Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi
JOGJA 5 NOVEMBER 2018

Wajah Jogja 5 November 2010

Jam menunjukkan pukul 03.17, ketika saya terbangun dan membuka SMS dari seorang teman, yang mengatakan bahwa Merapi meletus dan menyebabkan hujan abu yang cukup besar. Serta merta saya bangun, membuka pintu depan rumah dan melihat halaman dan teras rumah sudah kotor penuh abu namun tidak setebal beberapa hari sebelumnya. Tidak saya rasakan juga ada hujan abu, mungkin sudah selesai, pikir saya.

Saya kemudian menelepon adik yang tinggal di JL. Kaliurang KM. 12, khawatir, karena malam itu ia bekerja shift di sebuah warung internet. Benar adanya, ternyata hujan abu, air dan kerikil. Luar biasa. Untunglah, ia segera turun dan mengungsi ke rumah rekannya di Jalan Magelang.

Selepas subuh, saya menyalakan PC. Mengecek beberapa e-mail dan membalas pesan teman-teman di laman social network. Hingga pukul 06.15, isteri yang sedang berbelanja di depan rumah, lekas masuk kembali dan mengatakan diluar semakin pekat dengan abu.

Luar biasa, hujan abu turun kembali. Namun, karena ada tugas yang harus saya tunaikan, mau tidak mau saya keluar dari rumah juga. Lengkap dengan setelan mantel serta menutup hidung dan mulut rapat menggunakan masker. Jauh, saya harus menuju ke wilayah Seturan. Namun, saya jadi bersyukur. Meski berat dengan kondisi seperti ini, saya bisa melihat kondisi sebagian Jogja lebih dekat.
merapi meletus yogyakarta
Hampir semua orang memakai masker dan alat penutup lainnya. Namun heran juga, ada yang nekat dengan cueknya mereka berjalan kesana-kemari di antara debu bercampur abu vulkanik. Untung, saya memakai setelan mantel lengkap plus helm balap full menutup kepala. Sehingga badan tidak kotor. Banyak orang yang tidak siap dengan kondisi sepereti ini. Walhasil, hanya dengan berbekal masker wajah, baju dan motor mereka sangat tidak karuan. Kotor dan penuh serpihan-serpihan abu vulkanik yang menyapa dengan deras.

Di Jalan Sudirman, saya melihat sebuah toko mesin pompa air mengerahkan tiga orang pegawainya. Mereka menyiram jalanan yang penuh abu serta menyiram setiap kap depan dan kaca mobil yang lewat di depan toko tersebut. Sungguh tindakan terpuji!

Selalu ada hikmah di balik bencana. Demikian para penutur kebajikan berkata. Tampaknya hal tersebut juga sangat di amini oleh pedagang masker, kacamata hitam dan sarung tangan berkendara motor. Bagi para pedagang ini, hujan abu membuat dagangan mereka ini laris manis.

pedagang laris

Sederetan pedagang tersebut dengan bersemangat melayani para pembeli yang berkeinginan melindungi dirinya dari terror bernama abu vulkanik. Bisa jadi SMS berantai yang menginformasikan betapa mengerikan efek abu vulkanik, membuat mereka langsung berbondong-bondong menjadi pembawa rizki bagi para pedagang pelindung mata dan pernapasan. Alhamdulillah.

Rupa-rupanya kegiatan terpuji juga dilakukan oleh beberapa kelompok orang. Disekitar pertigaan besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, sekelompok mahasiswa tetap berusaha mengedarkan kotak-kotak kardus bertuliskan PEDULI BENCANA ALAM MERAPI. Demikian halnya ketika saya berhenti di perempatan besar pusat kota, di bawah videotron besar yang berdiri angkuh . Serombongan orang yang menyebut dirinya “Sastra Peduli Bencana” juga merelakan diri mereka berjam-jam dalam kondisi kotor berdebu untuk melakukan penggalangan dana. Dalam hati saya berdoa, guys! Semoga Berkah Tuhan juga tercurah senantiasa untuk kalian.

sastra peduli bencana

Jelas, pariwisata nampak lumpuh untuk sementara. Malioboro sedikit lengang. Taman parkir yang biasanya di sesaki bus-bus besar mengantar para pelancong kini kosong melompong. Sama sekali tidak ada bus disana. Bangunan Keraton Yogyakarta yang sudah menua pun tampak lesu, dengan pelataran bagian depan pintu masuk, sarat abu yang singgah tanpa ragu.
Sebuah hari di Jogja. Alhamdulillah, ada KODAK M1063 yang setia membantu saya merekam peristiwa-peristiwa sederhana yang terlintas. Gambar-gambar tersebut saya up load di akun Facebook saya dalam album WAJAH JOGJA 5 NOVEMBER 2010. Agar saya bisa berbagi dengan sanak saudara yang tak henti menanyakan kabar dengan cinta. Agar kita semua juga bisa menghikmati, karena hari ini adalah bagian dari sejarah.

CEK ALBUM PHOTO 5 NOVEMBER 2010, KLIK DISINI 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.