam kehidupan berorganisasi? Artinya, seperti kasus diatas, seharusnya para guru di sekolah tersebut harus senantiasa berusaha menerima perubahan. Apalagi perubahan tersebut merupakan mekanisme birokratis. Apakah perubahan tersebut berdampak baik atau buruk bisa dilihat dari kinerja dari Sang Pemimpin baru mereka. Kemudian mekanisme check and balances harus selalu diterapkan. Apabila program-program bagus yang sudah ada dan memang harus dilanjutkan demi kemajuan sekolah dihentikan atau diganti oleh sang pengganti, tentunya hal tersebut harus menjadi bahan koreksi dan diskusi.

Kadangkala asumsi yang tidak baik terhadap pemimpin baru mengawali kurang harmonisnya hubungan pemimpin dan anggota. Hal tersebut berlanjut dengan kinerja yang melemah serta visi dan misi yang tidak tercapai. Seharusnya segala hal dan aspirasi anggota bisa tersampaikan dan memang harus disampaikan bila itu menjadi kebaikan organisasi. Sehingga tidak muncul adanya kesimpulan bahwa sang pemimpin tidak bisa memfasilitasi kemajuan anggota. Karena sekali lagi penentu keberhasilan organisasi adalah kesatuan antara pemimpin dan anggotanya.

Diposting Pertama kali pada 8 April 2009

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *