Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi

Hidup Dan Mati Di Guido Valadares

MATI

Setelah 3 hari terbaring lemah di Fantija Hotel – Bebonuk, saya putuskan untuk membawa Yuli ke Rumah Sakit. Yuli Handita Fajar Setiawan adalah salah satu instruktur pelatihan otomotif yang saya adakan untuk Don Bosco Training Center di Dili, Timor Leste. Sayang sekali, ini kali pertama Yuli ke Timor Leste dan di hari kedua dia harus tumbang dengan diagnosa awal dokter adalah infeksi usus.

Kami tidak tahu apa penyebabnya. Bisa jadi ada sakit di Indonesia yang belum pulih benar. Bisa pula ia tidak cocok dengan makanan yang masuk ke perutnya di Timor Leste. Yang pasti menurut Pak Juvenal, rekan bisnis saya, cuaca di Timor Leste di Bulan Agustus ini memang sedang ekstrim.

Yuli segera ditangani di Banco de Urgencia, semacam Unit Gawat Darurat, di Hospital Nacional Guido Valadares. Ada 4 tempat tidur utama di depan pintu masuk UGD tersebut. Saat kami masuk, hanya satu yang ditempati seorang anak berumur 1 tahun dalam penanganan karena sakit disentri. Dia nampak sedih dalam dekapan ibunya. Saya pegang tangan anak itu dan mengelus kepalanya, tiba-tiba mata ini berkaca-kaca teringat Azzam dan Kenzie, anak-anak saya tercinta yang jauh di Indonesia. Ibu dan ayah anak tersebut tersenyum seakan tahu perasaan saya. Sejenak kemudian saya berbincang dengan mereka.

Tak lama kemudian ada dua pasien datang hampir bersamaan. Seorang remaja yang berdarah-darah karena kecelakaan sepeda motor. Lalu seorang bapak yang tampak kejang-kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Dahulu saya tidak tahan dengan kondisi seperti ini. Tetapi saat ini saya justru memperhatikan benar-benar kondisi yang ada. Treatment para dokter dan perawat, keadaan pasien dan raut wajah orang-orang yang mengantarnya. Ada seribu kisah disana.

Dari cerita keluarga saya ketahui bahwa bapak tersebut sudah ketiga kalinya masuk rumah sakit ini. Dia telah mengalami stroke dan kondisinya terus memburuk. Dokter menutup tirai saat melakukan treatment lanjutan. Nafas bapak tersebut semakin berat tersengal-sengal dengan suara keras di tenggorokan. Anak-anak dan istrinya terisak-isak diantara kesibukan para dokter dan perawat yang semakin memuncak.

Akhirnya 20 menit kemudian setelah berjuang, bapak tersebut dinyatakan meninggal. Tangis keluarganya semakin keras. Bapak itu bukan siapa-siapa saya. Namun, tak bisa saya pungkiri kenyataan bapak tersebut meninggal tepat didepan saya. Dada ini menjadi begitu sesak dan air mata yang menggenang. Saya tinggalkan Yuli sejenak dan menghirup udara diluar. Saya tertunduk dalam mengingat betapa kematian sedemikian dekatnya dengan kita.

HIDUP

Sebenarnya saya berat meninggalkan Yuli sendiri. Cuma kondisi fisik saya juga mulai menurun karena cuaca dan angin kemarau yang terlampau dingin bagi saya. Saya harus beristirahat di hotel malam ini. Agenda kami di Timor Leste masih panjang dan saya tak boleh sakit. Saya kuatkan Yuli untuk bertahan. Setelah satu malam saya merasa kondisi fisik mulai membaik. Saya putuskan untuk segera ke Guido Valadares. Roberto, seorang kawan di Dili, menjemput saya hari ini.

Saya tiba agak siang, karena Roberto menjemput saya sekitar pukul 10.30. Saya tanyakan kepada Yuli bagaimana dia sarapan. Dia bertutur bahwa sejak saya tinggalkan kemarin, ternyata beberapa ibu di bangsal perawatan tersebut membantunya. Ada ibu Fransiska yang sedang menunggu suaminya di sebelah Yuli, memberikan Yuli sebotol besar air mineral. Diseberang tempat tidur Yuli ada kak Alina seorang gadis dewasa yang sedang merawat pamannya. Kak Alina ini menyuapi Yuli dengan sarapan yang didapatnya dari rumah sakit pagi tadi. Yuli bercerita mereka begitu perhatian dengan kondisinya yang hanya sendirian.

Saya merasa terharu dengan kebaikan mereka. Saya jabat erat-erat tangan mereka sambil mengucapkan obrigada berkali-kali. Mereka pun menjawab nada! nada! Sambil menepuk lengan saya. Baik ibu Fransiska maupun kak Alina membesarkan hati saya. Mereka berkata, kalau dalam kondisi seperti ini, kita semua bersaudara katanya. Kak Alina menambahkan, ia tidak tega melihat Yuli yang sendirian dan membayangkan itu terjadi pada dirinya ditempat yang bukan negaranya sendiri.

Benar kiranya, beberapa orang menuliskan pandangan mereka tentang orang Timor Leste. Mereka mungkin berwajah keras, namun hati mereka sesungguhnya lembut. Ketika keramahan menyapa pun begitu tulus.

Kondisi fisik Yuli sudah membaik juga. Jika tiga hari sebelumnya dia tidak bisa makan apapun karena mual, kali ini Yuli sudah mau makan dengan lahap. Ada 6 orang di bangsal tersebut. Awalnya saya pikir Yuli paling muda dan rata-rata pasien itu berusia lebih dari 50 tahun. Namun saya keliru. Salah satu dari mereka memang ada yang berwajah sungguh tirus dan mata yang cekung. Bertubuh kurus kering dan rambut yang amat tipis. Seperti lelaki berusia sangat tua. Namun saya terkejut ketika ibu Fransiska
bertutur bahwa dia sesungguhnya berusia 20 tahun.

Ia terbaring disitu hampir satu tahun. Harus dibantu selang oksigen melalui hidungnya. Sesekali juga kakak dan bapaknya memasukkan makanan atau minuman lewat selang lainnya. Dengan gemetar saya beranjak menjenguknya.

Saya salami bapaknya dan menepuk pundaknya. Dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata ia menerangkan nama anaknya itu da Costa. Sungguh miris melihat keadaannya. Dia sungguh lemah. Bapaknya bercerita dahulu saat masuk ke rumah sakit ini da Costa masih bisa berjalan. Naik ke tempat tidur juga sendiri. Saat ini dia terbaring tanpa daya. Penyakit tubercolosis dan meningitis telah menggerogotinya.

Sekujur tubuhnya pun kaku, sesekali bapaknya berusaha meluruskan lengan-lengan kurusnya dan jari-jarinya yang hanya menggenggam. Saya dekati dia dan memegang lengannya. Matanya menatap saya kosong dan tampak sangat tersiksa. Saya panggil namanya pelan. Lelaki muda itu nampak paham. Saya ceritakan dari batin saya bahwa saya pun berharap yang terbaik untuknya. Bapaknya menghela nafas panjang dan tertunduk lelah. Sesaat terbersit dalam hati sungguh ingin saya bacakan Surat Yaasin dari mushaf yang saya bawa. Meski dia bukan muslim.

Teringat juga tadi kak Alina sempat bertutur, meski kita berbeda keyakinan, jiwa kemanusiaan kita tidak bisa dibohongi. Semuanya akan bertindak sama dalam dua hal, penderitaan dan kematian. Saya menatap dia kagum, gadis ini masih muda namun cara berpikir dan tutur katanya sungguh dewasa. Saya berbincang cukup lama dengannya. Tentang dirinya, sisi-sisi lain penduduk Timor Leste dan bahasa Tetun. Sebagai seseorang yang “hanya” staf bagian keuangan di sebuah toko dan lulusan SMA, dia cerdas berkomunikasi.

Kami terdiam, ketika seorang ibu lainnya bersenandung dalam bahasa Tetun sembari memijat suaminya yang mengerang karena sakit komplikasi yang di deritanya. Nadanya lirih penuh harap, mungkin lagu doa berharap atas kesembuhan suaminya. Ia terus bersenandung sambil menatap jendela. Sejenak siang ini tampak lengang. Hanya angin kemarau dingin yang berhembus. Aaah, betapa berharganya cinta, betapa berharganya sebuah jiwa.

Saya mengucapkan permisi kepada kak Alina, mengambil air wudhu
dan membuka mushaf saya. Lirih, saya tunaikan siang ini dengan membaca Surah YaaSin. Betapa Tuhan begitu besar kasih sayangnya dengan pengalaman batin ini.

Diposting pertama kali pada 1 September 2014 di Dili, Timor Leste

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.