Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi

The State Of Ramadhan

Tepat tanggal 4 Agustus yang telah lalu di pagi hari, saya tiba di Yogyakarta setelah perjalanan dari Timor Leste. Waktu menunjukkan pukul 07.30 ketika saya berjumpa dengan Pak Setiyoko, leader tim driver dikantor saya. Alhamdulillah, saya masih punya waktu untuk tiba dikantor untuk mempersiapkan agenda Pengajian Syawalan. Sebagai pembuka kinerja kami setelah menuntaskan Ramadhan dan menggenggam kebersamaan dengan keluarga selama kurang lebih satu pekan.

Agenda Syawalan ini mungkin telah berlangsung lama, setiap tahun dan terjadi di banyak tempat. Hal ini merupakan tradisi yang cukup kental dimanapun. Baik di kampung, keluarga besar, keluarga trah dan di tempat-tempat kerja yang seperti saya laksanakan. Esensinya semakin mengukuhkan silaturrahmi kita dengan saling berjabat tangan langsung dan menyatakan keikhlasannya untuk saling memaafkan.

Penutur kebaikan dalam kesempatan baik di tempat saya bekerja ini adalah Ustadz Yoyok Susetyo, seorang yang baik pengasuh Pondok Pesantren Nasrun Minalloh. Saya menuliskan kembali dengan interpretasi saya atas inspirasi yang beliau tuturkan. Beliau membuka forum kami ini dengan membacakan sebuah hadits.

ad-Dunya daru man la dara lahu, wa malu man la mala lahu wa laha yajma’ man la ‘aqla lahu (Dunia adalah tempat bagi orang yang tidak mempunyai rumah [di akhirat], dan harta bagi orang yang tidak mempunyai harta [di akhirat]. Untuknya berhimpun orang yang tidak mempunyai akal).

Statement ini menegaskan bahwa sebuah kenyataan bahwa kita sesungguhnya bukan penduduk dunia ini. Kita berada pada sebuah negara namun bukan negara kita. Segala bentuk harta yang kita sandang sejatinya pun bukan harta kita. Kita ada dalam kondisi kesementaraan. Kondisi yang ditakdirkan kepada ayahanda Adam dan Ibunda Hawa sebagai awal mula cerita kita di dunia.

Maka kita di hadapkan pada kenyataan, jika kita bukan penduduk asli dunia ini, tidakkah kita ingin kembali? Seperti halnya anda berada di kota yang jauh dari kampung halaman anda, tidakkah anda ingin mudik? (baca: BENARKAH MUDIK? Klik disini) Mudik ke tempat asal Ayahanda Adam dan Ibunda Hawa.

Dalam praktiknya, begitu banyak manusia didunia ini tidak aware. Meski diberikan pilihan terbaik. Ia lebih memilih kesementaraan. Padahal jalan untuk kembali pada tempat hakiki begitu sering diserukan dan ditunjukkan oleh para penutur kebaikan.

Ramadhan dengan rentang periode 29 hingga 30 hari dalam ukuran kita, pun menjadi momentumnya. Begitu intensifnya kalimat demi kalimat suci dari Al Qur’anul Karim dan Al Hadits di hentakkan ke dalam hati dan kepala kita sepanjang bulan ini. Begitu tergugahnya diri kita untuk bermujahadah menarik diri kita sedemikian rupa menanggalkan Ammarah dan Lawwamah demi menyongsong Mutmainnah.

Bulan ini sebagai bulan pelatihan, bulan pembinaan dan bulan pembelajaran. Ada banyak pelatihan yang tidak berlangsung lama. Demikian halnya Ramadhan. Soal berikutnya adalah apakah hasil pelatihan tersebut menimbulkan efek perbaikan pada diri seseorang selama 11 bulan selanjutnya. Dimulai pada Syawwal yang kini masih menggebu, 11 bulan merupakan proses ujian dari hasil belajar dan pelatihan kita. Ujian maha dahsyat lebih daripada Test CPNS ataupun proses kelulusan masa pendidikan di sekolah manapun. Ujian yang harus kita tempuh setiap detik sepanjang 11 bulan hingga kita memasuki Ramadhan berikutnya, jika masih waktu dan kesempatan itu berlaku untuk kita.

Masa ujian ini sebenarnya akan mudah untuk dilalui, jika kita menempatkan diri pada The State Of Ramadhan. Saya ingin merujuk pemaknaan the state of ini pada kondisi yang kita ciptakan untuk terus merasa Ramadhan. Kondisi stabil layaknya Ramadhan yang penuh dengan unsur accelerated reward dari Allah SWT. Kondisi stabil Ramadhan dengan ditunaikannya ibadah penuh semangat meski sedikit jamaah yang merapat. Kondisi stabil Ramadhan dengan mencari terus siraman kebaikan dalam kajian yang menyegarkan pikir, hati dan jiwa. Bisa jadi, 11 bulan uji ini penuh keruh dan jelaga.

Akhirnya adalah puncak kemenangan jiwa sebenar-benarnya yang sungguh kita inginkan. Adalah kerinduan Ramadhan tanpa ada selapis beban. Meski itu memang harus dilalui dengan proses menghela hati dan mengekangnya kuat dengan simpul kesadaran. Selamat menikmati 11 bulan menyambut Ramadhan yang akan datang.

Let’s create the state of Ramadhan.

Note:

  • Image source – Dakwatuna
  • Pertama kali di posting pada 4 Agustus 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.