Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi
ojo kekudung welulang macan stand on your own

Ojo Kekudung Welulang Macan

Sambil mikir-mikir topik tulisan, saya membuka file-file lama di folder-folder laptop saya. Biasanya sih saya menyimpan draft tulisan untuk blog saya ini. Benar ternyata, ada beberapa draft yang masih mangkrak -belum tergarap sempurna- belum disempurnakan menjadi tulisan yang siap posting.

Ada sebuah draft, catatan perbincangan antara saya dan salah satu rekan kantor saya dalam perjalanan di mobil. Mungkin diskusinya agak expired kalau saya angkat menjadi bahan tulisan disini. Tetapi proses dari topik yang saya bicarakan juga belum tuntas sepenuhnya, saya pikir tetap menarik untuk kita kaji bersama.

Waktu itu, saya dan Pak Sarjumadi sedang melakukan perjalanan tugas disekitar Gresik hingga Bojonegoro. Pas bulan Maret 2014. Pas iklim pencalonan diri sebagai calon anggota legislatif sedang panas-panasnya.

Sama halnya dengan di Jogja dan kota-kota lainnya, di sepanjang jalan dipenuhi spanduk, baliho, umbul-umbul, poster dan segala macam bentuk media display. Pasti tujuannya sama, bagaimana caranya wajah mereka dikenal cepat oleh masyarakat dan konversi pencoblosan mereka lebih besar.

Sehingga tidak cuma wajah, konten display kampanye mereka itu pun beragam. Saya dan Pak Sarju pun punya bahan pembicaraan menarik sepanjang jalan mengomentari hal tersebut. Mulai dari kesadaran lingkungan yang lemah dari manajemen kampanye si Caleg, karena atribut kampanye yang asal main tancep saja di pohon-pohon. Sampai spanduk-spanduk yang mengganggu jaringan kabel telepon di beberapa kota.

Namun ada hal yang menarik dari beberapa display kampanye tersebut. Ada beberapa Caleg yang menyebutkan dirinya adalah “anaknya Bapak Haji ini atau anaknya Ibu Hajjah itu”. “Atau keponakannya Bupati anu.” Bahkan di Jogja, ada baliho besar-besar yang menampilkan seorang Calon Anggota Legislatif dengan background seorang Pahlawan Besar, Pangeran Diponegoro.

Saya jadi teringat seorang mantan presiden yang juga ikut mencatut photo ayahnya yang juga seorang pendiri negara untuk seakan memperkuat persona yang ditampilkannya. Padahal bisa jadi attitude kenegaraannya dan kebijakan-kebijakannya sudah jauh dari sosok revolusioner dan nasionalisme ayahnya.

Sejurus kemudian Pak Sarju berkata, “La niku mas, sing namine kekudung welulang macan!” [“Itu dia mas, yang namanya kekudung welulang macan“]

Seketika saya menengok dan bertanya penuh rasa tertarik, “…nopo niku pak?” [“…apa itu pak?”]

Secara terjemah, arti “kekudung welulang macan” adalah bertudung/berlindung dengan kekokohan tulang belulang harimau. Namun Pak Sarju kemudian menjelaskan bahwa “kekudung welulang macan” itu bermakna berlindung dibalik kebesaran orang lain. Merasa bahwa ketika dia membawa-bawa nama seseorang, maka dia akan dianggap lebih dan memiliki power. Dia akan merasa lebih aman ketika membawa nama besar seseorang ketika harus berhadapan dengan pihak lain. Tiba-tiba saya jadi ingat perilaku preman yang ketika memeras, dia akan menyebutkan nama “bosnya” yang berkuasa di terminal ini atau itu.

Saya kemudian mendiskusikannya dengan Pak Sarju, sebagian pernyataan mereka itu dalam media kampanye membuat geli, sebagian lainnya membuat kita berpikir, “siape elu?”

Apa esensi mencantumkan nama besar seseorang selain demi menarik perhatian. Padahal, apakah attitude, visi misi dan kekokohan individu untuk memperjuangkan aspirasi rakyat sama dengan nama-nama yang “dilampirkannya” dalam pola kampanye tersebut?

Saya merasa miris bahkan nama-nama itu bisa jadi mereka ambil untuk disertakan dalam perangkat kampanyenya tanpa izin. Ya..bagaimana mau izin, kalau semisal si pahlawan sudah almarhum.

Ini yang semestinya menjadi pelajaran mendasar bagi kita semua ketika menjalankan peran kemanusiaan kita dalam profesi apapun. Bahwa kita sejatinya dinilai dari apa yang kita lakukan. Kita dinilai dari apa yang kita perjuangkan. Kita juga dinilai dari bagaimana kita bisa berdiri di kaki sendiri dan memiliki prinsip-prinsip kokoh yang mencerminkan kepribadian kita sesungguhnya.

You stand on your own.

Tidak perlu kita membawa-bawa nama besar siapapun.

“OJO KEKUDUNG WELULANG MACAN”!

Karena kebesaran tersebut pun bisa kita dapatkan dengan apa yang kita lakukan secara baik.

Saya juga berharap besar dari Pemilihan Presiden yang telah kita lalui bersama. Bahwa Presiden Republik Indonesia yang akan datang, benar-benar Presiden yang tidak “Kekudung Welulang Macan”. Presiden yang memiliki prinsip-prinsip yang kokoh tanpa perlu membawa nama besar dan pencitraan apapun. Presiden yang merdeka dan berdikari dalam membuat kebijakan tanpa pesanan dari siapapun, meski itu partai yang mengusungnya. Partai yang mungkin selama ini menjadi “welulang macannya”. Karena ketika ia menjadi Presiden, maka negara yang mempercayainya. Ketika ia menjadi Presiden. Rakyat yang menentukannya, bukan partainya. Maka tanggungjawabnya adalah kepada rakyat.

Pertama kali diposting pada Bulan Maret 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.