Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi

Akibat Erupsi Gunung Raung

Jum’at, 10 Juli 2015. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.10, saya dan Pak Singgih Santoso sudah berada di depan Gate 4 Keberangkatan Domestik di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Sesaat kemudian petugas bandara telah mengumumkan bahwa kami bisa segera naik ke Pesawat Air Asia yang kami tumpangi. Tetapi saat masih antri, tiba-tiba saja beberapa petugas menyebar dan menginformasikan bahwa Bandara Ngurah Rai ditutup dan penerbangan kami di tunda hingga sekkurang-kurangnya pukul 09.30. Artinya kami harus menunggu sekitar 3 jam lagi. Banyak suara menggumam dan mengeluhkan hal ini.

Kami penasaran apa penyebabnya, karena berturut-turut dari maskapai lain pun memberikan pengumuman yang sama. Semuanya akan diberangkatkan sekitar pukul 09.30. Setelah Tanya sana-sini dan browsing sono-sunu, ternyata Gunung Raung yang beberapa waktu terakhir ini aktif, sudah mengeluarkan erupsi vulkanik yang menyebabkan 5 bandara, termasuk Ngurah Rai ditutup sejak dini hari. Sebenarnya keputusan penutupan operasional hanya sampai 06.30, tetapi ternyata kebijakan baru  diperpanjang hingga pukul 09.30.

Walhasil, disinilah saya harus menunggu. Ini termasuk menunggu paling lama, selama saya bolak-balik menggunakan pesawat selama 3 tahun terakhir. Dan pun ini belum benar-benar ada kepastian. Force majeur kan tidak bisa diprediksi. Saya manfaatkan waktu yang ada dengan membaca beberapa informasi tentang digital marketing, bidang yang menjadi passion saya. Sambil membuat catatan-catatan perjalanan seperti yang anda baca ini tentunya.

Sebagian penumpang asik berselonjor tidur kembali. Bagi saya sangat tidak etis, karena mereka mengambil jatah tempat duduk penumpang lain yang juga menunggu delay pesawatnya, sampai 3 tempat duduk. Sebagian yang lain sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Ada yang juga berderet-deret  bersama saya memanfaatkan colokan gratis di ruang tunggu. Saya juga memilih duduk dilantai sambil memangku laptop dan mengetik.

Beberapa yang lain tampak wira-wiri menghilangkan kebosanan. Bagi yang tidak berpuasa, mereka enak saja bisa menghirup kopi dan cokelat panas di café-café yang melambai-lambai. Hehehe, coba ini bulan yang lain, mungkin saya gabung sama mereka. Sekali-sekali laah, ngopi yang harganya sedikit borjuis….hahaha. Namun syukurlah ini Ramadhan.

Sesekali saya membalas pesan dari kawan dan mengabarkan sesuatu kepada istri saya. Memohon doa juga kepadanya, wanita kekasih saya yang sudah tujuh tahun bersama dan ibunda terbaik bagi anak-anak saya. Ia membalas pesan saya dengan kasih dan memberitahukan bahwa anak-anak sudah kangen. Semoga saya tak tertahan lama.

Rindu juga kepada mereka. Apalagi disekeliling saya juga banyak keluarga muda bersama anak-anak mereka yang lucu berlari kesana kemari. Sesekali ayah dan ibunya berteriak supaya mereka lebih pelan. Haha, mungkin saya dan istri seperti itu juga jika bersama anak-anak kami. Tapi yang namanya anak-anak, mana bisa ditahan begitu saja.

Saya coba pejamkan mata. Mengantuk sisa semalam, belum juga berlalu.

Pertama kali diposting 10 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.