Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi
AZZAM FIRST DAY GOES TO SCHOOL

Mengantar Sekolah

Pagi ini Azzam, anak lelaki saya yang pertama tampak lebih bersemangat bangun pagi. Begitu ibundanya membangunkan, cukup sekali saja ia sudah bergegas turun dari tempat tidur. Ya, hari ini adalah kali pertama ia akan menjejakkan kaki disebuah tempat yang kami kenalkan kepadanya beberapa waktu yang lalu sebagai “sekolah”.

Atmosfir semangat bahwa hari ini dia akan menemukan pengalaman baru bersama anak-anak lain yang segera menjadi rekan sejawatnya, sudah kami hembuskan berminggu-minggu. Sedemikian halnya sang ibu-istri saya, kemarin mengkhususkan diri berbelanja beberapa perlengkapan baru untuknya. Wajahnya sudah cerah sejak kemarin ketika menerima tas baru bergambar tokoh kartun super hero, sebuah botol minum dan wadah makanan keren yang akan segera menemani hari-harinya dengan kegiatan dan bersosialisasi dengan mandiri.

Sebenarnya sempat terlintas untuk tidak memasukkannya ke sekolah dahulu tahun ini. Namun kami melihat Azzam membutuhkan diri bersosialisasi lebih luas. Sehingga belum terpikir dari kami untuk mencekokinya dengan deret-deret logika yang belum semestinya. Kami hanya berusaha melihat potensi terbaik yang dimilikinya. Potensi inilah yang kami mainkan nadanya dirumah dan kami ingin melihat ia bergema ketika bertemu dalam sebuah komunitas terpadu tempat bertemunya murid dan guru.

Beberapa kali di minggu-minggu yang lalu serta pagi ini saya genggam tangannya dan menatap matanya tegas. Mengatakan kepadanya bahwa ia sudah sekolah. Bahwa ia segera bertemu teman-teman baru dan juga ibu guru yang akan bersamanya dalam sepenggal waktu. Membersamai langkah-langkah kecilnya sebelum kelak menggenggam dunia. Menentramkan hatinya bahwa ia sudah semakin besar untuk bisa melakukan hal-hal tertentu . Kemudian saya cium keningnya dan saya rengkuh penuh haru. Sebagai ayah, saya pun akan mendapatkan pengalaman baru, mengantarnya ke sekolah.

Istri saya hendak mengantarkannya sendiri daripada saya terlambat ke kantor. Namun saya bersikeras, harus ikut mengantar Azzam dihari pertamanya bersekolah. Bahwa kami mengantarkannya ke babak baru kehidupannya adalah sungguh penting bagi saya. Saya ingin dia ingat bahwa kami sungguh-sungguh mendukungnya. Ketika ibu gurunya memberikan instruksi agar semua murid baru berkumpul dan berbaris, saya melihat ia melangkah dengan gagah setelah istri saya sedikit membimbingnya.

AZZAM FIRST DAY GOES TO SCHOOL
AZZAM FIRST DAY GOES TO SCHOOL

Ia berdiri ditengah barisan, Diam dan Mengamati. Ia tidak pula menatap kepada kami. Sepertinya dia menikmati dengan observasi kepada anak-anak dan lingkungan barunya. Sedangkan beberapa calon temannya tampak gelisah. Ada yang menatap ibunya yang berdiri dipinggir lapangan upacara dengan sorot mata khawatir, ada juga beberapa yang masih harus dikejar orang tuanya karena masih berlarian bermain.

Saya tersenyum saja dan memejamkan mata sesaat. Merasakan memori yang melintas waktu lalu saat saya seusia anak saya itu. Rasanya baru kemarin, ibu saya juga mengantar pada hari pertama ke Taman Kanak-kanak. Kini saya yang mengantar anak saya. Bisa jadi Azzam merasakan seperti yang saya rasakan. Pagi sejuk yang sama. Hangat matahari yang menerobos daun-daun. Tawa dan tangis kawan-kawan. Serta senyum lembut ibu guru yang menyambut dipintu kelas dengan bau cat baru.

Terpikir akan ada lebih banyak waktu yang harus saya tunaikan untuknya dan itu menjadi sebuah kemestian. Teringat pula jika dahulu hingga kini dia banyak bertanya. Maka bisa jadi akan ada banyak barisan pertanyaan yang mengantri untuk dijawab demi memuaskan pikir dan jiwanya atas apa yang ditemukannya setiap hari. Bersiaplah saya untuk Azzam dan Socrates Café jilid Kedua…hahaha (baca tulisannya disini).

Tentu saya berharap sama seperti belasan ayah dan ibu yang ikut berdiri di lapangan sekolah itu. Kami pasti berharap kebaikan-kebaikan yang akan mengukuhkan jiwa anak-anak kami, menajamkan pikir mereka dengan ilmu pengetahuan yang hakiki dan menguatkan tubuh mereka dengan kegiatan jasmani. Meski kami sadar, madrasah pertama itu pun tetap dirumah kami.

Pertama kali diposting di Tamantirto, 27 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.