Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi
MENULISI RAMADHAN DI PULAU BALI

Menulisi Ramadhan Di Pulau Bali

Project Ramadhan

Meski berharap sepanjang Ramadhan ini saya sepenuhnya di Yogyakarta, namun ternyata ada tugas keluar kota yang harus saya tunaikan. Beberapa hari sebelum hari H saya sudah diberi informasi oleh salah satu rekan saya. Bahwa Indonesia Power Bali telah meminta kami untuk mengadakan Pelatihan Advanced Microsoft Excel, tanggal 7 – 9 Juli 2015. Saya bersiap untuk menjalani beberapa hari Ramadhan di Pulau Bali. Persis di Fase ketiga Bulan Ramadhan.

Saya berangkat pada tanggal 6 Juli 2015, setelah menunaikan buka puasa. Bersama saya adalah bapak Budi Sutedjo Darmo Utomo, Lead Instructor untuk judul training yang saya sebutkan diatas. Keberangkatan kami kemarin malam sempat mengalami sedikit kendala. Flight kami adalah GA 254, namun begitu hendak check in, petugas menyebutkan penerbangan Garuda Indonesia di cancel. Tentu kami sedikit bingung, karena esok pagi, jelas kami harus menjalankan agenda training di Indonesia Power Bali. Tidak cuma kami yang bingung, ada banyak penumpang lain juga merasakan hal yang sama.

Untunglah pihak Garuda cepat mengambil keputusan dan mengganti tiket kami dengan tiket penerbangan Lion Air. Meski sedikit kecewa, saya dan Pak Budi tiba di Pulau Bali dengan baik, selamat dan tidak terlalu lambat. Usut punya usut, ternyata ada 80 penerbangan Garuda dari Jakarta yang cancel, tertunda dan terlambat akibat terbakarnya sebuah Lounge eksklusif Garuda di Terminal 1 Bandara Soetta.

Pelatihan Advanced Microsoft Excel di mulai keesokan harinya tanggal 7 Juli 2015. Untunglah, Gedung Pelatihan Indonesia Power hanya berada persis di depan mess Indonesia Power tempat kami menginap. Di mulai dengan opening panjang yang menarik, Pak Budi mengeksplorasi tentang data dan latar belakang pengolahan data. Selanjutnya sesi-sesi pelatihan lebih banyak workshop dan practical tasks.

Saya senang bisa turut serta mengobservasi kelas ini. Bahkan ikut terlibat mengikuti materi dan workshop. Hanya saja setelah saya coba, ternyata banyak hal mendasar dari materi yang belum saya kuasai. Walhasil, saya tidak bisa mengikuti dengan baik. Hehehe, lumayan, hanya sekedar mencoba. Di waktu yang sama saya menemukan banyak peserta mengalami hal yang sama. Namun karena ini menjadi bagian dari kinerja mereka, maka mereka terus intensif mengikuti workshop yang dipimpin Pak Budi ini.

MENULISI RAMADHAN DI PULAU BALI

Berbincang Menulis

Sesi-sesi workshop cukup panjang. Sehingga peserta yang 30 orang ini lebih banyak sibuk dengan laptop masing-masing. Sesekali Pak Budi mendatangi mereka dan mengarahkan mereka yang mengalami kendala. Akan tetapi lebih banyak juga beliau duduk bersama saya dan kita berbincang tentang banyak hal.

Sebelum berangkat kemarin pun sempat saya berpikir senang, bisa punya kesempatan untuk berdiskusi dengan Pak Budi Sutedjo yang telah berkaya dengan menulis 160 buku dan ribuan artikel. Beliau juga pendiri Indonesia Menulis. Sebuah komunitas yang membangkitkan gairah kepenulisan dalam diri setiap orang.

Kesempatan ini pun tidak saya sia-siakan. Saya suka menulis, namun seringkali memberikan alasan penundaan pada diri sendiri dengan berbagai hal. Termasuk untuk belajar lebih mendalam mengenai kepenulisan. Nah, saya ungkapkan “curhatan” saya mengenai perkembangan proses menulis saya kepada beliau. Langsung saja beliau mendorong saya untuk segera menulis buku. Meski saya sudah pernah punya rancangan buku sebagai keyakinan diri, namun saya masih saja heran, beliau yakin saya bisa menulis buku. Apalagi dengan tulisan-tulisan yang sudah saya susun dalam laman FerdianAdi.Com.

Beliau kemudian perlahan menuturkan cerita-cerita kepenulisan yang sungguh inspiratif. Saya mengajukan pertanyaan mendasar kepada beliau mengenai latar belakang bagaimana beliau membuat buku pertamanya. Beliau menyatakan sejatinya buku pertama beliau ditulis karena terpaksa. Terpaksa membuat buku demi memenuhi persyaratan pengangkatan sebagai dosen. Namun keterpaksaaan tersebut beliau nikmati sebagai sebuah proses yang justru akhirnya menjadi passion. Passion yang saat ini membawa beliau menjadi penulis 160 buku yang beberapa terus dicetak ulang dan ribuan artikel.

Latar belakang studi Teknologi Informasi khususnya Sistem Informasi tidak membatasi beliau berproses untuk menjadi “ahli” dalam bidang kepenulisan. Prinsip menulis beliau mengingatkan saya kepada seorang sahabat menulis dari Kalimantan, Pak Ersis Warmansyah Abbas atau EWA. Bahwa menulis adalah bebas dan menulis adalah ide dari sang penulis tanpa perlu terbelenggu aturan-aturan baku menulis yang sering membuat ide menjadi beku. Selanjutnya aturan-aturan itulah yang sebenarnya menjadi pekerjaan editor yang akan menyempurnakan karya si penulis.

Menulis yang Mengobati

Dari cerita beliau yang mendampingi begitu banyak orang untuk menulis ada banyak alasan dan akibat yang menyebabkan seseorang bisa menulis. Seperti halnya seorang ibu yang telah divonis mengidap kanker indung telur. Ibu ini tidak bisa menerima sakit yang harus dia derita. Beliau hanya diminta mengungkapkan segala curahan perasaan dan hatinya atas penyakit yang dia derita. Segala kegelisahan dan kegundahan yang dirasa. Dokter-dokter yang melakukan treatment terhadap penyakit si ibu menjadi saksi, bahwa bahkan saat proses kemoterapi yang begitu menyakitkan, si ibu tetap menjalaninya dengan menulis. Luarbiasanya esensi yang beliau tuliskan dalam rencana buku tersebut telah berevolusi. Berawal dari sikap beliau yang tidak bisa menerima kenyataan atas penyakit yang diderita, kemudian buku tersebut berujung pada rasa syukur atas sakit yang dialami. Beliau telah berdamai dengan cobaan kanker yang dialami.

Dokter-dokter yang merawat beliau di rumah sakit tersebut menangis saat launching bukunya. Kemudian memborong 1.000 eksemplar buku tersebut dan dibagikan kepada pasien-pasien kanker lainnya yang berada dalam proses perawatan. Itulah menulis yang mengobati.

Menulis yang Menjadi Berkah

Lain cerita ketika beliau mendampingi seorang Syaikh, pimpinan sebuah Pondok Pesantren di Cirebon. Syaikh ini memiliki anak yatim yang harus diasuhnya sejumlah 3.000 orang. Tentu saja biaya yang dibutuhkan untuk mengasuh 3.000 anak yatim ini tidaklah sedikit. Selama ini beliau setengah mati berusaha supaya anak yatim asuhannya ini bisa terus dibiayai. Bahkan beliau sendiri yang dengan rela merendahkan diri untuk meminta bantuan kesana-sini.

Setelah berdiskusi dengan Pak Budi, terungkaplah bahwa sebenarnya sang Syaikh ini memiliki hobi menulis puisi yang bahkan kalau mau di kumpulkan sebenarnya bahkan kumpulan puisinya ini bisa menjadi 9 buku. Luar biasa. Bahkan, menurut Pak Budi, puisi-puisinya ini begitu menyentuh perasaan jika kita membacanya, karena sang Syaikh menyusunnya setiap kali setelah membaca ayat-ayat Al Qur’an. Ada ruh dalam puisi-puisinya.

Maka diberikanlah ide bahwa sang Syeh bisa membukukan puisi-puisinya. Penjualan buku kumpulan puisi ini bisa dilakukan melalui agenda Semaan yang paling tidak diikuti oleh 10.000 jamaahnya. Pak Budi memberikan gambaran bahwa jika buku kumpulan puisi itu diberi nilai seharga Rp. 50.000,- saja, bisa jadi terkumpul uang sebesar Rp. 500.000.000,-. Sang syeh terpana dan tidak menyangka ide yang hebat ini. Ide menulis yang akan mengangkat beban biaya dalam mengasuh 3.000 anak yatim tersebut. Inilah menulis yang menjadi berkah.

Ada alasan dan latar belakang setiap mereka yang ingin menulis. Termasuk ketika menulis menjadi kebutuhan dan kesejahteraan, maka ide menulis bisa jadi sebenarnya sangat dekat dengan kita sehari-hari. Banyak hal sederhana yang sebenarnya bisa menjadi inspirasi utama ketika kita ingin menulis buku.

Saya sungguh terinspirasi dari perbincangan panjang kami selama 2 hari yang berlalu. Muncul kembali keinginan terpendam saya untuk memaksimalkan aktivitas menulis saya. Berkarya. Menurut Pak Budi, ketika buku kita telah mampu memberikan wawasan, pencerahan dan semangat kepada yang membaca, maka sesungguhnya kita telah menjadi bagian dari guru bangsa dalam lingkup kita. Saya sampaikan kepada Pak Budi, jangankan lewat buku, ketika ada yang komentar di website pribadi saya, FerdianAdi.com dan mengungkapkan kebahagiaannya atas inspirasi yang saya bagi saja, rasanya luar biasa. Ada kepuasan batin yang tak ternilai. Bagi Pak Budi, kepuasannya tidak lagi hanya disitu. Namun, kepuasan beliau dalam bidang kepenulisan adalah ketika bisa membangkitkan orang lain untuk bisa menghasilkan karya tulis. Dan beliau pun meminta saya melakukan hal yang sama. Harus mau mendorong kecintaan menulis pada orang lain. Menulis yang membangun jiwa. Aamiin.

Pertama kali diposting pada 8 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.