Ferdian Adi

Jurnal Makna dan Inspirasi
mengakhiri kejombloan

Mengakhiri Kejombloan

Pada bulan-bulan yang saya lewati tahun 2013 saya sudah bolak-balik Jakarta dan Bandung. Bahkan Bali sudah seperti rumah kedua jika 4 bulan terakhir di penghujung tahun sudah tiba. Hampir tiap minggu kesana karena urusan kerja. September 2103 yang lalu saya diberikan kesempatan juga sampai di Lombok untuk kali pertama. Alhamdulillah.

Pagi sekitar pukul 06.10, hari Sabtu 4 Januari 2014, saya tiba di Stasiun Bandung. Ini perjalanan saya yang pertama keluar Yogyakarta di tahun yang baru. Bukan bekerja, tetapi saya juga mewakili rekan-rekan kerja. Salah satu rekan kerja di kantor cabang Bandung pada hari ini memutuskan untuk mengakhiri kesendiriannya dan telah menerima pinangan lelaki yang dipilihkan Alloh untuknya. Selamat sekali lagi ya Teh Fanny Farhannah, Baarokallohu. Siapa tahu dikau membaca tulisanku ini. Maaf aku datang sendiri karena agenda di Yogyakarta sungguhlah padat untuk rekan-rekan kita yang lain.

Saya disambut Yopi, rekan yang mengelola kantor cabang Bandung. Bersama-sama kami akan berangkat untuk menghadiri resepsi tersebut. Sampai dilokasi, kami disambut lagu romantis Yovie and Nuno yang dibawakan secara akustik oleh band penghibur dalam resesi tersebut.

“Dengarkanlah, wanita pujaanku
Siang ini akan kusampaikan (siang kata penyanyinya? Haha, ceritanya merubah lagu dia)
Janji suci..satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini…
Aku ingin…mempersuntingmu, tuk yang pertama..dan terakhir..”

Hehe. Romantis kan. Cuma memang pernikahan tidak hanya bisa disikapi sisi romantisisme seperti masa pacaran berdua saja.

Baca Juga: Wis Bathi Durung?

Saya jadi teringat Oktober 2008 silam, saat saya membuat salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya. Mengakhiri kejombloan. Duhai pembaca, salah nggak sih alasannya begitu…hehe.

Bersyukur saya sepenuh jiwa ada wanita yang mau menerima saya apa adanya. Dengan segala kekurangan yang saya miliki, dia masih dengan sedemikian rupa dan luar biasa mendampingi saya selama 5 tahun terakhir. Memberikan saya kebahagiaan tiada tara dengan hadirnya bocah-bocah lelaki tampan yang jumlahnya dua itu.

Alasan saya menikah salah satunya adalah menyeimbangkan jiwa, kalimat yang lebih keren dikit dari mengakhiri kejombloan. Kalau alasan normatif sebagai umat Muhammad SAW yang memenuhi sunnah, itu sudah semestinya.

Menikah juga semakin memperjelas cara kita memetakan tujuan. Mencapai sesuatu yang kita inginkan. Kadang jika sendiri ada ketidakyakinan. Tetapi saat berdua kita saling menguatkan, mengingatkan dan bahkan lebih menghidupkan impian-impian bersama.

Menikah adalah proses belajar tanpa henti bagi kita dan kekasih tercinta. Jangan katakan anda yang terbaik untuknya jika merasa lebih dari pasangan anda dan pasangan anda yang harus menuruti semua pendapat dan keinginan anda. Mendidik pasangan, sejatinya adalah bagaimana anda bisa mendidik diri anda sendiri. Pun saya terus merevisi diri saya sendiri jika ternyata dalam perjalananannya saya masih harus banyak belajar dan mendidik diri.

Menikah juga telah memberikan kesadaran yang nyata bagi kita tentang pengorbanan dan keikhlasan yang nyata untuk berkorban. Seperti halnya kenaifan saya bicara tentang pengorbanan dan keikhlasan saat belum menikah. Ketika hidup kita sejatinya bukan untuk kebahagiaan kita pribadi, bukan untuk kesenangan-kesenangan kita sendiri. Inilah kebenaran cinta, cinta yang nyata. Cinta yang menjadi alasan untuk menjadi lebih kuat setiap hari. Disinilah keseimbangan jiwa tercipta bagi saya. Mengikis keakuan.

Saya tidak ingin bicara panjang lebar mengenai teori menikah. Karena setiap yang menikah memiliki teori dan membuat teorinya sendiri dengan segala dinamika yang dialami. Tulisan ini adalah refleksi, saat tadi saya terdiam sesaat menghikmati betapa agungnya janji suci yang diucapkan. Janji suci yang seharusnya diucapkan penuh kesadaran bahwa tanggungjawab itu sedemikian besarnya sebagai amanah yang harus dijaga. Memiliki istri ataupun memiliki suami.

Anda sudah menikah? Silahkan tuliskan apa yang membuat anda memutuskan menikah dan refleksi anda tentang pernikahan di komentar untuk memperkaya tulisan saya. Anda belum menikah? Anda bisa tuliskan harapan anda. Anda juga bisa tuliskan, apa alasan anda ingin menikah? Dan saran saya AKHIRI KEJOMBLOAN ANDA! 😀

Pertama kali diposting pada 4 Januari 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.