Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi

Cara Menjual Diri Anda

Sepanjang akhir pekan saya lebih sering berada dirumah. Saya memilih untuk mengajak jalan-jalan anak-anak dan istri supaya mereka tidak bosan, justru di hari-hari kerja efektif. Tapi tentu tidak siang hari ketika saya harus aktif bekerja. Biasanya sore atau malam. Minggu kemarin ini saja 2 kali kami jalan ke toko buku. Nah, akhir pekan saya jadi bisa menggarap project-project pribadi. Biasanya yang rutin project pribadi saya sih, di urusan ecommerce. Saat ini saya memiliki project untuk bisa menghasilkan sebuah karya tulis solid berbentuk buku. Sejak sabtu sore hingga tengah malam. Saya lanjutkan juga di hari Minggu.

Minggu sore dan saat senja menjelang tiba-tiba saya merasa jenuh sekali. Mungkin karena berjam-jam didepan komputer mengetik dan membaca literature. Bisa jadi sindrom information overload. Saya putuskan berhenti dan mematikan komputer. Agak sedikit bingung mau apa hingga pukul 19.00. Selepas makan malam saya iseng menyalakan televisi. Sesuatu yang saat ini sangat jarang saya lakukan. Untuk menonton televisipun saya sungguh pemilih.

Tepat saat saya menyalakan TV, saya menatap layar Kompas TV yang menayangkan program bincang-bincang ULTIMATE-U yang dipandu langsung oleh Rene SuhardonoKling…! Rasanya ada yang berdenting di kepala dan langsung saja benak saya berujar, ini dia nih yang bisa buat refreshing. Saya tongkrongin saja acara ini. Judul talkshow ini menarik, “PROFESI KEREN” plus Rene Suhardono yang memandu. Orang ini sungguh keren ketika berbicara mengenai karir dan personal development. Apalagi buku-buku yang ditulisnya. Bagi anda yang belum tahu, silahkan cari pake ‘search engine’ jangan cari di toko roti .

RENE SUHARDONO ULTIMATE U

Episode minggu malam, 23 Agustus 2015 kemarin itu memang keren. Bung Rene mendatangkan beberapa orang yang memiliki profesi keren dan unik. Dimulai dengan infografis yang membuka mata bahwa 2 hingga 3 pekerjaan yang ada tidak ditemukan lagi setiap minggunya. Tetapi 3 sampai 4 pekerjaan baru ditemukan juga setiap minggunya. Sedemikian halnya 60% pekerjaan saat ini tidak ada 20 tahun yang lalu. 10 tahun yang akan datang 10 pekerjaan yang paling hits belum ada namanya.

Tamu yang dihadirkan dalam program tersebut merupakan akibat dari perubahan teknologi, budaya dan cara hidup. Lihat saja Bu Indri Susilo yang sekitar 65 hari dia telah menjalani profesi baru sebagai pengemudi wanita di Perusahaan Taxi yang tidak memiliki armada bernaman UBER. Dahulunya ibu Indri ini seorang bankir. Dia tidak memaparkan berapa penghasilannya namun apa yang didapatkannya lebih dari cukup, demikian menurutnya. Bagi bu Indri, dia menemukan atmosfir yang berbeda dengan bebas menentukan waktunya bekerja. Dia passionate meski tidak muda lagi.

Lain halnya dengan Mbak Elly Sugigi. Berawal dari penonton bayaran di acara-cara televisi. Kini dia mengelola profesi dirinya sendiri sebagai seorang Koordinator Penonton Bayaran. Bayangkan dengan menjadi koordinator saja dia mengambil hanya sekitar Rp. 7.500 dari bayaran anak-anak buahnya. Namun dengan jumlah tim sekitar 100 hingga 1.000 orang. Jika setiap hari dia mengkoordinir sejumlah orang tersebut, saya berhitung minimal dia mengantongi Rp. 750.000,-/hari atau maksimal bisa Rp. 7.500.000,-/hari.

elly sugigi

Ada paparan infografis juga yang ditayangkan oleh Rene Suhardono, yang menggambarkan hal tersebut. Bahwa 15-20 tahun yang lalu ketika tidak ada social networks, tidak ada pertumbuhan web yang begitu cepat, maka anda yang bekerja di dunia web programmingonline marketing dan industri mobile phone perlu ingat bahwa profesi anda itu tidak ada pada waktu itu. Profesi anda tidak ada 15-20 tahun yang lalu. Sekali lagi 10 atau 20 tahun yang akan datang 10 pekerjaan yang paling hits belum ada namanya dan kita belum mengetahuinya. Namun kita bisa berusaha memprediksinya dengan berusaha melihat jauh kedepan dan kreatif dengan perubahan.

Selanjutnya berturut-turut beberapa tamu yang diundang berbicara tentang profesi unik yang mereka tekuni berkaitan dengan perkembangan media dan teknologi. Edho Zell adalah seorang Youtubers. Profesi yang juga mulai booming di Indonesia. Edho membuat video-video unik yang membuat dia memiliki banyak viewers dan bahkan diminta jasanya secara komersial. Sebenarnya profesi ini banyak yang menekuni di Indonesia. Banyak yang melakukan untuk mendapatkan side income pada awalnya, namun ketika serius memang sebagian besar begitu serius menekuni. Kalau dikalangan online marketers yang pragmatis memang mereka tidak terlalu mengindahkan apakah konten yang diunggahnya di Youtube original atau tidak dan sekedar mengedit milik orang lain. Bagi mereka yang penting profit.

edho zell

Kenny Santana menjadi pribadi lainnya yang mampu beradaptasi dengan trend dan membuat leverage dengan media yang digunakannya. Kenny di sebut sebagai travel writer atau menurut saya travel blogger. Ia mendirikan KartuPos.co.id. Pada awalnya ia hanya sharing pengalaman-pengalamannya dan passion-nya berjalan-jalan via Twitter. Ketika dia telah memiliki banyak follower dan fan base. Dia membuat platform media yang bisa dikenal lebih luas dengan KartuPos.co.id. Bahkan Kenny bekerjasama dengan berbagai lembaga dan perusahaan komersial yang perlu endorser media yang bahkan personal seperti dirinya. Kenny bisa travelling keliling dunia gratis dengan media yang dibangunnya dalam waktu singkat, sejak 2012. Media yang dibangunnya ini dia kembangkan dengan paket-paket penawaran berbagai kegiatan leisure tentunya. Pada akhirnya inilah yang bisa menjadi medium income leverage-nya.

Eryka Sonia menjadi tamu lainnya yang berbicara tentang profesi yang ditekuninya sebagai fashion blogger. Aktivitas yang dilakukannya menjadikannya mampu menjadi endorserproduk-produk fashion.

Kepiawaian menjadi pembicaraan pemuncak dalam program ini. Yasha Chatab menjadi tamu terakhir yang berbicara mengenai profesinya sebagai seorang branding consultant. Dia telah melakukan begitu banyak hal dan membantu banyak organisasi dan negara-negara untuk meningkatkan bisnis dan pengaruh mereka. Yasha Chatab dihadirkan sebagai sosok muda Indonesia yang juga mampu membawa dirinya menjadi seorang professional dengancoverage internasional.

Beberapa profesi yang dipaparkan dalam talkshow tersebut memang tidak pernah muncul satu dekade sebelumnya. Apa yang mereka lakukan sungguh out of the box dan memang memiliki perbedaaan yang signifikan dengan orang-orang seusianya. Profesi-profesi yang juga didukung perkembangan teknologi. Saya mengamini hal tersebut dan saya yakin anda juga demikian.

Saat itu bahkan saat ini bagi sebagian besar orang, profesi yang dikenal dan dianggap wajar adalah apa yang secara umum ditawarkan di sekolah dan perguruan tinggi. Secara umum juga sebagian besar dari kita akan mengikuti standard kewajaran yang disepakati meski tidak tertulis oleh sebagian besar masyarakat. Lalu kemudian apakah profesi-profesi yang ditekuni oleh orang-orang tersebut diatas menjadi tidak wajar? Hehehe, tidak wajar seperti persepsi publik. Tapi seperti judul episode tersebut, mereka memang memiliki profesi keren.

Mereka telah mengeksplorasi diri mereka sedemikian rupa, apa yang menjadi hobi mereka dan apa yang kemudian membuat mereka sepenuhnya bergairah-passionate ketika melakukannya. Mereka kemudian secara kreatif memanfaatkan sumber daya yang ada dan bisa menciptakan aktifitas yang bisa menghasilkan nilai finansial jika hal tersebut hendak dilabeli sebagai profesi atau karir.

SAYA 2.0

Saya pribadi sangat passionate dengan digital marketing sejak beberapa tahun terakhir. Waktu itu saya masih mengidentifikasinya dengan istilah internet marketing. Ketertarikan karena unsur keinginan mendapatkan uang yang menggunung jumlahnya. Terpesona oleh sales letter sebuah produk digital yang sungguh mengaduk-aduk AIDA (Attention-Interest-Desire-Action) saya. Personally, saya telah menghasilkan uang dari internet melalui jalur ecommerce. Meski saya akui tidak seperti kawan-kawan lain yang begitu populer dengan sebutan mastah atau master dan memiliki penghasilan puluhan dan mungkin ratusan juta per bulan. Maklum, masih sambilan dengan kerja di kantor. Alesansaja…hehehe

Tapi saya syukuri “keterjebakan” di dunia digital marketing ini. Saya begitu bergairah untuk belajar banyak hal mengenai digital marketing. Dahulu seringkali saya hanya tidur dua jam setiap malam. Saya benar-benar gunakan waktu untuk belajar, membaca dan bereksperimen dengan dunia pemasaran digital. Saya bukan seorang programmer yang begitu intensif dengan bahasa coding dan makhluk-makhluk sejenisnya. Sedikit saya mampu saja mengedit HTML dan CSS. Saya bisa membuat website meski hanya menggunakan CMS (Content Management System) Wordpress dan “memakaikannya” baju dengan template yang tersedia ribuan jumlahnya gratis di internet. Saya menjelajahi berderet-deret bahan pembelajaran Search Engine Optimization, Social Media Marketing, Inbound Marketing dan begitu banyak ilmu lainnya yang begitu dinamis bergerak maju.

Pada akhirnya beberapa orang banyak meminta saran saya mengenai visibilitas online bisnis mereka. Mau tidak mau saya harus belajar lebih banyak. Saya bahkan memberikan edukasi kepada sekelompok pemasar di bidang jasa pelatihan dan pendidikan lanjut untuk lebih memahami konsep digital marketing. Saya membuatkan blueprint sederhana untuk mereka, sebuah langkah awal yang kemudian mereka kembangkan sedemikian rupa dengan kreativitas mereka.

Dua tahun terakhir saya bahkan diminta secara intensif untuk bergabung dalam team teaching untuk memberikan pelatihan-pelatihan bidang pemasaran. Secara khusus saya memberikan materi mengenai digital marketing. Pada awalnya sungguh saya sedikit ragu dengan masih sedikitnya ilmu dan kemampuan yang saya miliki. Namun pada kenyatannya, begitu banyak peserta yang memang masih belum memiliki gambaran, terbata-bata mengeja konsep digital marketing atau tahu namun kebingungan dari mana dia harus memulai. Saya melihat potensi pasar pendidikan disana dan menemukan kenyataan bahwa meski sempat menghindari, saya memang begitu antusias dalam bidang public speaking. Saya tidak bisa lari dari hal tersebut.

Secara bertahap, saya juga sudah menjual diri saya kepada mereka. Saya kini membuka peluang-peluang tidak terbatas dengan peserta yang mengikuti pelatihan saya. Sekali lagi, saya memang bukan mastah atau master. Tetapi saya mampu menghubungkan kebutuhan besar mereka akan pemasaran digital dengan para master dibidangnya. Meski tentu, saya sungguh ingin memiliki portofolio yang lebih dalam. Saya merasa tidak terlambat untuk mengukuhkan passion saya ini sebagai daya ungkit yang lebih di masa yang akan datang.

ANDA 2.0

Ah, saya terlalu banyak bicara tentang diri sendiri. Bagaimana dengan anda? Tentu bagi anda yang sudah lebih dahulu menemukan jalan terbaik serta memuncakkan potensi diri anda, apa yang saya ungkapkan bukan hal yang aneh. Bahkan saya sungguh ingin belajar dari anda. Bisa jadi kita bahkan bekerjasama untuk membuat bangsa lebih baik.
Beberapa catatan saya buat dari program ULTIMATE-U episode tersebut. Untuk bisa memiliki profesi yang keren dan tentu menghasilkan kita perlu melakukan beberapa hal:

  1. Menuliskan hobi/kelebihan/kemampuan yang kita miliki. Lebih mudah jika kita mendapatkan penilaian objektif dari orang lain. Kita bisa memilih dari daftar tersebut. Untuk selanjutnya adalah kita berfokus untuk memaksimalkan kapasitas kita pada pilihan tersebut. Apalagi pilihan-pilihan tersebut amat sangat mebuat kita passionate.
  2. Menyadari adanya kebutuhan untuk berproses. Sebagian besar dari kita merasa ketikapassion terhadap sebuah hal akan segera memberikan profit maksimal sesuai keinginan kita. Sebaian besar tidak menyadari bahwa untuk mencapai kondisi terbaik dari profesi yang benar-benar sesuai passion kita perlu proses dan pembelajaran.
  3. Tolok ukur dari keberhasilan kita harus bisa ditemukan dari diri kita sendiri. Apa yang sesungguhnya ingin kita raih. Apakah uang? waktu? kesempatan?
    Bahkan ada satu kalimat yang sangat menarik dari Kenny Santana sang Travel Writer. Bagi dia pemasukan paling berharga adalah waktu.

...pemasukan paling berharga adalah waktu…

Rene Suhardono menegaskan bahwa untuk mencapai profesi terbaik yang kita kehendaki semestinya memang kita tahu apa yang benar-benar membuat kita passionate. Ketika kita sungguh bergairah terhadap kita lakukan tersebut maka kita bisa menjadi benar-benar ahli atau piawai melakukannya. Kepiawaian yang kita miliki tentu akan menjadi daya tarik bagi orang lain. Selanjutnya reputasi dalam melakukan keahlian/kepiawaian tersebut menjadi pengikat kapasitas anda. Baru selanjutnya the money flows to you. Uang akan dengan mudah terhipnotis dengan kepiawaian dan reputasi anda.

Pribadi-pribadi yang menjadi contoh dalam program Ultimate-U itu memang tahu benar dengan apa yang mereka lakukan. Mereka tahu bagaimana memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Mereka telah menemukan jalan bagaimana mereka bisa bersenang-senang dengan profesi yang mereka miliki. Mereka tahu bahwa diri mereka dan apa yang mereka lakukan itu laku bahkan tanpa mereka perlu menjualnya.Bagi mereka profesi itu diciptakan tidak perlu setengah mati mencarinya.

Jadi? Sekarang anda sudah paham kan bagaimana cara menjual diri anda?

Pertama kali di posting pada 26 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *