Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi

Tahukah Anda Kapan Harus Berhenti?

Alhamdulillah, setiap hari waktu-waktu berharga bersama keluarga bisa saya dapatkan. Seperti setiap sore, sepulang kantor, saya masih bisa bercanda habis-habisan dengan anak saya yang baru berusia 8 bulan. Saya suka membuat dia tertawa geli ketika saya harus berekspresi konyol atau bertingkah laku yang aneh. Kadang saya sampai terengah-engah sendiri, ketika ia tak mau berhenti. Kadang sampai malam sebelum dia tidur. Sehingga, istri saya menanyakan sesuatu yang menarik buat saya beberapa sore yang lalu.

Dia bertanya apakah ada perasaan lelah ketika sepulang kerja yang cukup menguras pikir dan tenaga, saya masih harus meluangkan waktu bersama mereka dan bernuansa sangat bahagia. Saya tersenyum dan menatap matanya dalam.

Saya berkata bahwa bersama mereka, sesungguhnya segenap masa seperti terhenti. Setidaknya ia melangkah amat lambat. Dan bersama mereka seperti duduk disebuah bangku kayu, ditengah hijau dedaun di taman waktu yang berselubung wangi anyelir, diselimuti cahaya diredup senja dan lembut angin membelai mata. Keindahan yang menggelegak di jiwa.

Hehehe…semoga tidak lebay…tetapi itulah kebahagiaan. Saya rasa, setiap dari anda pun memiliki definisi bahagia anda sendiri dan membahasakan bahagia dengan cara anda.

Istri saya pun menyambungnya dengan mengungkapkan bahwa ternyata benar apa yang menjadi perasaan banyak pribadi lain. Mungkin sejatinya rasa lelah secara fisik tidak hilang sepenuhnya. Namun mereka mampu menemukan beda pada rasa ketika berjumpa dengan sesuatu yang dicinta. Sirna sudah kelelahan apapun itu bentuknya.

Kelelahan itu bisa juga berarti kelelahan kita menghadapi ujian yang senantiasa menunggu kita untuk dikerjakan dan diselesaikan dengan baik. Ujian itu kemudian memiliki label istilah “cobaan”,”hambatan” atau “masalah” yang seringkali menghantui jalan panjang kita untuk mencapai puncak bernama sukses.

Saya jadi tersenyum teringat dengan seorang kawan. Ketika dahulu menghadapi sebuah masalah di organisasi, kadang saya mengeluh, “…wah, ini masalah berat (abot: Jawa)..”. Lalu si kawan ini menimpali,..”abot???!!…yo diselehke…” (“..kalau kamu merasa berat, ya letakin saja…!)..”ngono wae dipikir..!” (..”gitu aja dipikir..!” ) dengan ekspresinya yang agak konyol dan menyebalkan. Kini saya menjadi lebih paham dengan sepotong kalimat sederhana dari kawan tersebut. Seakan menyepelekan, namun sesungguhnya bermakna dalam.

Menjadi sebuah pengetahuan umum bahwa setiap dari kita pasti memiliki masalah. Berat atau tidak suatu masalah tergantung cara kita memandang dan menyikapinya. Ketika masalah tersebut menjadi pelik dalam kadar ukuran jiwa dan batas pikir kita, maka ada langkah yang harus dihentikan. Ada kedai damai yang harus sebentar disinggahi. Sampai pada jeda yang tercipta pada penggalan waktu. Ini yang kita sebut konsep “meletakkan” atau “nyelehke” istilah Jawa-nya.

Sikap tersebut juga menjadi cara bagi seorang kawan penulis muda. Dia membuat pola ekstrem pada kejenuhan pikir yang dia rasa. Ketika merasakan kejenuhan pada aktivitas terus menerus yang dilakukan, maka tiba-tiba dia akan melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda. Dia sebut ekstrem positif. Bisa dengan menyetel musik yang keras, memakai sepatu lari kemudian jogging keliling lingkungan tempat dia tinggal atau memasak makanan instan. Dia merusak pola monoton dan membuat ekstrem positif. Saya menyebut apa yang dia lakukan pun merupakan konsep “nyelehke”.

Demikianlah, saya pikir apa yang saya alami setiap sore, bersama keluarga, juga merupakan hal biasa yang dialami banyak pribadi lain. Mungkin juga dengan kesadaran bersama kita berusaha dengan ekstrem positif untuk “nyelehke” sejenak. Karena sejatinya, sungguh tidak adil jikalau kita berkelindan dengan masalah dan membawanya pada sepanjang waktu. Atau bisa jadi berusaha meletakkannya sejenak, namun dengan konsep ekstrem yang justru negatif. Konsep “nyelehke” yang “sakkarepe dewe” (semau gue) dan tidak pernah berhitung benar atau salah.

Maka kemudian saya semakin tersadar, Alhamdulillah bagi saya dan mungkin juga anda. Ada 5 waktu utama sepanjang hari ketika kita diberi jeda, saat muadzin dengan lantang menggemakan adzan. Inilah konsep “nyelehke” yang utama. Memberikan kita begitu macam hal serta kesempatan termasuk membuat evaluasi, mengubur pesimisme dan energi yang luar biasa untuk kembali bergerak. Sholat menjadi salah satu kutub ekstrem positif kita.

Selanjutnya anda yang bisa melanjutkan tulisan saya dalam kehidupan anda pribadi. Anda yang berkuasa untuk menentukan waktu-waktu terbaik dan jeda-jeda bahagia. Nah, ceritakan kepada saya tentang bahagia anda. Saya tunggu komentar anda.

Pada sebuah senja
Yogyakarta, dipenghujung September 2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.